Setelah Bola, Lalu Apa?

lawan asapTadi malam entah berapa ratus ribu atau juta pasang mata menatap layar kaca menyaksikan partai final Piala Presiden. Sementara itu hampir seratus ribu orang sudah masuk ke GBK, termasuk sejumlah pejabat daerah dan tentu saja Presiden Jokowi.

Partai final semalam ibarat pelepas dahaga insan sepakbola yang sudah dipaksa ‘puasa’ menyaksikan pertandingan sepakbola level nasional. Semenjak dibekukan Menpora, PSSI tak bisa menyelenggarakan pertandingan bola apapun secara resmi.

Maka, dalam semalam di babak final, rakyat bola seperti mengalami ekstase. Terpuaskan dengan pertandingan dua tim.

Tapi pertandingan bola modern bukan saja cuma mengejar, menyundul atau menendang bola. Ia adalah bisnis dengan uang mencapai miliaran rupiah. Termasuk untuk Piala Presiden.

Tim Persib yang menjadi juara I mendapatkan Rp 3 miliar, Sriwijaya FC menggondol Rp 2 miliar, Juara III Rp 1 miliar, dan Juara IV Rp 500 juta. Selain hadiah bagi para tim yang memperoleh gelar juara, panitia juga memberikan hadiah bagi Pemain Terbaik dan Pencetak Gol Terbanyak dalam turnamen Piala Presiden 2015 masing-masing sebesar Rp 100 juta. Ada juga hadiah bagi Fair Play Team sebesar Rp 300 juta.

Bukan uang sedikit, bukan? Belum lagi biaya akomodasi pertandingan, dll.

Jangan bandingkan dengan liga bola di Eropa. Putaran uangnya sudah mencapai triliunan rupiah. Dunia masih ingat nilai transfer Gareth Bale dari klub Inggris Totenham Hotspur ke klub raksasa Spanyol Real Madrid yang menghabiskan uang hingga Rp 1,4 triliun lebih. Pemain bintang asal Wales ini sepakat untuk menerima gaji sebesar £300.000 atau Rp5,3 miliar lebih per minggu.

Kompetisi yang begitu royal berbelanja pemain dan pelatih adalah Liga Inggris. Transfer baru dalam bursa transfer dengan menghabiskan 870 juta euro atau setara dengan Rp18,8 triliun sepanjang musim panas 2015-2016 lalu.

Sepakbola bukan saja passion. Tapi juga amarah, kebencian dan sikap irasional. Saya pernah berada di pinggiran kerumunan satu kelompok suporter klub sepakbola nasional. Kebanyakan anak-anak tanggung. Sambil lalu lalang mereka meneriakkan sumpah serapah kepada musuh bebuyutannya, “anj**g! anj**g! anj**g!”.

Tapi itu bukan kelakuan satu kelompok suporter saja, rivalnya juga melakukan hal yang sama. Jadi, setali tiga uang. Fairplay yang jadi spirit olahraga termasuk sepakbola menguap di tengah hawa panas fanatisme para suporter.

Itu juga yang beberapa hari kemarin terjadi. Polisi menangkap hampir seribu orang – sebagian besar anak-anak tanggung yang memang paling gampang diprovokasi – karena merusuh di beberapa ruas jalan ibukota dan sekitarnya.

Tapi siapa peduli? Hari ini banyak orang begitu membutuhkan saluran pelampiasan emosai dan hiburan. Di tengah badai bencana yang bertubi-tubi datang ke negeri ini, orang butuh itu semua. Sepakbola memberikan atmosfir euforia. Bahkan lebih dari cukup.

religion-football

Itulah yang kemudian harus kita pikirkan baik-baik; setelah bola apa lagi? Karena di belahan lain di negeri ini bencana kebakaran hutan dan kabut asap yang mencekik masih menyengsarakan jutaan warga. Anak-anak sudah tak bersekolah berminggu-minggu, penyakit pernafasan sudah menjadi bagian hidup mereka, bahkan sejumlah nyawa sudah melayang.

Maka ironis kita tenggelam dalam euforia sepakbola, padahal bencana alam dan kemanusiaan masih tak tuntas. Tapi dalam beberapa jam kemarin, kita seperti lupa bahwa tragedi itu masih berjalan. Terlupakan dalam atmosfir sepakbola yang membahana.

Bukan saja karena sepakbola, tapi berbagai panggung hiburan tetap digelar di beberapa kota terutama Jakarta. Lama-lama kita menjadi insan yang mati rasa, tak punya empati dan kehilangan prioritas hidup.

Sama seperti gerombolan anak-anak alay suporter sepakbola yang menyerang kendaraan beberapa malam lalu. Mereka tak peduli siapa yang jadi korban, yang penting emosi terlampiaskan. Puas.

Bedanya kita duduk rapih di stadion, atau di depan layar kaca dengan full passion menyaksikan detik demi detik bola bergulir di lapangan. Sejenak melupakan bencana-bencana di negeri ini.

Sejenak yang sebenarnya akan dihisab oleh Allah SWT. Sejenak yang kemudian membuat kita bergembira di momen yang tak pantas kita rayakan dan kita sambut dengan kegembiraan. Apa pantas kita berkata bila bencana yang terjadi; “itu bukan urusan saya!”?

Padahal salah satu sponsor hajatan sepakbola nasional itu diduga oleh beberapa kalangan memiliki anak perusahaan yang terlibat dalam pembakaran lahan hutan (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151013131753-12-84676/digugat-pemerintah-rp78-triliun-sinar-mas-ikut-proses-hukum/).

Lalu, setelah bola, apa? Untuk membuat anak bangsa lupa dengan tragedi yang terus menerus mencekik bangsa? Apalagi? Sampai kapan kita mau menjadi bangsa yang sakit?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *