Moral dan Agama: Logika Kacau LGBT

handsloveKetika saya memposting tema LGBT ke grup medsos, adik saya langsung membalas, “Di kantorku juga ada A, lima orang!” Saya hanya bisa beristighfar. Saat bertemu offline, adik saya langsung bercerita bagaimana kelima rekan kerjanya yang gay itu menjalankan hidup dan berbaur dengan sesama rekan kerja lain yang normal, dengan tenang. Tak ada lagi perasaan risih, malu apalagi terkucil.

Memang ada perubahan sosial yang dirasakan dan dilakukan oleh para penganut LGBT. Mereka lebih berani dan lebih merasa mantap dengan pilihan hidupnya. Mereka juga tidak canggung apalagi takut menyatakan dirinya sebagai gay.

Kaum LGBT memang tengah melakukan revolusi sosial di tengah masyarakat. Dulu, di Barat seorang pria akan malu bila dikata-katai ‘fagot’ atau seorang cewek disebut ‘queer’. Itu adalah dua kosa kata hinaan bagi gay dan lesbian. Tapi belakangan mereka justru tidak ambil pusing lagi, justru itu menjadi entitas mereka. Tidak ada gay yang malu diledek fagot, atau lesbian disebut queer. Prinsip mereka; emang gue fagot, emang gue queer, masbuloh???!

Apa yang membuat para penganut LGBT hari ini begitu pede menjalani hidup?

Jawabannya karena dukungan yang diberikan kepada komunitas ini makin berlimpah, mulai dari warung kopi Starbucks, layanan pesan LINE sampai negara-negara Barat terutama AS juga PBB. Ban Ki Moon, Sekjen PBB sudah menyatakan akan mendukung komunitas LGBT dunia. Nah!

Tapi bukan hanya soal dukungan negara-negara liberal dan neoimperialis yang membuat kaum LGBT ini merasa tenang menjalani hidup, tapi juga karena mereka memang merasa benar dengan pilihan mereka. Kalau orang sudah merasa benar, maka tak ada lagi yang bisa membuat mereka surut dari pilihan yang sudah diambil.

Bicara soal ‘kebenaran’ yang mereka yakini, ada dua faktor yang membuat mereka yakin dengan keadaan mereka sekarang; pertama, soal moral. Kedua, soal agama. Dua hal yang secara logis sebenarnya bisa mengerem penyimpangan perilaku seseorang, justru kini menjadi pembenaran penyimpangan tersebut.

Bagaimana bisa?

Ya bisa saja, karena moral itu sesuatu yang elastis. Bisa ditarik dan diulur. Setiap orang, komunitas, negara bisa menarik dan mengulur batasan moral. Dulu cipika-cipiki pelajar perempuan dengan lelaki sudah pasti kena marah besar, tapi sekarang kita bisa lihat anak sekolah enteng saja melakukan hal itu dengan siapa saja, entah kawannya atau pacarnya.

Dulu pejabat masih berpikir panjang kalau keluar rumah pakai mobil mewah. Takut dituduh hasil korupsi dan malu pada rakyat miskin. Tapi sekarang banyak pejabat, istri pejabat, anak pejabat yang cuek saja pakai mobil atau motor mewah di jalan raya. Sekalipun itu semua memang benar didapat dari hasil KKN mereka juga nggak ambil pusing. Masbuloh! Pikir mereka.

Itulah realita moral. Tak ada yang ajeg atau permanen. Selalu berubah dan siapa saja merasa berhak menafsirkan moral baik atau moral buruk.

Seorang lelaki yang jatuh cinta dengan sesama lelaki lalu melakukan (maaf) anal seks, percaya diri kalau itu bukan tindakan amoral. We are hurting no one! Toh gue nggak menyakiti siapapun. Emang ada yang dirugikan kalau gue jadi gay atau lesbian?

Maka saya tersenyum getir ketika membaca artikel testimoni seorang anak muda yang memilih jadi gay dan merasa itu bukan tindakan amoral. Anak muda itu meyakinkan ibunya yang menangis sedih karena tahu anaknya gay, bahwa dia tetap seperti yang dulu dan tidak akan berbuat amoral.

Kemudian saya membaca lagi artikel hingar bingar komunitas gay Jakarta di sebuah klub malam. Dugem, tari striptease, peluk cium, dan bergelas-gelas juga berbotol-botol minuman keras beredar di sana. Ini yang namanya bermoral?

Sulit menakar bobot moral. Seorang gay, lesbian, transgender, pelaku incest, sado masochis (seks dengan kekerasan), yakin perbuatan mereka tidak salah. Bermoral. Hari ini masyarakat mengatakan ‘saya bermoral’ biasanya karena tidak mengganggu atau menyakiti orang lain. Singkatnya, moral memang tidak bisa dijadikan ukuran apakah seseorang itu benar atau salah karena setiap orang merasa berhak menafsirkan perbuatannya sendiri tanpa mau peduli dengan pandangan orang lain, juga agama.

Lalu tadi ditulis agama juga membuat kaum LGBT yakin dengan pilihannya? Bagaimana ceritanya?

Itu juga bisa terjadi. Saat seorang muslim berpikir kalau agama itu sebatas hubungan pribadi dengan Tuhan (Allah SWT.), dia akan merasa cukup dengan ibadah saja, tidak mau lagi peduli dengan hukum-hukum lain yang diajarkan agama, yang penting ibadah dijalankan.

Bagi mereka agama itu personal an sich. Tidak masuk ke ranah pergaulan, orientasi seksual, pernikahan apalagi perekonomian dan politik. Perilaku ini dunia menyebutnya sebagai sekuler, memisahkan agama dari kehidupan.

Muslim yang sudah tersekulerisasi akan bilang; sebagai gay, toh kami tetap beribadah, tetap ingat Tuhan, kami juga ingin umroh dan naik haji. Semua sama kok di mata Tuhan.

Sebagian muslim – dan menyatakan dirinya cendekiawan muslim –mengadvokasi cara berpikir seperti itu, bahkan menyindir; masak Tuhan ngurusin masalah seks? Nggak level dong! Begitu celoteh mereka.

Michael McMonagle, president of the Montco Pro-Life Coalition speaks to the media before holding a pray-in to protest the county issuing marriage license to same-sex couples July 26. Photo by GENE WALSH

Mari saatnya berpikir lempeng, bray!

LGBT secara ilmiah sudah terbantahkan bahwa tak ada kaitannya dengan faktor genetis. Kalau memang benar being a gay or lesbian karena faktor genetik, lah kenapa kalian bisa lahir ke dunia? Harusnya jalur keturunan kalian terputus karena di antara leluhur kalian pasti ada yang gay dan lesbian.

Adanya kecenderungan dalam diri tertarik pada sesama jenis itu bisa dirasakan siapa saja, tapi bukan berarti tak bisa dialihkan atau dihilangkan. Itu tidak membuktikan bahwa kalian sudah pasti 100 persen gay atau lesbian. Sama seperti orang bernafsu untuk membunuh orang lain bukan berarti dia sudah ditakdirkan menjadi manusia dengan bakat pembunuh dan tak bisa sembuh.

Dorongan seksual bisa dilampiaskan pada siapa saja bahkan apa saja dan dengan cara apa saja.  Bila cara berpikir seperti itu harus dibenarkan, apakah kalian siap menerima perilaku incest? Bagaimana juga dengan ekshibisionis, necrofil, pedofil, beastially, sadomasokis, apakah juga berarti harus diterima oleh khalayak dan dilegalkan secara konstitusional? Hanya karena person yang bersangkutan merasa dirinya punya kecenderungan ke arah sana.

Mereka juga bisa mengatakan kalau perbuatannya tidaklah amoral (karena dilakukan suka sama suka), dan mereka juga bisa berkelakuan baik pada orang lain dan rajin ibadah.

Kalian bisa bilang kalau perilaku yang dituliskan di atas adalah penyimpangan seksual, sedangkan LGBT bukan. Dulunya LGBT masuk kategori penyimpangan seksual, tapi kemudian dicabut. Nah, bukan nggak mungkin apa yang hari ini disebut penyimpangan besok hari juga tidak dikatakan bukan penyimpangan, tapi kewajaran. Karena atas dasar apa suatu perilaku dikatakan menyimpang atau tidak, kan mudah direkayasa dan dibuat seolah ilmiah.

Berpikir lurus bray!

Kalau kamu masih manusia, apa tidak malu pada hewan? Tidak ada LGBT pada dunia hewan, lalu mengapa manusia melakukannya? Argumen-argumen kalian sudah banyak dipatahkan. Tinggal satu yang belum; hawa nafsu dan ego kalian. Dua hal ini yang membuat kalian tetap pede kalian itu benar, persis seperti Westerling membantai ratusan ribu warga Sulawesi, dia merasa tindakannya benar. Atau seperti Jack The Ripper yang memutilasi para pelacur, dia juga merasa benar.

Itu semua adalah mindgames. Permainan perasaan. Dan yang namanya perasaan bila dituruti terus maka tak pernah ada puasnya dan selalu merasa benar sendiri.

Berpikir jernih, bray!

Kalau kalian menjadi gay itu tidak merugikan, apakah kalian belum pernah mendengar kalau anal seks menjadi salah satu penyebab kanker anus yang mematikan?

Bukankah dengan menjadi gay dan lesbian berarti memotong mata rantai kelahiran umat manusia? Termasuk garis keturunan kalian? Itu tidak merugikan kalian tapi mengancam masa depan umat manusia.

Berpikir dengan iman, bray!

Bila kalian muslim, lalu mengapa tidak percaya pada al-Quran dan Sunnah? Mengapa lebih percaya pada konselor, psikolog dan teori-teori kejiwaan buatan nafsu manusia? Dimana letak kemusliman kalian?

Ketika kalian bilang tetap menyembah Tuhan, tetap shalat, membaca alQuran, puasa dan sebagainya, sebenarnya kalian tidak benar-benar menyembah Tuhan, tapi kalianlah sesungguhnya tengah memaksa Tuhan menyembah kalian. Karena hanya sedikit perintah Tuhan yang kalian turuti, dan lebih banyak memaksa Tuhan untuk menuruti kalian.

Mungkin kalian merasa benar dengan tindakan kalian, tapi Allah SWT. jauh lebih tahu nilai kebenaran ketimbang hamba-hambaNya.

Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (TQS. Faathir: 8)

 

Melihat sikap kalian, kita jadi ternganga heran; memang siapa yang jadi Tuhan? Kalian atau Allah? Kenapa jadi kalian yang mengatur-atur Tuhan?

Sudahlah, kebenaran itu milik Allah bukan otak-atik moral dan ilmu kejiwaan ala manusia. Allah Mahatahu yang terbaik untuk umat manusia. Kembalilah ke jalan Allah, ke pangkuan Islam.

 

One Comment

Iwan Januar

Pemahaman agama tidak subyektif bila ditunjukkan langsung oleh teks/nash al-Quran dan as-Sunnah. Seperti haramnya liwath/homoseksual penunjukkan teks dalam hadits sudah jelas tak ada penafsiran lain. Saran saya baiknya mengkaji agama Islam lebih dalam lagi sehingga paham cara memahami agama dengan benar. Semoga ALlah memberikan taufiq dan hidayah pada Anda.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.