Mewariskan Ghirah Pada Anak-Anak Kita

anak-demo-ahokSaya masih ingin menulis tentang momen indah 4 November kemarin. Momen itu bagi saya merupakan kebenaran Ilahiyah bahwa al-Qur’an adalah furqon (pembeda) terhadap umat manusia. Saksikanlah, agenda membela kehormatan al-Qur’an 4 November lalu telah ‘membagi’ umat Islam sesuai kutub pembelaan mereka; pembela al-Qur’an atau pembela penista al-Qur’an.

Di tengah gemuruh ghirah umat membela kehormatan wahyu Allah, kita melihat, mendengar dan menyaksikan segelintir muslim yang justru sinis, nyinyir, bahkan menuduh yang bukan-bukan pada perjuangan ikhlas umat. Ada guru besar kampus negeri di Jakarta yang mempertanyakan aksi kemarin; ‘apa benar Allah selemah itu sehingga harus dibela?’ Ini beneran logika absurd dan tak berpijak dari keimanan. Keabsurdan itu menunjukkan takaran asli pemahaman agama sang guru besar.

Ada juga seorang tokoh muslim pensiunan ketua ormas Islam yang menuduh para ulama yang menggerakkan aksi tersebut sebagai ulama jahat, penjilat penguasa dengan fatwa-fatwa murahannya. Waliyyadzu billah!

Di level grass root, ada saja kita dengar ungkapan muslim yang menyesalkan aksi tersebut; bikin macet, rusuh, tak bermanfaat, sampai menyatakan itu adalah persoalan sepele!

Aneka pandangan yang sinis dan cenderung melecehkan aksi tulus umat, menandakan bahwa kita, umat Muslim, punya persoalan dengan GHIRAH. Kecemburuan dan pembelaan pada agama.

Umat hari ini kebingungan dimana harus meletakkan ghirah. Dan mereka hampir-hampir tak meletakkan ghirah pada agama. Sehingga di saat semestinya mereka marah, justru mereka bungkam malah mencibir mereka yang marah. Bayangkan, untuk marah saja umat harus belajar bagaimana, kapan dan pada persoalan apa. Sungguh sebuah musibah besar.

Kebingungan itu telah dimulai dari sejak kaum muslimin berusia anak-anak hingga mereka dewasa. Banyak anak-anak dan pemuda muslim yang tak tahu bahwa marah dalam urusan agama yang terlanggar atau ternistakan adalah WAJIB!

Anak-anak dan remaja kita lebih mudah marah ketika tidak dibelikan gadget atau sepatu baru, ketika tim sepakbola kesayangannya kalah, ketika sekolahnya dilecehkan pelajar lain, atau ketika pacarnya direbut atau dilirik lelaki lain. Marah mereka bisa meledak sejadi-jadinya.

Tapi untuk urusan agama? Generasi muda kita kebingungan.

Bandingkan dengan kisah dua remaja belia, Mu’adz bin Amru bin al-Jamuh dan Muawwadz bin Afra – semoga Allah meridloi keduanya – yang berdiri di batas medan Perang Badar, dan salah seorang di antara mereka telah bersumpah pada ibundanya tak akan pulang sebelum membunuh Abu Jahal. Mereka mendengar Abu Jahal adalah sosok yang sering menyakiti orang kecintaan mereka, Rasulullah SAW.

Lalu keduanya pun dipertemukan dengan Abu Jahal untuk kemudian bertarung habis-habisan. Muawwadz bin Afra berperang hingga kehilangan sebelah tangannya. Semua karena alasan membela agama. Bukan kemarahan yang sia-sia apalagi tercela, tapi kemarahan yang berujung kecintaan dari Allah dan RasulNya.

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung (TQS. Mujadilah: 22)

Ikhwani rahimakumullah, mungkinkah kedua remaja itu punya ghirah begitu tinggi bila tidak ditanamkan oleh kedua orang tuanya?

Mungkinkah keduanya punya kecemburuan agama begitu dahsyat bila orang tuanya hanya menyuruhnya studi dan studi mengejar nilai dan kelulusan?

Mungkinkah Muadz bin Amru bin al-Jamuh kemudian terus berjuang bahkan berani memutuskan tangannya sendiri yang sudah terluka parah, bila orang tuanya hanya menyuruhnya bermain dan bermain layaknya anak-anak yang lain?

Sungguh, kitalah para orang tua yang punya andil besar menanamkan ghirah pada agama, atau justru yang mematikan ghirah itu dalam akal dan perasaan anak-anak kita.

Bila di masa mendatang bermunculan generasi yang cuek pada kemuliaan agama, bersekutu dengan musuh-musuh Allah yang hina, maka sadarilah itu bukan semata kesalahan mereka, tapi orang tua yang telah lalai merawat bara api ghirah dalam dada anak-anak mereka di saat kecil.

Berapa banyak orang tua yang memfokuskan anak-anak mereka hanya studi, karir, atau malah hiburan belaka. Begitupula tidak sedikit orang tua yang menyuruh anaknya mengaji atau menghafal al-Qur’an tapi kitab suci itu dijauhkan dari hati dan akal mereka. Sehingga anak-anak mereka tak lebih dari murotal mp3 yang dapat diputar tapi kosong dari ghirah terhadap agama.

Anak-anak seperti itu bukan mustahil tumbuh sebagai muslim tapi tak punya pembelaan dan kebanggaan sebagai muslim. Bahkan bisa jadi mereka ada di barisan terdepan meredam ghirah umat Islam, dan melindungi para penista agama mereka sendiri.

anak-sma-demo-ahok

Apa yang harus dilakukan orang tua agar anak-anak mereka memiliki ghirah pada Islam?

Pertama, Tanamkan keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Agama lain adalah batil dan jelaskan kekeliruannya secara aqliyah dan naqliyah. Insya Allah keyakinan mereka pada Islam bukanlah dogma atau doktrin, tapi dibangun berdasarkan pemikiran yang jernih dan kuat.

Kedua, Sampaikan keutamaan cinta kepada Allah, dan kepada Rasulullah serta bagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah SAW. dan mencintai Beliau. Misalnya, bagaimana para sahabat tidak pernah meninggikan suara di hadapan Beliau, berebut mendahulukan urusan Beliau, bahkan sampai meninggalkan urusan keluarga termasuk orang tua mereka demi Rasulullah.

Ketiga, Bacakan kisah-kisah perjuangan para sahabat dan kaum salafus saleh dalam membela agama. Misalnya kisah pengorbanan Abu Bakar ash-Shiddiq dalam menemani hijrah Rasulullah SAW. dan apa yang ia lakukan di dalam gua untuk menjaga dan melindungi Rasulullah dari sengatan binatang berbisa.

Keempat, tanamkan pada mereka untuk memuliakan orang-orang yang berjuang di jalan Islam, dan membenci perbuatan orang-orang yang menghalangi dakwah Islam. Dengan begitu mereka tidak akan salah memilih persahabatan. Sejak dini mereka telah memiliki kecenderungan untuk berkawan dengan orang-orang saleh, dan menjauhi orang-orang fasik.

Mulailah sejak dini menanamkan ghirah dalam pribadi anak-anak kita, agar mereka tumbuh sebagai pembela kemuliaan agama, dan jauh dari sifat fasik dan pengecut yang dimurkai Allah SWT.

Bila di masa mendatang bermunculan generasi yang cuek pada kemuliaan agama, bersekutu dengan musuh-musuh Allah yang hina, maka sadarilah itu bukan semata kesalahan mereka, tapi orang tua yang telah lalai merawat bara api ghirah dalam dada anak-anak mereka di saat kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.