Ajarkan Anak Bertahan, Bukan Menyerang

boys fight2Lagi, seorang anak yang begitu belia mati di tangan kawan seumurannya di Jakarta. Kejadian ini semestinya membuat ayahbunda tersentak. Apa yang salah dalam pola asuh kita kepada anak-anak selama ini? Sampai-sampai anak yang masih amat belia bisa melakukan tindak kekerasan pada kawannya?

Kita percaya setiap anak terlahir fitrah. Tak ada di antara mereka yang muncul di alam dunia ditakdirkan sebagai ‘monster pembunuh’. Jiwa anak itu begitu polos namun juga fragile. Mudah retak.

Kepolosan itu juga membuat mereka mudah terwarnai oleh budaya di sekitarnya. Pola asuh orang tua, tontonan dan bacaan, pengaruh teman adalah faktor dominan yang begitu berpengaruh pada anak-anak. Anak adalah anugerah Ilahi, tapi pribadi anak adalah bentukan budaya.

Salah satu karakter yang dapat terbentuk pada anak adalah anger management. Pengendalian emosi. Setiap manusia memang sudah dikaruniai naluri untuk bertahan hidup (gharizah baqo’). Naluri ini bermanfaat agar anak dapat survive dalam kehidupan. Ketika merasa terancam ia bisa menangis atau melawan, atau melarikan diri.

Hal yang perlu kita sadari ekpresi seorang anak untuk survival amat ditentukan oleh pengalaman hidupnya, seperti pola asuh. Ia tidak muncul begitu saja. Nilai-nilai dan pembiasaan yang ditanamkan orang tua juga lingkungan pada anak akan mempengaruhi mereka dalam mengekspresikan naluri ini.

Seorang anak yang merasa dirinya ‘terancam’ akan mengambil tindakan sesuai habit yang tercipta dalam kehidupannya. Jika ia sudah sering diajarkan untuk melawan, maka dipastikan ia akan menyerang. Banyak kasus anak yang emosinya begitu meledak saat berselisih dengan kawannya lalu melakukan penyerangan secara fisik. Hal itu tidak direncanakan, tapi terbangun oleh naluri yang dilandasi pola asuh yang ia dapatkan. Misalnya, anak yang sering diperlakukan kasar oleh orang tuanya maka akan terbangun dalam dirinya karakter antisosial, agresif dan selalu ingin membalas.

Oleh karena itu hati-hati dalam menanamkan nilai-nilai pengasuhan pada anak-anak kita. Benar, setiap orang tua pasti berusaha menanamkan nilai Islam pada anak-anak mereka, tapi ada seringkali orang tua berbeda antara tujuan dengan perbuatan. Maksudnya menanamkan nilai Islam tapi cara yang ditempuh justru keliru.

Ada sejumlah pola asuh yang sejak awal tidak kita berikan pada anak-anak kita, yakni:

  1. Membiarkan otak anak diisi informasi kekerasan. Film, komik, video games adalah media paling ampuh menanamkan kekerasan pada anak. Sejumlah pengamat militer menyatakan bahwa konten kekerasan dalam video games yang sering dimainkan anak-anak dan remaja melebihi kadar pelatihan militer. Memukul, menusuk, menembak banyak masuk dalam konten video game kekerasan.
  2. Mengajarkan Sikap Mendendam. “Kenapa, nak? Jatuh ya? Pukul lantainya, nak!” beberapa orang tua tanpa sadar menanamkan pola asuh balas dendam pada anak-anak mereka. Saat jatuh tersandung, anak diajarkan untuk memukul lantai tempat mereka jatuh. Atau saat berselisih dengan kawannya, mereka diajarkan untuk membalas. Malah ada orang tua yang membiarkan anaknya berkelahi dengan kawannya juga saudaranya agar bisa melampiaskan dendam.

Alasan orang tua memberikan pola asuh seperti ini adalah agar anak bisa MEMBELA DIRI. Padahal pola asuh macam ini akan membentuk karakter negatif pada anak. Ia akan tumbuh sebagai sosok pendendam dan tak pernah puas sebelum bisa membalas perlakukan orang lain padanya.

slap-child2
  1. Berlaku Kasar Pada Anak. Ada sebagian orang tua yang ‘katanya’ ingin mendisplinkan anak dengan cara berlaku kasar pada mereka. Saat anak melakukan kesalahan hukuman fisik diutamakan; menempeleng, memukul, atau mencela dengan celaan yang menyakitkan. Terkadang kesalahan itu sifatnya sepele seperti kehilangan botol minum di sekolah, lupa mengerjakan PR, dapat nilai kecil saat ulangan. Pola asuh kekerasan semacam ini membuat anak terbiasa dengan kekerasan dan membuat mereka mencari pelampiasan kepada orang lain, termasuk kawan-kawan mereka.
  2. Terlalu Membela Anak. Pola asuh lain yang membangun karakter negatif pada anak adalah ketika orang tua terlalu membela anak saat bertengkar dengan kawan atau saudaranya. Kadangkala ada juga orang tua yang ikut campur dalam perselisihan antar bocah. Saat anaknya mengadu langsung ayah atau ibunya mendatangi rumah kawannya, memarahi bahkan ribut dengan orang tuanya. Wa iyyadzu billah!

Padahal kita tidak tahu persis apa pangkal pertengkaran antar bocah. Siapa yang salah ataupun benar, kita tidak tahu. Lagipula pertengkaran antar bocah adalah hal yang biasa dan bisa diselesaikan dengan baik oleh orang dewasa. Mengajak mereka untuk main bersama, saling memaafkan, atau membiarkan dulu mereka tidak bermain sementara waktu sampai suasana hati mereka tenang. Nanti ujung-ujungnya mereka juga bisa bermain bersama lagi. Itulah dunia anak!

  1. Terlalu melindungi anak. Kebalikannya dengan di atas, ada orang tua yang over protective pada anak-anak mereka. Dilarang bermain dengan anak lain yang dianggap nakal, diisolasi di rumah, saat menangis langsung dibujuk dengan iming-iming hadiah agar diam. Pola asuh seperti ini akan membuat anak menjadi manja, kurang struggle dalam kehidupan dan tidak mandiri. Tidak mengapa anak kita menangis, terpukul kawannya, atau terjatuh, tapi ajarkan mereka untuk tidak berlama-lama menangis dan bersedih.
dad hug

Jauh lebih baik mendidik anak kita agar memiliki karakter yang kuat dalam bertahan, ketimbang menyerang. Bertahan dalam arti mereka bisa bersabar, tahan ‘banting’, dan mudah memaafkan.

Bolehkah mengajarkan mereka untuk membalas? Ada saatnya nanti mereka kita tanamkan arti penting membela diri, bukan membalas. Membela diri adalah menjaga diri dan bukan untuk menyakiti. Bila kawan tidak menyerang maka pantang menyakiti kawan. Dan yang paling utama, ajarkan bahwa bersabar dan memaafkan itu jauh lebih mulia ketimbang membalas.

Incoming search terms:

  • bertahan bukan menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *