Drama Hari Rabu

Father and son conversing during countryside walk.

Father and son conversing during countryside walk.

Hari itu, Rabu 9 Maret, saya dibuat galau dan dalam tekanan. Pagi hari terjadual mengisi khutbah shalat gerhana matahari, lalu siangnya mengisi dauroh untuk beberapa kawan di Bogor. Bukan soal khutbah maupun dauroh yang membuat saya merasa under pressure, tapi hari itu pula jadual istri saya harus diterapi di rumah pengobatan. Sementara tak ada yang bisa mengantar.

Kegalauan saya sebenarnya sudah menjalar ketika istri saya mengatakan hari Rabu adalah ia membuat kesepakatan dengan terapisnya untuk menjalani pengobatan. Saya segera meminta panitia dauroh untuk mengubah jadual. Sayang tak bisa. Panitia sudah menyebar undangan ke unit untuk hadir sesuai skedul.

Andai gangguan kondisi istri saya fit betul, saya mungkin tak khawatir melepasnya naik motor sendirian sejauh 15 km lebih ke rumah pengobatan, tapi sudah beberapa hari kondisinya menurun. Termasuk pada malam Rabu ia sudah pucat dan lemas. Saya pun galau.

Satu-satunya yang bisa diandalkan kemudian adalah anak pertama saya, Fathan. Anak SMP kelas 9 yang sudah beranjak bujang ini diminta ibunya untuk mengantar. Dengan pertimbangan ia sudah cukup trampil mengendarai motor maka ia bisa mengantar bundanya ke lokasi pengobatan.

Tapi hari itu ada jadual pertemuan di sekolahnya. Ada pengumuman dari sekolah yang hari itu disampaikan kepada para siswa. Dengan wajah keberatan, anak pertama saya menyampaikan kabar pertemuan di sekolah. Mudahnya, ia menolak meski dengan halus.

Usai shalat gerhana saya memintanya sekali lagi untuk mengantarkan bundanya. Ia bingung. Saya pribadi tak senang memojokkannya. Rasanya bukan waktunya lagi saya berdialog ala komandan pada anak yang sudah baligh. Memberinya perintah dan memarahinya. Tidak. Saya pikir masa itu sudah lewat. Saya ingin ia berangkat dengan kesadaran.

Saya pun paham ia sendiri gelisah. Galau. Antara mengantar bundanya yang sakit, atau berangkat ke sekolah. Mungkin ringan bagi saya untuk memutuskan hal seperti ini, tapi jadi suatu hal yang berat bagi seorang anak baru gede.

Di tengah kegalauan saya dan juga anak saya, saya berbicara padanya. Saya posisikan dia sebagai seorang dewasa, bukan lagi anak-anak.

“Nak, hidup ini selalu ada pilihan. Tapi sebagai muslim kita sudah diberikan petunjuk dalam memilih. Ada yang wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Amalan sunnah tidak bisa mengalahkan yang wajib, apalagi oleh yang mubah,” saya sampaikan hal ini karena kami memang sudah sering membahasnya dalam unofficial halaqoh di rumah kami.

“Di antara yang wajib ada yang lebih utama lagi, jadi kewajiban yang satu tidak bisa mengalahkan kewajiban yang lain yang nilainya lebih utama.” Saya tutup pembicaraan itu tanpa menyinggung kewajiban mengantar bundanya ke rumah pengobatan. Saya percaya ia cukup cerdas menangkap maksud pembicaraan saya.

Tapi drama itu belum selesai. Istri saya sudah bersiap berangkat, ia pun menolak tawaran saya mengantarnya. Pertimbangannya jadual saya sudah fix, panitia sudah alokasikan waktu dan peserta pasti datang on time. Kalau saya mengantarnya, bisa dipastikan saya akan terlambat datang ke acara. Walaupun saya tahu ia pasti ingin sekali saya yang mengantarnya. Tapi apa daya.

Saya mulai panik. Adik ipar saya mencoba membantu, ia siap mengantar, tapi istri saya bersikeras ingin berangkat sendiri. Motor sudah dinyalakan, bergerak menuju gerbang rumah. Mertua saya turun tangan. Saya masih berusaha meyakinkan kalau saya siap mengantar. Pagi itu benar-benar chaos.

“Biar Aa aja yang antar Mama,” tiba-tiba si sulung bicara. Ia sudah mengenakan jaket kesayangannya.

Saya mulai tenang. Finally… Perlahan saya sampaikan pada istri agar tidak berangkat sendiri. Biarkan si sulung mengantarnya ke rumah pengobatan. Emosi istri saya mulai reda. Ia pun mau diantar si sulung yang semula memilih acara sekolahnya.

Akhirnya mereka berdua berangkat. Saya tepuk bahu si sulung, “Yang ikhlas, ya A.”

Saya menarik nafas lega. Thank’s God. Alhamdulillah. PertolonganMu itu akhirnya datang juga.

* * * * * * * *

Sore harinya dalam suasana santai kami bertiga duduk kamar saya. Istri cerita kalau si sulung curhat ia galau menghadapi kejadian tadi pagi. Tepatnya ia menghadapi dilema; antara acara sekolah atau mengantar bundanya berobat.

Saya menarik nafas lega. Saya beruntung tidak mem-push-nya saat bicara tadi pagi. Saya tidak memaksanya apalagi menghardiknya, mesti saya tahu itu krusial dan hampir-hampir tak ada pilihan lain.

Hampir 16 tahun kami membesarkan si Sulung. Kami belajar untuk memahami kegalauan anak. Ya, kami juga masih belajar. Kami percaya setiap fase dalam kehidupan anak akan ada selalu yang baru untuk dipelajari. Bahkan ada titik kritis dimana jiwa anak butuh dimengerti. Ketika kita mendorongnya terlalu keras ia akan terjatuh dan bukannya berlari cepat. Ketika kita menekannya ia justru akan hancur. Dan banyak, amat banyak orang tua yang ceroboh tidak memahami kegalauan jiwa anaknya. Astaghfirullah.

 

NB: Dalam setiap sesi parenting saya selalu ingatkan pada diri saya pribadi dan peserta bahwa kehadiran kita dalam membimbing dan membesarkan anak bukanlah mengharapkan timbal balik atau balas budi. Berpikir bahwa suatu saat mereka akan ingat kebaikan orang tuanya lalu membalas dengan budi dan materi.

No. Kita hanya mengharap ridlo Allah SWT. Terlalu bila kita mengharap anak-anak membalas semua ‘biaya’ pendidikan yang telah kita berikan pada mereka. Hubungan kita dengan anak adalah cinta dan kasih sayang berlandaskan keimanan, bukan hubungan buruh dengan majikan.

Biarlah anak hidup dengan kehidupan mereka sendiri, dan mereka kelak juga akan dihadapkan oleh Allah dengan kesulitan hidup mereka sendiri.

Di antara tugas kita adalah mengingatkan bahwa Allah SWT. mewajibkan sejumlah hal, termasuk di antaranya berbakti pada orang tua, mendoakannya dan menyambung silaturahim dengan kerabat orang tua. Itu yang penting dan wajib kita sampaikan pada anak-anak. Agar mereka mengerjakan semuanya karena dorongan keimanan, bukan karena merasa dikejar-kejar hutang orang tuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *