Suami, Jangan Terbius Cinta Tercela

Man holding red rose, blood on fingers, mid section

Rumah tangga adalah hubungan pria-wanita yang dibangun dengan cinta dan kasih sayang. Dimana keduanya hidup bersama dan saling bantu membantu. Tanpa cinta dan kasih sayang, hubungan keduanya bak sepasang kawan, atau mungkin antar buruh dengan majikan. Maka cinta dan kasih sayang menjadi sangat esensial dalam sebuah pernikahan.

Tetapi di mata Allah, relasi suami dan istri bukan semata karena cinta, tapi yang paling mendasar adalah di atas landasan keimanan. Cinta pada manusia, sebesar apapun tak ada nilainya bila menabrak ketaatan pada Allah SWT. Menghalalkan yang Ia haramkan, atau sampai membuat seorang pria menjadi buta karena cinta, lalu melepaskan ketaatan dan perjuangan di jalanNya.

Sayangnya, dalam catatan sejarah selalu ada pria-pria yang semestinya menjadi ‘sosok yang besar’ tapi kemudian lumpuh terkena ajian cinta dari wanita. Tarikh Islam mencatat seorang tabi’in bernama ‘Abdah bin ‘Abdurrahim yang murtad dan menemui su’ul khatimah karena dibutakan oleh cintanya kepada seorang perempuan Romawi.  Perempuan itu mensyaratkan ‘Abdah untuk keluar dari Islam bila memang ingin menikahinya.

Tetapi di mata Allah, relasi suami dan istri bukan semata karena cinta, tapi yang paling mendasar adalah di atas landasan keimanan.

‘Abdah yang penghafal al-Qur’an dan mujahid, seolah lupa dengan ayat-ayat Allah yang mengutuk keras perbuatan murtad. Ia dengan sukarela menukar keimanannya, kesalehannya, dan jihadnya, hanya untuk cinta pada seorang perempuan kafir.

‘Abdah akhirnya terpuruk dalam kemurtadan. Bahkan para ulama tarikh mencatat ia kehilangan seluruh hafalan al-Qur’annya kecuali dua ayat saja;

[arabic-font]رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ[/arabic-font]

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”

[arabic-font]ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ[/arabic-font]

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr: 2-3).

Tragedi ‘Abdah semestinya menjadi pelajaran bagi para lelaki, khususnya suami, bahwa tunduk pada cinta seorang wanita justru dapat menyeret mereka pada keterpurukan. Bukan kemuliaan justru kehinaan datang ditimpakan Allah pada mereka

Sayang, justru banyak pria tak dapat mengambil pelajaran dari sana. Banyak pria ‘lumpuh’ di hadapan wanita yang dicintainya. Tidak sedikit pengemban dakwah yang futur karena tak lulus ujian cinta. Ada yang tak sanggup menahan gejolak cinta haram dengan merajut cinta sebelum pernikahan terjadi.

Di sana-sini bisa berulang terjadi aktivis dakwah memilih melepaskan kemuliaan statusnya di hadapan Allah sebagai pengemban dakwah, untuk menghinakan diri dalam hubungan cinta yang haram, berpacaran. Tausiyah rekan sejawat bahkan para ustadz seperti tak masuk ke dalam telinga. Mereka seperti lupa dengan firman Allah:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk (TQS. al-Isra: 32)

Para pemuda lajang ini hilang kegagahannya ketika bertemu wanita yang mereka cintai. Lupa bahwa Allah Pemilik Cinta. Allah akan membalas cinta orang yang mencintainya dengan cinta yang berlipat-lipat.

Sayang, justru banyak pria tak dapat mengambil pelajaran dari sana. Banyak pria ‘lumpuh’ di hadapan wanita yang dicintainya. Tidak sedikit pengemban dakwah yang futur karena tak lulus ujian cinta. Ada yang tak sanggup menahan gejolak cinta haram dengan merajut cinta sebelum pernikahan terjadi.

Tragedi cinta yang tercela ini tak berhenti dan tak berlaku bagi para pria lajang, tapi juga para suami. Kaum lelaki yang telah berumah tangga ini tak sedikit yang hilang nilai qowwam-nya di hadapan istri-istri mereka. Mereka yang semestinya menjadi para pemimpin dalam keluarga, tegas menegakkan disiplin dan ketaatan pada Allah, justru dihinakan istri-istri mereka. Ironinya mereka tak merasa terhina. Lagi-lagi karena buta karena cinta (atau takut?!)

Ada yang menuruti saja kemauan istri-istri mereka. Hidup mereka diatur istri tanpa sedikitpun mereka membantah atau sekedar memberi interupsi. Mereka seperti kaum lelaki dalam drama komedi satir Suami-Suami Takut Istri. Kelelakian mereka lenyap kecuali dalam kebutuhan biologis belaka!

Ada suami yang lebih tega menghapus peluangnya menjadi orang mulia di akhirat kelak, membuang statusnya sebagai pejuang Allah, karena menuruti kemauan istrinya. Ia seperti seekor tikus buta yang dimainkan seekor kucing yang nakal; melumatnya tidak, hanya mempermainkannya belaka.

Para suami seperti itu lupa bahwa Allah SWT. mengingatkan mereka agar tidak meletakkan kecintaan pada keluarga di atas cinta pada Allah, Rasul, dan perjuangan di jalanNya.

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (TQS. at-Taubah: 24)

 

Bahkan saking buta dan lumpuh, mereka bisa berbuat tega pada orang tua dan keluarga. Mengorbankan silaturahim demi istri. Padahal Penghulu umat ini, Sayyidina Muhammad SAW. telah mewanti-wanti kaum suami jika mereka sampai takluk kepada istri dan durhaka pada ibu kandung mereka:

[arabic-font]…وَأَطَاعَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ وَعَقَّ أُمَّهُ… فَلْيَرْتَقِبُوا عِنْدَ ذَلِكَ رِيحًا حَمْرَاءَ وَزَلْزَلَةً وَخَسْفًا وَمَسْخًا وَقَذْفًا وَآيَاتٍ تَتَابَعُ كَنِظَامٍ بَالٍ قُطِعَ سِلْكُهُ فَتَتَابَعَ[/arabic-font]

suami taat kepada istrinya dan durhaka kepada ibunya… maka pada saat itu berhati-hatilah dengan angin merah, gempa, penenggelaman, penghapusan, dan pemuntahan itulah tanda-tanda yang berturut-turut, seperti aturan keadaan yang terputus, lalu diikuti yang lainnya. (HR Turmudzi)

Para suami, introspeksilah diri kita sekarang ini; apakah kita telah menjadi suami yang menjalankan fungsi qawwam ataukah justru takluk kepada rongrongan demi rongrongan istri? Benar, istri wajib untuk diperlakukan dengan cinta dan kasih sayang, tapi bukan berarti kemudian suami bertekuk lutut di ujung kaki istri. Memperturutkan semua keinginan istri, apalagi menjadi insan yang kemudian menuai celaan dari Allah SWT.

Andaikan itu telah terjadi, maka perbaikilah diri. Suami memegang amanah besar di hadapan Allah tentang istri dan anak-anak. Di antaranya adalah memimpin mereka agar berada dalam ketaatan padaNya, hidup ketenangan suasana ibadah, tapi selalu bergolak untuk memperjuangkan agama Allah.

Nyalakan bara keberanian untuk meluruskan kesalahan istri secara ma’ruf, dan jangan biarkan padam. Ketika istri membantah dan membangkang, maka ta’diblah sesuai tuntunan risalah ini agar ia menjadi istri shalilah di sisi suami.

Namun bila ia lebih memilih terus membangkang kepada suami yang telah cinta kepada Allah, maka para suami jangan cemas dan ragu, karena sesungguhnya mudah bagi Allah menggantikan mereka dengan wanita mulia darimana saja. Terlebih lagi para hurr ‘ain, wanita penghuni surga telah menghardik para istri pembangkang agar tidak mengganggu para suami yang saleh, karena kelak suami mereka akan hidup bersama para hurr ‘ain tersebut.

[arabic-font]لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهَا مِنَ الْحُوْرِ الْعَيْنِ: لاَ تُؤْذِيْهِ قَاتَلَكِ اللهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا[/arabic-font]

Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan berkata istrinya dari bidadari surga, “Janganlah engkau sakiti dia, semoga Allah mencelakakanmu, dia di sisimu hanyalah sementara. Hampir-hampir ia berpisah denganmu menuju kepada kami.”(HR. Tirmidz)

 

Lalu, apa yang membuat kalian lebih tunduk kepada istri ketimbang pada Allah, akhi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.