Jangan Memusuhi Pejuang Agama Allah

aksi-bela-islam-hukum-ahokJumat, 2 Desember 2016, pagi ini kami melepas putra kedua kami berangkat ke Monas. Rifqiy Milzam begitu antusias berangkat dengan sepupunya untuk ikut aksi damai #belaalQuran. Bundanya membekali mereka dengan beberapa potong buras, gorengan, dan juga air mineral. Dua remaja SMP itu berangkat diiringi rintik hujan pagi di kota Bogor.

Aku sendiri tidak berangkat setelah semalam dilanda kegalauan; antara berangkat ke Monas atau tetap berkhutbah di mesjid tempat kami tinggal. Akhirnya aku memutuskan untuk berkhutbah, sebab bulan lalu aku pun absen karena ikut aksi 411. Aku merasa ada tanggung jawab moral untuk menyampaikan pesan kepada jamaah akan arti pentingnya aksi hari ini. Aku ingin menggelorakan ghirah mereka, bahwa meski tinggal di kampung, kita punya tanggung jawab sama di hadapan Allah untuk menjaga kemuliaan al-Qur’an.

Air mataku dan istri selalu bercucuran setiap kali menatap layar kaca menyaksikan rombongan laskar pejuang Allah yang berjalan kaki menuju Jakarta, atau membaca postingan kawan-kawan tentang aksi hari ini, betapa kekuatan iman telah mendorong kaki-kaki itu melangkah belasan, puluhan bahkan ratusan kilometer menuju medan kemuliaan.

Selain mata yang berkaca-kaca, mulut kami tak hentinya memuji asma Allah, setiap kali melihat, membaca antusias warga menyumbangkan apa saja yang mereka bisa beri kepada setiap rombongan laskar Allah yang melintasi jalan raya. Ada rombongan anak-anak SD menyiapkan minuman botolan dan sendal jepit bagi para pejuang Allah tersebut. Masya Allah! Itu bisa jadi mereka ambil dari uang jajan mereka, atau ayahbunda mereka yang mengajarkan mereka untuk menolong orang yang beramal saleh.

Putri kami yang kelas IV SD berkata, “Ayah, nanti aku juga mau ikutan ah ke Jakarta.” Aku tertunduk dan menganggukkan kepala. Terharu. “Iya, Teh!” balasku.

 

* * * * * **

Dalam hidup ini banyak hal yang tak bisa dipikirkan oleh logika, tapi hanya oleh keimanan. Apa yang dilakukan oleh guru-guru kita; para ustadz, habib, kyai, demi Allah tak bisa ditakar dengan cost & benefit bisnis. Tak akan pernah bisa! Yang mendorong mereka adalah kecintaan yang dalam terhadap agama. Mereka ingin dicatat sebagai orang-orang yang cinta pada agama Allah!

Poin inilah yang menurut saya sebenarnya mesti diperhatikan oleh siapa saja, khususnya oleh mereka yang masih saja nyinyir pada aksi-aksi ini. Ya, kita heran melihat ada saja muslim yang sinis bahkan berusaha menghalang-halangi aksi yang sebenarnya mereka harus terjun juga ke dalamnya.

Sebelum aksi ini digelar sudah keluar tudingan makar, anti kebinekaan, mubazir, dsb. Kepolisian berusaha keras untuk mencegah membanjirnya jamaah berbagai daerah tumpah ke Jakarta, namun sebagian besar gagal. Meski ada juga yang dicegat dan dihalau oleh aparat.

“Siapakah orang yang hidup tapi sudah mati?” Jawab Rasulullah, “Orang hidup tapi sudah mati adalah yang tidak mengetahui yang maruf dan tidak mencegah kemungkaran dengan hatinya”

Ada juga barisan orang alim yang kompak mendiamkan aksi ini. Mereka melarang jamaahnya turun, tapi juga tidak mengecam aksi penistaan al-Qur’an. Innalillahi wa inna ilayhi rajiun.

Saya hanya ingin mengingatkan firman Allah yang Mahabenar, bahwa jangan sekali-kali melecehkan apalagi memusuhi dan menghalang-halangi mereka yang sedang beramal soleh, apalagi tengah menjaga kemuliaan agama Allah.

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya.”

Di antara ratusan ribu atau mungkin jutaan kaum muslimin yang hadir, sangat mungkin ada di antara mereka yang tergolong waliyullah karena ketaatan yang besar kepada Allah. Mereka menjauhkan diri dari yang haram, berjuang untuk Islam, dan hanya mengharap rizki yang halal dan barakah.

Andai mereka dilecehkan, dihina, dihalang-halangi, maka Allah menjanjikan peperangan pada para pelaku perbuatan keji itu. Dan, siapakah yang bisa melawan perang yang dikobarkan Allah Azza wa Jalla?

Bila para pelaku ini tidak segera bertobat, berubah membantu perjuangan Islam, maka ingatlah bahwa Allah sudah menyiapkan skenario yang Ia cantumkan dalam al-Qur’an. Yakni, ketika orang-orang jahat melecehkan kaum mukminin, menghina mereka, lalu Allah akan balas perbuatan mereka kelak.

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman, dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya, dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira, apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat” padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan (TQS. al-Muthaffifin: 29-36).

Bagi orang-0rang alim yang hari ini enggan turun dalam kancah membela kemuliaan agama Allah, bacalah pesan Baginda Rasulullah SAW. ketika ditanya oleh Hudzaifah bin Yaman ra. tentang “orang hidup namun mati”. Dalam kitab Syu’ab al-Iman dicantumkan kalimat; “Orang yang mati bukanlah yang beristirahat karena kematiannya, sesungguhnya orang yang mati itu adalah yang ‘mati namun masih hidup’.”

و قيل له : يا أبا عبد الله و ما ميت الأحياء قال : الذي لا يعرف المعروف بقلبه و لا ينكر المنكر بقلبه

“Wahai Abu Abdillah (Rasulullah SAW) apa itu yang ‘mati tapi masih hidup’?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang hatinya tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran dengan hatinya.”(HR. Bayhaqiy)

Orang-orang yang mengaku alim, tapi merasa tenang dengan kemungkaran yang hari ini bermunculan, dan tidak tahu lagi mana yang maruf dan yang mungkar, itulah orang-orang yang sebenarnya sudah mati. Mati di hadapan Allah, meski hidup di mata manusia. Waliyyadzu billah!

Incoming search terms:

  • pejuang agama allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *