Mengapa Menyusahkan Rakyat (2-habis)

governmentNamanya Pak Yazid. Pria sederhana asal Garut ini sehari-hari berdagang bubur kacang di satu kelurahan di Bogor. Dari situ ia menafkahi keluarganya yang tinggal di kampung halamannya. Ia bercerita kalau sekarang modal berdagangnya kian lama kian tergerus kenaikkan harga sembako. Dulu untuk menjual bubur kacang ia membutuhkan modal sekitar 50 ribu rupiah perhari. Kini ia harus mengeluarkan uang hingga 90 ribu rupiah. Nyaris dua kali lipat. “Itu harga gas untuk memasak belum dihitung,” katanya pada saya dalam forum halaqoh.

Bukan saja Pak Yazid yang kian tergerus modal usahanya, masih banyak UKM lain yang juga terpukul. Lihat saja pedagang gorengan, ukuran gorengan yang dijajakan semakin mengecil dengan harga yang sama. Mereka bekerja keras dan memutar otak agar bisa tetap berdagang dan menghidupi keluarga.

Pukulan bagi UKM bukan saja dari kenaikan harga bahan baku, tapi juga lesunya daya beli. Makin hari makin banyak rumah tangga yang mengurangi belanja kebutuhan sekunder apalagi tersier. Di tengah jepitan ekonomi, banyak rumah tangga yang mengutamakan pengeluaran kebutuhan pokok seperti membeli beras, keperluan pendidikan anak, seraya menahan belanja yang lain. Keadaan ini tentu saja makin memukul sektor UKM yang notabene rakyat menengah ke bawah.

Keterpurukan ekonomi rakyat bukan saja karena nilai tukar dolar yang makin perkasa terhadap rupiah. Itu jelas. Karena hingga hari ini Indonesia masih banyak mengimpor berbagai kebutuhan pokok, seperti kacang kedelai dan beras, bahkan garam dan gula. Itu semua adalah kebutuhan pokok rakyat.

Tapi kondisi ekonomi masyarakat semakin terpuruk karena sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah. Sebut saja pengurangan subsidi BBM yang begitu telak memukul perekonomian publik. Sementara itu harga gas melon yang paling banyak dikonsumsi masyarakat juga ikut merangkak naik. Sekarang di warung-warung harga gas melon sudah mencapai Rp 19 ribu. Kenaikkan harga yang kelihatannya tidak seberapa tapi cukup memberatkan rumah tangga ekonomi menengah ke bawah.

Nasib rakyat akan semakin terpuruk andai saja niat pemerintah mencabut subsidi listrik 900 VA jadi diwujudkan. Dengan pencabutan subsidi itu pengeluaran rakyat akan kian besar dan kian susah. Diperkirakan warga harus membayar hingga tiga kali lipat dibandingkan tarif sebelumnya andai kebijakan itu jadi dieksekusi pemerintah. Untung saja belakangan pemerintah membatalkannya.

Roda ekonomi yang lamban bergerak juga membawa korban baru; bertambahnya jumlah pengangguran. Menurut catatan BPS angka pengangguran naik menjadi 7,56 juta jiwa. Sayangnya hingga saat ini belum ada terobosan yang dilakukan pemerintah untuk menangani pengangguran ini.

Di tengah kelesuan ekonomi nasional, pemerintah justru menggenjot sektor pajak dalam APBN 2016. Pemerintah menargetkan penerimaan pendapatan negara sebesar Rp 1.822 triliun dalam APBN 2016. Penerimaan tersebut terdiri dari perpajakan Rp 1.546 triliun, penerimaan negara bukan pajak Rp 273 triliun, serta penerimaan hibah Rp 2 triliun.

Untuk itu beragam objek pajak mulai disasar oleh pemerintah. Mulai barang-barang mewah, penjahit, hingga kos-kosan ditargetkan menjadi pembayar pajak. Bahkan batu akik pun sempat diwacanakan akan dikenai pajak.

Target pajak ini tidak realistis karena terlalu tinggi, kemudian dicemaskan akan membabi buta. Berbagai hal akan dikejar pajak oleh pemerintah. Padahal ujungnya akan membuat perekonomian kian melambat karena dunia usaha akan terganjal dan konsumsi juga akan menurun. Siapa lagi yang merugi? Sudah pasti rakyat!

tax

Sudah begitu, susah menagih kompensasi pajak dari pemerintah. Kemana dan digunakan untuk apa pajak rakyat? Karena berbagai infrastruktur bagi publik masih jauh dari memuaskan bahkan buruk. Kualitas sekolah negeri tidak merata. Masih banyak sekolah negeri yang bangunannya tidak layak dan kualitas tenaga pengajarnya jauh dari kata cukup.

Untuk jaminan kesehatan justru bukan negara yang menjamin kesehatan rakyat, tapi rakyat yang mandiri lewat program BPJS. Jaminan kesehatan ala BPJS hakikatnya adalah rakyat menjamin kesehatan mereka sendiri dengan plafon biaya tertentu.

Maka pantas bila kita bertanya, mengapa negara sering merugikan rakyat? Untuk apa negara ada? Bukankah tujuan bernegara adalah agar tercapai bonum publicum? Kebaikan bagi khalayak, termasuk kemakmuran dan kesejahteraan? Bila negara justru membuat susah hidup rakyat maka sebenarnya apa tujuan rakyat di negeri ini hidup bernegara?

Rakyat memang harus dituntut ikut berkorban dalam membangun negara, tapi bukan dengan cara merugikan mereka terus menerus, diabaikan hak hidupnya. Bagi rakyat kecil, uang lima ribu rupiah sungguh amat berarti untuk menyambung hidup, meski untuk kalangan elit uang sebesar itu nyaris tak berarti. Maka mencabut subsidi dan menaikkan pajak adalah kebijakan yang amat dzalim, sementara para pemimpin hidup di menara gading nyaman dan terjamin.

Itulah fakta negara kapitalisme-liberalisme yang telah mengisi ruang sejarah dunia. Tak pernah memberikan jaminan keadilan ekonomi bagi masyarakat.

Bandingkan dengan apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab ra. dan para aparatur negara saat Daulah Khilafah ditimpa musibah kekeringan dan kegagalan panen pada zaman yang disebut ‘am ramadhah (tahun kematian).

Zaid bin Aslam menuturkan, “Ketika terjadi tahun kematian, bangsa Arab dari segala penjuru berbondong-bondong datang ke kota Madinah. Khalifah Umar bin Khathab mengangkat empat orang pejabat khusus yang bertanggung jawab mengurusi kebutuhan mereka, mendistribusikan makanan dan lauk-pauk kepada mereka. Para pejabat khusus tersebut adalah Yazid putra saudara perempuan Namr, Miswar bin Makhramah, Abdurrahman bin Abdul Qari, dan Abdullah bin Utbah bin Mas’ud. Masing-masing pejabat khusus tersebut ditempatkan di masing-masing sudut kota Madinah.

 

Di waktu malam, keempat pejabat khusus itu berkumpul dengan Umar bin Khatab. Mereka melaporkan kepadanya pekerjaan yang telah dilakukannya dan kondisi yang dihadapinya. Masing-masing mereka menangani ribuan pengungsi di masing-masing sudut kota Madinah. Puluhan ribu kaum Arab Badui berdatangan dan ditempatkan di daerah Ra’su Tsaniyah, Ratij, Bani Haritsah, Bani Abdul Asyhal, Baqi’ dan Bani Quraizhah. Ribuan pengungsi lainnya berada di sudut Madinah di perkampungan Bani Salimah. Puluhan ribu pengungsi itu memenuhi semua sudut kota Madinah.

Umar bersama para aparatur daulah mengatur distribusi makanan bahkan memasak makanan bagi rakyat yang kelaparan dan sakit. Umar juga memerintahkan Gubernur Syam Muawiyah bin Abi Sufyan, Gubernur Saad bin Abi Waqqash, dan Gubernur Mesir Amr bin al-Ash’ mengirimkan bantuan makanan dan pakaian ke Madinah.

Abdullah bin Malik Ad-Dar menuturkan bahwa Amru bin Ash mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh dua puluh kapal dan seribu unta. Sementara itu Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh tiga ribu unta. Adapun Sa’ad bin Abi Waqash mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh dua ribu unta.

Amru bin Ash yang sempat ditegur oleh Khalifah Umar karena dianggap lambat mengirimkan bantuan, menjawab surat Khalifah dengan menulis: “”Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kepada hamba Allah yang tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Dia. Amma ba’du. Bantuan telah datang kepada Anda, maka bertahanlah! Bertahanlah! Aku akan mengirimkan kepada Anda kafilah unta, di mana unta yang pertama akan sampai di depan Anda sementara unta yang terakhir masih berangkat dari hadapanku.”

Setiap malam Umar dan aparat daulah menyembelih unta, memasak roti dan minyak, lalu membagi-bagikannya kepada rakyat. Umar turut menahan lapar dan hanya makan makanan yang sama dengan apa yang dimakan oleh rakyat yang ia pimpin.

Ketika suatu hari seorang aparatnya menyuguhkan masakan dari punuk unta dan bagian lambung unta (bagian yang paling lezat), Umar marah dan meminta agar diberikan makanan yang sama seperti warga yang lain. Ia menukas:

بَخْ بَخْ بِئْسَ الْوَالِي أَنَا إِنْ أَكَلْتُ طَيِّبَهَا وَأَطْعَمْتُ النَّاسَ كَرَادِيسَهَا. ارْفَعْ هَذِهِ الْجَفْنَةَ. هَاتِ لَنَا غَيْرَ هَذَا الطَّعَامِ.

 

“Cih, cih, sungguh seburuk-buruk pemimpin adalah aku, jika aku memakan daging yang baik sementara aku memberikan makanan yang tidak baik kepada masyarakat. Pindahkan nampan makanan ini dan bawakan kepadaku makanan lain!”

Kejadian ‘amur ramadhah itu berlangsung sembilan bulan, menewaskan hampir dua pertiga warga di sekitar Madinah. Hingga akhirnya Allah menurunkan hujan yang menumbuhkan lagi berbagai tanaman. Saat para pengungsi pulang Khalifah Umar melepas para pengungsi dan membekali mereka dengan banyak perbekalan makanan dan pakaian.

Masya Allah! Allahu Akbar!

Sejarah Islam memang mengalami pasang surut. Namun tidak pernah vakum dari para pemimpin yang adil dan berpihak pada umat. Semua karena mereka berpegang pada syariat Islam dalam melaksanakan tugas pemerintahan. Bagi mereka, rakyat adalah amanah dari Allah, pantang untuk ditelantarkan apalagi dibuat susah.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.