5 Tips Hadapi Ancaman Futur Dakwah Pasca Menikah

pasangan muslim“Mas fulan kemana, ya? Kok setelah menikah tak pernah keliatan lagi?”

“Sayang ya, mbak fulanah nggak pernah datang lagi ke majlis kita. Katanya sekarang sibuk ngurus suami dan anak-anak.”

Menikah menjadi salah satu impian aktivis dakwah. Dengan menikah seorang muslim mendapatkan separuh agamanya. Punya seorang sahabat sejati untuk berbagi, saling menopang, saling menunjang. Sebab itulah banyak aktivis dakwah yang begitu mendamba menikah, bahkan di usia muda.

Tapi bagaimana kalau pernikahan justru menjadi penyebab seorang aktivis dakwah  — ikhwan maupun akhwat – futur berdakwah? Usai berdakwah malah kaki kian sulit melangkah ke majlis dakwah? Jangankan berkhutbah atau mengontak tokoh, kajian mingguan pun mulai tertatih-tatih datang. Malah berikutnya tak pernah tampak lagi berkumpul bersama sahabat seperjuangan.

Sadari Bahayanya

Sebagian ikhwan maupun akhwat kurang menyadari apa bahaya serius yang terjadi bila futur berdakwah dan hidup berjamaah. Ini mungkin terjadi karena mungkin sejak awal kehadirannya dalam dakwah belum dengan kesadaran penuh. Bisa karena sekedar senang berorganisasi, mendapatkan ilmu, atau aktualisasi diri dengan bertemu banyak orang dan berceramah. Pada diri aktivis dakwah model ini belum mengkristal bahwa dakwah adalah tugas mulia, menentukan status diri di hadapan Allah, dan menentukan kehidupan umat.

Aktivis semacam ini ibarat angin sepoi yang berhembus hanya sejenak. Kehadirannya sulit bertahan lama. Ia masih bisa bertahan saat masih kumpul bersama kawan-kawan seperjuangan, tapi mudah futur saat ada tarikan yang lebih kuat, seperti kesibukan rumah tangga dan nafkah. Saat godaan datang mereka pun hengkang.

Saatnya menyadari bahwa saat kita terlepas dari jamaah dakwah maka jauh lebih mudah untuk terlepas dari simpul-simpul keislaman. Nabi SAW. bersabda:

« لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ »

Sungguh akan terurai simpul-simpul Islam satu demi satu, maka setiap satu simpul terurai, orang-orang akan bergelantungan pada simpul yang berikutnya (yang tersisa). Simpul yang pertama kali terurai adalah kekuasaan (pemerintahan) sedang yang paling akhir terurai adalah shalat. (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Al Hakim).

Kawan-kawan seperjuangan memang bukan malaikat. Mereka bisa keliru dan salah, tapi hidup dalam berjamaah lebih mudah untuk saling mengingatkan. Selalu ada di antara kawan-kawan kita yang lebih peka perasaannya dan lebih sayang pada sesama sehingga mau meri’ayah saudaranya.

Namun manakala kita terpisah dari kawan-kawan seperjuangan, siapakah yang sanggup melakukan itu? Ditambah lagi bila pasangan pun bukan orang yang sepemahaman, apalagi bila malah berseberangan pemikiran. Wal iyyadzu billah.

Bukan satu dua cerita, mereka yang kemudian tercerai dari kehidupan dakwah berjamaah kemudian mudah terjerembab dalam perbuatan haram. Ikhtilat terlarang dengan lawan jenis, muamalah ribawi, dsb.

Berikut ini sejumlah tips menghindari futur dakwah pasca menikah:

 Dawah-to-muslim-husband-660x300

1. Saling mengingatkan dengan pasangan

Tidak ada orang yang bisa begitu dekat dan mudah untuk mengingatkan kita melainkan pasangan. Suami berkewajiban mengingatkan istri bahwa selain wajib menunaikan perintah Allah di rumah tangga, seorang muslimah juga punya kewajiban untuk menyampaikan dakwah di tengah umat.

Demikian pula sebaliknya istri jangan merasa bosan dan lelah mengingatkan suami akan kewajiban berdakwah bersama jamaah. Selain ada kewajiban mencari nafkah dan membina rumah tangga, seorang (pria) muslim memiliki amanah dari Allah untuk menegakkan kalimatullah. Apalagi di medan dakwah seorang muslim memiliki ruang gerak yang lebih leluasa ketimbang seorang muslimah.

Saat diingatkan maka berusahalah menerimanya berusahalah menerimanya dengan ikhlas dan sadar akan kewajiban yang mulia ini. Sebagaimana kita sadar akan wajibnya shalat lima waktu, shaum Ramadhan, dll. Petaka justru dimulai saat diri kita menutup telinga dan hati dari nasihat pasangan.

 

ruuormas

2. Hadiri Momen-Momen Dakwah

Ikatan perasaan kita dengan siapapun, termasuk dengan jamaah dakwah, amat ditentukan oleh frekuensi pertemuan. Semakin sering kita bertemu maka semakin kuat kohesi atau ikatan dengan kawan-kawan seperjuangan. Semakin jarang kita bertemu maka ikatan itu akan melemah lalu mati.

Maka, berusahalah untuk senantiasa menghadiri kegiatan jamaah dakwah sekecil apapun meski sekedar agenda buka shaum, mengunjungi kelahiran anak kawan seperjuangan, dsb.

Memang setelah menikah siapapun wajib meluangkan waktunya bersama keluarga. Mereka memang punya hak yang wajib ditunaikan. Namun bukan berarti kemudian kita surut dari berbagai momen dakwah. Bila kita bisa mengajak pasangan rihlah ke tempat makan, atau berbelanja ke pasar, maka insya Allah kita pun bisa mengajak pasangan menuju acara-acara dakwah. Di sanalah syu’ur jama’iy akan senantiasa terjaga.

Munculkanlah perasaan cinta dan rindu berkumpul bersama kawan-kawan seperjuangan. Temui mereka dengan wajah berseri, salami dengan tangan yang kuat, dan rangkul kawan lama yang jarang bersua. Itulah ukhuwah Islamiyyah.

Suatu ketika Nabi SAW. bersabda, “Sesungguhnya dari hamba-hamba Kami ada sekelompok manusia, mereka itu bukan para Nabi dan bukan para syuhada’. Para Nabi dan syuhada’ merasa cemburu kepada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah di hari kiamat.” Para sahabat bertanya: “ Siapakah mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena Allah padahal tidak ada hubungan persaudaraan (saudara sedarah) antara mereka, dan tidak ada hubungan harta (waris), Maka demi Allah sesungguhnya wajah-wajah mereka bagaikan cahaya, dan sesungguhnya mereka di atas cahaya, mereka tidak takut ketika manusia merasa takut, dan tidak pula sedih ketika manusia sedih,” kemudian beliau membaca ayat ini: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [QS Yunus, 10: 62]. (HR Abu Dawud, no: 3060)

Mereka yang sering alpa dari berbagai pertemuan momen dakwah, bisa tidak menyadari hal ini, lambat laun akan terpental dari orbit dakwah. Tenggelam dalam kesibukan duniawi.

al-quran-2 3. Prioritas Dalam Skala Hukum Syara’

Mana yang harus didahulukan; pekerjaan atau berdakwah?

Bila keduanya bisa berjalan maka kerjakanlah keduanya. Menjadi seorang karyawan kantoran, atau pimpinan proyek bukan berarti harus profesional dalam arti tidak berdakwah. Seorang juru dakwah yang cerdik justru memanfaatkan setiap kesempatan menjadi ajang dakwah.

Sebagai karyawan kantoran Anda bisa aktif di DKM kantor, menjadi penggerak kegiatan pengajian di tempat kerja, mengkondisikan suasana kerja menjadi Islami, dsb. Resapilah kalimat hikmah dari para alim; nahnu du’at qobla kulli syai’…kita adalah para dai sebelum segala sesuatu.

Tapi manakala ada agenda dakwah yang sudah menjadi kewajiban, bukankah tak pantas meninggalkannya karena urusan dunia yang sebenarnya bisa ditinggalkan? Atau sekedar mengantarkan istri tersayang, atau si buah hati pergi berjalan-jalan?

Menjadi karyawan yang profesional, suami atau istri yang baik adalah kemestian, tapi semua kegiatan bisa dikelola dengan sebaik-baiknya. Ada hukum syara’ yang telah terinci mengingatkan semua. Dakwah tak boleh ditinggalkan karena perkara yang sebenarnya bisa kita selesaikan lain kesempatan, seperti halnya dakwah pun tak boleh menghalangi kewajiban suami dan istri dalam bidang kehidupan yang lain.

Kembalikanlah semua pada hukum syara’, bukan pada hawa nafsu kita.

Belum sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya tunduk kepada apa yang aku bawa. (al-Hadits,)

tokoh dunia munafik

4. Jangan Egois, Pikirkan Nasib Saudara Sesama Muslim

Seorang muslim bisa terlepas dari orbit dakwah karena merasa sudah nyaman dalam kehidupannya. Ia berada dalam comfort zone. Suami yang tampan dan mapan, atau istri yang cantik dan anak-anak yang lucu. Pekerjaan yang menjanjikan dan lingkungan rumah yang menyenangkan.

Dalam kondisi demikian, bila ia tak mawas diri maka mudah terjerembab dalam perangkap comfort zone duniawi, dan sulit lepas. Akhirnya dakwah pun menjadi tercecer, di sisa waktu, dan sekedar menunaikan kewajiban karena malu pada teman.

Bukalah mata dan hati kita, di luar rumah kita yang nyaman jutaan saudara-saudara kita terancam. Bumi Syams masih bergolak, jutaan muslim kelaparan, hilang tempat tinggal sebagian sudah meregang nyawa. Di tanah air kapitalisme-liberalisme terus mencengkramkan kuku beracunnya untuk membinasakan akidah umat. Bukan tak mungkin giliran berikutnya adalah anak keturunan kita. Maka, pantaskah jiwa merasa tenang dan tak pernah merasa gelisah?

Sesungguhnya Amirul Mukminin Umar bin Khaththab juga Umar bin Abdul Aziz hampir setiap malam menangis memikirkan nasib umat, padahal Umar bin Khaththab adalah orang yang sudah dinyatakan Rasulullah SAW. sebagai penghuni jannah. Lihatlah diri kita, timbanglah amal kita dengan sayyidina Umar. Pantaskah kita terlena dan tak memikirkan dan memperjuangkan nasib sesama muslim?

Bagi Allah amat mudah menghilangkan kepemilikan dan kecintaan seorang hamba pada dunianya. Tak perlu waktu lama, sekejap bisa Allah lakukan semuanya.

“Katakan (wahai Muhammad) apabila bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluarga besarmu, harta yang kamu cari, perdagangan yang kamu khawatir kebangkrutannya dan rumah tinggal yang disenanginya, lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah:24)

menangis_shalat_02

5. Selalu Meminta Diberikan Kekuatan & Pilihan Terbaik

Tak ada manusia yang kuat, semuanya lemah. Tak ada manusia yang tahu semua perkara, hanya Allah yang sanggup seperti itu. Karenanya jangan pernah lupa meminta kemudahan dalam setiap urusan, dan pilihan terbaik dalam setiap persimpangan. Manakala memilih tempat tinggal, pekerjaan, sekolah bagi anak, maka jangan semata mengandalkan logika kita karena tak ada di antara kita yang tahu mana yang sebenarnya yang terbaik bagi diri kita. Mintalah kepada Allah keputusan yang terbaik dalam setiap urusan agar diri selalu ada bersama barisan orang-orang beriman. Ada doa yang diajarkan Baginda Nabi SAW. yang berisi permintaan kepada Allah agar selalu dipilihkan yang terbaik dalam kehidupan kita.
اَللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ، وَمِيْكَائِيْلَ، وَإِسْرَافِيْلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ. اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum (untuk memutuskan) (pada Hari Kiamat—red.) apa yang mereka pertentangkan (dari perkara agama di waktu di dunia—red.). Tunjukkanlah aku (teguhkanlah aku—red.) pada kebenaran (atasnya—red.) apa yang diper-debatkan dengan seizin dari-Mu (dengan taufik dan kemudahan dari-Mu—red.). Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus (jalan kebenaran dan keadilan—red.) bagi orang yang Engkau kehendaki.”

 

Incoming search terms:

  • futur setelah nikah

2 Comments

ridwan Comment Author IWAN JANUAR

artikel yang bgus tadz,, saya senang baca tulisan ust,, izin share mau naya,, temen pernah bilang katanya suami istrinya sibuk dakwah anak sampe kucel gak ke urus pendapat ust?

Reply
Iwan Januar Comment Author IWAN JANUAR

Suami istri yang baik, pasti menjaga keluarganya dengan baik-baik juga. Kalau sampai anak-anaknya tidak terawat berarti masih belum baik. Ada yang perlu diperbaiki. Syukron sudah mampir ke situs saya.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *