Mengajarkan Anak Kerukunan Beragama Yang Benar

rahmatanBelakangan ini topik membangun Indonesia yang  beragam dan berbineka sedang kencang digulirkan. Hal ini sebagai respon atas kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok, lalu berlanjut dengan aksi umat Islam pada tanggal 4 November lalu. Aksi yang diperkirakan diikuti dua juta warga muslim ini tercatat sebagai aksi terbesar dan damai dalam sejarah nasional.

Berkaca dari dua kejadian itu, sejumlah kalangan menjadi cemas. Khawatir negeri ini terbelah karena semangat sektarian dan primordialisme. Ironinya, pihak yang sering dituding membawa isu perpecahan itu adalah umat Islam. Padahal, seringkali sikap tegas umat itu hanyalah reaksi atas sebuah aksi tertentu, seperti kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI non-muslim, Ahok.

Oleh karena itu arah gerakan kebinekaan itu justru menjadi sesuatu yang harus dicermati dan diawasi oleh setiap keluarga muslim. Sebab muatan yang ada di dalamnya bukan sekedar menciptakan kerukunan antar umat beragama, tapi malah diarahkan untuk mereduksi ghirah, kecintaan dan ketaatan seorang muslim pada agama Islam.

Hal itu sudah terbukti. Kita bisa menyaksikan banyak muslimah-muslimah berkerudung tetapi berada di balik tim sukses Ahok. Atau muslim yang memberikan komentar negatif pada aksi umat 4 November kemarin. Mereka ikut mencela, membully, sinis, atau diam tak bereaksi apa-apa dalam hal yang semestinya hati mereka terpanggil untuk membela kemuliaan agama. Keadaan ini mengingatkan kita dengan firman Allah:

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (TQS. an-Nisa: 143)

Lebih sedih lagi parpol-parpol Islam di tanah air pun tidak memberikan keteladanan yang benar dalam sikap teguh berpegang pada buhul Islam. Banyak – kalaulah tidak dikatakan semua – parpol Islam bersikap pragmatis atau mencla-mencle. Di pilkada daerah A mereka mendukung calon muslim dan menyerukan umat Islam jangan golput agar calon mereka yang muslim menang, tapi di pilkada daerah lain mereka mendukung calon yang non-muslim dengan berbagai dalil dan tanpa malu meminta umat Islam memilih calon yang mereka usung. Sungguh aneh dan menyedihkan sikap parpol Islam dan para petingginya yang notabene adalah ustadz atau aktifis keislaman. Sikap mereka yang berdalih maslahat atau keuntungan persis seperti yang disindir Allah dalam al-Qur’an.

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Hajj: 11)

Dalam seruan dan slogan kebinekaan dan keberagaman ini biasanya ada tiga muatan; pertama, seruan bahwa semua manusia itu sama di mata Tuhan jadi jangan membeda-bedakan setiap orang karena perbedaan suku bangsa, ras dan AGAMA. Kedua, seruan agar setiap orang (khususnya umat beragama) jangan merasa benar sendiri dan mau menang sendiri. Seruan ini melanjutkan poin pertama, khususnya kepada umat Islam agar mengaburkan makna kafir, mukmin, muslim, dosa, dsb. Ketiga, seruan agar sesama manusia mau saling terlibat dalam kegiatan bersama, termasuk kegiatan keagamaan yang berbeda dengan agama mereka masing-masing, semisal doa bersama, natalan bersama, Cap Go Meh, dsb. Lagi-lagi, obyek yang paling ditekankan adalah umat Islam. Dalihnya toleransi umat beragama dan kebudayaan.

Dear abi-umi yang dirahmati Allah, disinilah pentingnya orang tua muslim punya pemahaman agama yang benar. Merujuk pada al-Quran dan as-Sunnah, dan pendapat para ulama mu’tabar (terkemuka/yang diakui). Cukuplah kita membaca dan memahami tafsir QS. Al-Kafirun, maka jelas sikap apa yang harus diambil seorang muslim dalam hal ini.

Akan tetapi untuk anak-anak kita, ada beberapa langkah yang harus kita berikan pada mereka. Di antaranya:

  • Tanamkan Keyakinan Bahwa Islam Agama Yang Benar, Yang Lainnya Batil/Rusak

Ini pemahaman yang paling esensial, asasiyah, bagi setiap muslim tapi sayang hari ini tidak sedikit keluarga muslim yang tidak menanamkan ini pada kehidupan keluarga mereka, terutama pada anak-anaknya.

Untuk anak-anak yang belum tamyiz atau belum bisa diajak berpikir sempurna, tanamkan dengan bahasa yang mudah, terangkan kemuliaan Islam, kebenaran tauhid/keesaan Allah SWT., keindahan al-Qur’an dan kemuliaan pribadi Rasulullah. Sehingga mereka punya kecintaan dan izzah/kemuliaan sebagai muslim

Bagi anak-anak yang telah tamyiz apalagi remaja, saatnya diajak berpikir tentang kesempurnaan ajaran Islam mulai dari akidah hingga syariahnya. Sehingga mereka istiqomah dalam berislam karena faktor keyakinan, bukan karena keturunan semata.

  • Tanamkan Pemahaman Bahwa Semua Nabi dan Rasul Mengajak Menyembah Allah dan Semua Harus Mengikuti Agama Islam Yang Dibawa Nabi Muhammad SAW.

Pemahaman ini termasuk esensial. Seringkali media massa, tokoh liberal, atau non-muslim yang menyamakan semua nabi. Saatnya jelaskan bahwa semua utusan Allah membawa ajaran tauhid/akidah yang sama, mengesakan Allah. Tidak pernah Nabi Isa menyuruh umatnya menuhankan dirinya dan menyembah dirinya.

Kemudian, sampaikan bahwa setelah Rasulullah SAW. diutus maka semua umat yang dulu beriman kepada para nabi dan rasul yang pernah diutus Allah, wajib untuk beriman kepada Beliau dan memeluk ajaran Islam. Agama-agama yang lain telah dihapuskan masa berlakunya oleh Allah SWT.

jas-tolak-natal_20141219_185327
  • Sampaikan Rukun Pada Sesama Manusia Adalah Kewajiban Setiap Muslim, Tapi Bukan Berarti Mencampuradukkan Ajaran Agama

Baik pada kawan dan tetangga yang bukan muslim wajib, sampaikan itu pada anak-anak kita. Contohkan bagaimana Rasulullah SAW. menjaga hubungan baik pada setiap manusia. Tapi tetap dalam keyakinan kalau hanya Islam satu-satunya agama yang benar dan tidak mencampuradukkan peribadatan apalagi keyakinan, adalah perkara urgen ditanamkan pada mereka. Jangan biarkan mereka melihat peribadatan dan perayaan agama umat lain meski hanya lewat televisi, apalagi menghadirinya. Katakan apa kebatilan agama mereka dan peribadatan mereka sehingga anak-anak paham dengan jelas dan benar tentang itu semua.

Lalu, sampaikan muslim termasuk para pejabatnya yang menghadiri acara keagamaan umat lain bukanlah teladan. Hanya Rasulullah SAW. dan para sahabat yang patut dijadikant teladan dalam soal keyakinan dan peribadatan. Mereka tidak pernah mencampuradukkan keyakinan agama dengan ibadah umat lain, tidak seperti muslim dan para pejabat mereka pada hari ini.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *