Menginjak Sarang Semut

ant-in-actionParis berdarah. Hanya dalam hitungan menit ratusan warga di kota mode Paris terkapar menjadi korban serangan di tujuh tempat. Seratusan orang tewas dan ratusan lain terluka. Seperti biasanya, dunia (Barat) tersentak. Ucapan bela sungkawa dari politis, kepala negara, selebritis dan rakyat biasa bertebaran. Hashtag #prayforparis menjadi trending topic.

Namun seperti biasanya juga, atmosfer war on terror yang dikumandangkan Barat sejak lama seketika menggiring orang untuk menyalahkan kelompok-kelompok bersenjata dari dunia Islam. ISIS langsung ditunjuk sebagai biang teror di Paris. Beberapa jam kemudian video yang berisi ancaman kepada Prancis yang kabarnya dirilis ISIS beredar seketika menjadi ‘satu-satunya’ bukti bahwa ISIS berada di balik semua itu.

Benarkah ISIS berada di balik semua itu? Wallahualam. Susah untuk mengidentifikasi kebenaran tudingan tersebut. Karena meski ISIS kabarnya mengakui serangan itu, seperti juga mereka mengakui bertanggungjawab atas jatuhnya pesawat komersil Rusia di langit Mesir, tidak gampang juga menelan bulat-bulat pengakuan mereka.

Bisa saja ISIS atau kelompok Islam atau malah kelompok teroris manapun mengklaim bahwa itu kerjaan mereka. Karena dalam dunia politik dan militer klaim atas keberhasilan sebuah insiden dibutuhkan untuk mengokohkan eksistensi mereka.

Meski andaipun benar itu adalah pekerjaan kelompok Islam, kita bertanya; untuk apa? Balas dendam? Efektifkah? Benarkah serangan seperti itu menimbulkan apa yang diyakini sebagai “irhab al-‘aduw” alias menggentarkan hati musuh?

Rasanya musuh tidak gemetar ketakutan dengan aksi sporadis macam itu. Justru aktifitas seperti itu bisa jadi sebenarnya sudah diantisipasi oleh pihak intelijen dan sebenarnya begitu ‘diharapkan’. Agar ada legitimasi moril dari publik pada pemerintah mereka untuk melakukan tindakan keamanan yang kian represif di dalam negeri, dan terlibat dalam aksi War on Terror. Mengingat salah satu beban moril pemerintah negara-negara Barat adalah minimnya dukungan publik atas aksi militer mereka ke dunia Islam. Masyarakat Barat justru cenderung meminta agar pemerintah mereka menghentikan invasi militer yang mengatasnamakan war on terror.

Maka kejadian seperti serangan Paris kemarin diharapkan menjadi ‘trigger’ bagi publik Prancis untuk marah dan mendukung apapun aksi militer dan keamanan yang dilakukan pemerintah. Termasuk meningkatkan tindakan represif kepada umat Islam yang di dalam negeri Prancis.

Jadi, andaipun benar aksi itu dilakukan kelompok bersenjata kaum muslimin, yang justru mengalami penderitaan berkepanjangan adalah saudara-saudara mereka di Eropa. Mereka makin menjadi bulan-bulanan dan makin terintimidasi.

Tetapi di sisi lain, tragedi Paris Berdarah juga peringatan nyata bagi pemerintah Prancis; setiap aksi akan menimbulkan reaksi. Ketika Anda menginjak sarang semut maka semut-semut itu akan memberikan perlawananan. Mereka akan menggigit.

Masyarakat Barat dan sekutu mereka yang terlibat dalam operasi WOT – diakui atau tidak – tengah mengalami paranoid. Ketakutan akan sewaktu-waktu ‘serangan balasan’ dari kelompok-kelompok yang negerinya mereka invasi. Dan sangat memungkinkan bahwa aksi serangan balasan itu benar-benar terjadi. Dalam logika komunikasi militer hal itu adalah wajar, karena mereka tengah menginjak sarang semut. Maka ketika Anda tidak mau mendapat ‘gigitan’ jangan sekali-kali menginjak sarang semut, apalagi membunuhi rakyat semut.

Prancis ibarat mendapat cubitan dan gigitan. Jika dunia syok dan menangis, maka pernahkah air mata yang sama juga tumpah saat ratusan ribu warga tak berdosa — termasuk anak-anak dan perempuan juga lansia – meregang nyawa di jalanan, di pasar, di rumah sakit, sepanjang Afghanistan, Irak dan Suriah? Pernahkah dunia Barat meratapi anak-anak yang menjadi yatim piatu dan para wanita menjadi janda, serta lansia yang kehilangan anak penopang hidup mereka akibat operasi militer brutal AS dan sekutunya?

Kenyataannya dunia Barat seperti para politisi dan media massa mainstream tak pernah adil pada penderitaan dunia Islam. Politisi sekuler yang anti-Islam akan selalu memainkan isu untuk membenarkan invasi militer ke dunia Islam. Sementara media massa mainstream akan memainkan agenda setting untuk kepentingan politik pemerintah mereka.

Maka tak pernah ada karangan bunga yang diletakkan di depan kedubes Palestina, Iraq, Afghanistan, Suriah, atau juga Myanmar dan Cina, dll, di negeri-negeri di mana ratusan ribu atau jutaan muslim meregang nyawa atau dipaksa menjadi pengungsi dan tertindas oleh operasi militer asing atau oleh rezim anti-Islam. Tak ada air mata, tak ada karangan bunga.

Kita berharap fajar baru segera menyingsing, menyingkapkan kegelapan yang dibuat Barat dan ideologinya, menuju kehidupan yang penuh barakah yang menyelamatkan umat Islam. Saat itulah sarang semut tak lagi akan diusik. Tak lagi dan tak ada yang berani melakukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.