Ketaatan vs Kemakmuran

burj-khalifaApa yang Anda bayangkan saat Anda melihat Burj Khalifah? Atau mungkin anda pernah mendatanginya? Atau pernah mondar-mandir mengelilingi Dubai Mall yang memiliki 1200 toko?

Orang dipastikan berdecak kagum melihat kemegahan gedung-gedung di Uni Emirat Arab. Selain Abu Dhabi yang merupakan jantung pemerintahan UEA, kota Dubai juga begitu eksotis. Simbol kemapanan, kemegahan dan kesukesan pemerintah Uni Emirat Arab.

Abu Dhabi dan Dubai sudah bersaing dengan kota-kota besar dunia seperti Tokyo, London, Paris, Milan dan Roma. Jutaan turis setiap tahun mendatangi kawasan Timur Tengah yang jelas bagian dari tanah air kaum muslimin.

Dubai yang eksotik dan glamor bisa jadi dipandang sebagai tolak ukur keberhasilan pemerintah UEA. Umumnya secara gampang orang menilai keberhasilan orang lain dan sebuah pemerintahan adalah dari kemakmuran. Ketika pendapatan perkapita suatu negara meningkat, roda pembangunan berjalan kencang, masyarakat cinta ketertiban dan kedisplinan, dengan mudah akan disimpulkan kepemimpinan dan sistem pemerintahan yang diterapkan berhasil.

Sebutlah Cina dan Korea Selatan yang terus menjadi inspirasi kebangkitan negara-negara di Asia setelah Jepang. Kedua negara itu berhasil meningkatkan daya saing perekonomiannya di dunia. Bahkan AS pun kelimpungan menghadapi serangan tiga ‘negara kuning’ itu; Jepang, Cina dan Korsel. Terutama Cina yang puluhan tahun mengurung diri dalam tirai bambunya, saat membuka diri langsung melejit menjadi salah satu macan Asia bahkan macan dunia.

James Kynge, seorang jurnalis senior yang bertahun-tahun menganalisa perekonomian negeri Tiongkok mendapatkan fakta mencengangkan, diantaranya bahwa Cina adalah negara dengan cadangan devisa terbesar di dunia mencapai US$ 1 triliun lebih!

Suasana seperti itu yang juga sering kita tangkap di tanah air. Ketika seorang kepala daerah berhasil memakmurkan warganya, menata daerahnya menjadi lebih tertib, maka para pendukungnya akan melabelinya sebagai pemimpin yang berhasil. Tidak pandang apakah ia berasal dari partai Islam atau nasionalis-sekuler.

Namun apakah kemakmuran dan segala kemajuan perekonomian adalah tolak ukur yang paling utama, bahkan fundamental (asasiyyah)? Sehingga kemudian kaum muslimin bisa membenarkan kepemimpinan dan sistem yang diberlakukan olehnya?

 

Cara Pandang

Sesungguhnya setiap umat memiliki cara pandang tersendiri dalam menilai sesuatu. Umat Nasrani dan Yahudi misalnya memiliki cara pandang sendiri tentang kehidupan. Ideologi Sosialisme-Komunisme juga Kapitalisme-Liberalisme juga punya world-view tersendiri bagi pemeluknya, termasuk dalam menilai sebuah keberhasilan.

Bagaimana dengan umat Islam? Jelas punya wajib untuk ditaati. Salah satu misi kedatangan Rasulullah SAW. adalah mengubah cara pandang manusia tentang kehidupan dan hubungannya dengan Sang Maha Pencipta (al-Khaliq).

Parameter keberhasilan suatu kepemimpinan juga bagian integral dalam ajaran Islam. Ukurannya jelas yaitu ketaatan kepada Allah SWT. dalam bentuk melaksanakan syariat Islam ketika ia mengatur urusan masyarakat. Bukan dikatakan seorang pemimpin yang berhasil bila syariat Islam abaikan, meski mungkin ia sukses mencetak kemakmuran.

Allah SWT. mengingatkan kita agar jangan tertipu dengan keberhasilan semu, yaitu kemakmuran duniawi yang didapat dengan mengorbankan ketaatan kepada Allah SWT. karena hal itu akan berujung pada kesengsaraan belaka. Firman Allah:

 

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (TQS. Al-Isra [17]: 16)

 

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (TQS. Al-An’am [6]: 44)

 

Rasulullah SAW. juga bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ{

Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanyalah istidraj belaka, lalu Rasulullah membaca: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al An’am: 44). (HR. Ahmad No. 17311).

Dubai-Madness-super-car-traffic-jam

Mata umat seringkali terpesona melihat kemegahan Barat maupun Timur dalam hal kemakmuran materiil. Kemudian mereka memuja ideologi negara-negara tersebut. Sebagian dari umat malah ada yang menyalahkan Islam sebagai penghambat kemajuan, sebagian lagi mengatakan Islam sudah usang untuk dijadikan sistem kehidupan.

Sayangnya, hal ini juga mempedaya sebagian aktivis dakwah. Mereka merasa bahwa pemimpin yang mereka pilih adalah pemimpin yang berhasil, diridloi Allah, sekedar lewat ukuran-ukuran kemakmuran tadi. Padahal para pemimpin itu justru banyak menelantarkan hukum-hukum Allah SWT.

Ada juga yang memuji para pemimpin itu sebagai Islami karena sebagian kecil amalannya seperti hafal al-Quran, rajin shalat berjamaah, tidak mendirikan mesjid di atas kuburan, tidak membiarkan praktek syrik dan bid’ah, atau gemar bersedekah. Sementara di sisi lain mereka misalnya para pemimpin Arab tetap mendiamkan agresi militer Israel ke wilayah Palestina, membisu pada aksi kekejaman Presiden Bashar Assad, bekerjasama dengan negara agressor seperti AS dan Inggris, bahkan juga dengan Israel.

Cara pandang serupa juga terjadi di tanah air, khususnya dalam menilai kepala daerah muslim. Keberhasilan para pemimpin itu dalam pandangan pengikutnya lagi-lagi bertumpu pada kemakmuran dan sebagian kecil amal Islami seperti hafal dan rajin membaca al-Quran, shalat berjamaah, gemar bersedekah, dll.

Padahal di daerah tempat mereka berkuasa berbagai kemungkaran terus berlangsung seperti masih beroperasinya tempat hiburan malam yang menjual minuman keras, prostitusi, perzinaan, praktek perbankan ribawi, dll. Begitupula akidah dan akhlak umat tidak terlindungi karena masih eksisnya berbagai ajaran sesat dan kerusakan moral dimana-mana.

Seharusnya kita menilai keberhasilan seorang pemimpin adalah tingkat ketaatan ia pada Allah secara komprehensif. Pemimpin yang baik bukan sekedar saleh secara personal, tapi ia menciptakan suasana taat kepada Allah secara kaffah. Ia mengurus rakyatnya dengan landasan iman dan syariat Islam.

Tidak ada artinya di hadapan Allah meski ia berhasil memakmurkan rakyatnya tetapi dengan dana pembangunan yang berasal dari riba atau pajak, atau dari keuntungan muamalah yang haram.

dubai foreign

Kalau sekedar untuk membangun kemajuan materiil seperti pembangunan infrastruktur, maka tidak perlu susah-susah mencari pemimpin yang rajin shalat atau hafal al-Quran, seorang pemimpin sekuler bahkan ateis bisa melakukannya. Tidak perlu juga parpol Islam untuk itu, karena parpol sekuler bahkan partai komunis bisa melakukan lebih dari itu.

Kualifikasi seorang pemimpin muslim dibutuhkan karena ketaatannya pada syariat Islam. Ketaatannya itulah yang akan membuat dia menjaga rakyatnya untuk taat pula kepada Allah.

Bila hanya kemakmuran yang menjadi tolak ukur keberhasilan kepemimpinan, berarti para pemimpin Barat dan Timur yang menerapkan aturan kufur seperti Sosialisme dan Kapitalisme jauh mengalahkan Islam. Negara-negara Barat dan Timur seperti AS, Inggris, Jerman, Cina, Korsel dan Jepang, jauh melampaui kemakmuran negeri-negeri Islam seperti Indonesia, Arab Saudi atau Turki.

Maka, jangan korbankan ketaatan untuk mengejar kemakmuran. Juga jangan membanggakan kemakmuran yang dibangun dengan cara yang haram. Di UEA termasuk di Dubai, berbagai tempat kemaksiatan seperti kasino dan minuman keras bertebaran dimana-mana. Itu bukanlah keberhasilan, tapi kemungkaran besar.

Hari ini umat membutuhkan pemimpin yang taat, bukan sekedar pemimpin yang beragama Islam, juga bukan pemimpin yang menyimpan kesalehan pribadi tapi membiarkan kemungkaran bertebaran di wilayah kekuasannya.

Ketaatanlah yang akan mendatangkan keberkahan, dan keberkahan itu nilainya melampaui kemakmuran materi. Ketaatan seorang pemimpin terwujud dari sistem dan kebijakan yang ia gunakan semuanya berasal dari hukum-hukum Allah SWT.

 

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(TQS. Al-A’raf [7]: 96)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.