Pak Menteri, Cintailah Anak Rohis

 

Nama saya Iwan Januar, seorang bapak dari empat anak. Dulu saya sering mengamati dan membuat tulisan tentang dunia remaja. Alhamdulillah beberapa tulisan saya dan kolega saya seputar dunia remaja sudah dibukukan. Alasan saya mengamati dunia remaja dan membuat karya tulis seputar remaja karena bagi saya remaja adalah aset masa depan. Aset yang amat berharga.

Saya bersyukur bahwa negeri ini punya banyak remaja berkualitas. Banyak kawan saya sewaktu sekolah adalah siswa-siswa berprestasi. Begitupula adik-adik kelas saya pun banyak yang cerdas. Mereka bisa masuk kampus negeri favorit juga bekerja di sejumlah perusahaan bergengsi.

Namun saya pun masygul bahwa tidak semua remaja kita berada di jalur positif. Sebagian dari mereka justru terpuruk dalam gaya hidup kelam. Tawuran, pergaulan bebas hingga aborsi, narkoba, sampai pemahaman sesat seperti sekulerisme, ateisme, agnostik, juga telah lama masuk ke dunia remaja.

Tapi yang membuat saya tetap optimis bahwa remaja Indonesia bisa selamat dari berbagai kerusakan moral dan pemikiran itu, karena di tengah-tengah remaja juga tumbuh berkembang berbagai aktifitas dakwah yang digerakkan oleh remaja. Di masyarakat umum ada remaja mesjid dan di sekolah ada badan kerohanian Islam. Para remaja itu dibantu guru dan para ustadz yang kemudian bergerak untuk menyelamatkan kawan-kawan mereka.

Pak Lukman, mereka berdakwah tanpa pamrih. Tak mengharapkan bayaran bahkan mereka rogoh kocek mereka sendiri membiayai kegiatan kerohanian Islam. Mereka beraktifitas lebih banyak dibandingkan kawan-kawan mereka yang lain. Ketika siswa lain pulang ke rumah usai sekolah, mereka sering masih berkumpul di mesjid sekolah. Rapat, merancang kegiatan, mencari donatur, dan pulang ke rumah ketika hari sudah gelap.

Apakah Pak Lukman tahu, berapa banyak remaja dan pelajar yang sudah diselamatkan oleh para anggota rohis sekolah? Rohis-rohis sekolah itu tak kenal lelah menyebarkan dakwah Islam mulai dari pengajian di musola sampai seminar remaja. Mulai dari tema sholat sampai narkoba dan freesex mereka gelar. Hasilnya? Banyak kawan mereka yang tersadarkan. Siswi-siswi rekan mereka banyak yang mulai berkerudung dan berjilbab, meninggalkan pacaran, dan menggelorakan pengajian sepanjang koridor-koridor sekolah.

Saya heran kalau kemudian banyak pihak seperti LSM juga ormas Islam minta agar rohis itu diawasi. Rohis dituding penyemai bibit-bibit radikalisme. Bagi saya yang lama berkecimpung di dunia rohis, sedikit membantu adik-adik rohis, itu sama saja menuding adik-adik rohis sebagai tempat pengkaderan penjahat.

Saya tanya balik pada LSM atau ormas Islam yang terus menerus mencurigai rohis sekolah; apa sumbangsih mereka untuk menyelamatkan pelajar Indonesia? Apa pernah mereka berjuang tanpa pamrih seperti adik-adik rohis di sekolah? Berpeluh keringat, tidak diliput media, dan tanpa bayaran?

LSM dan ormas yang getol mencurigai rohis itu seperti tidak ikhlas kalau remaja Indonesia soleh dan taat beragama. Apa sih mau mereka? Lebih senang remaja kita dugem, tawuran, pacaran sampai hamil lalu menggugurkan kandungan? Saya belum mendengar para penebar kecurigaan itu melakukan aksi nyata apalagi tanpa pamrih seperti adik-adik rohis.

Karenanya saya terpukul betul ketika Pak Lukman sebagai Menteri Agama, juga sejumlah staf bapak daerah ikut-ikutan berteriak agar mengawasi rohis. Apa sih mau bapak-bapak ini? Katanya ingin remaja muslim soleh dan taat beragama, tapi kok malah ikut-ikutan melempar kecurigaan?

Sekarang dimana salahnya kalau remaja muslim Indonesia peduli pada problem Palestina, Suriah, Irak dan Uighur juga Myanmar? Bukankah itu menunjukkan mereka remaja yang punya kesadaran ukhuwah Islamiyyah yang tinggi? Kalau mereka marah ketika saudara mereka di luar negeri teraniaya bukankah itu positif, tanda ukhuwah, berarti mereka tidak egois?

Masak sih para Pak Lukman dan para bapak lain lebih senang kalau remaja kita mabuk drama Korea, nonton film komedi, atau kumpul di tempat karaoke?

Kalau memang ada remaja rohis yang terinfiltrasi ajaran terorisme, maka bina saja mereka. Itupun kalau ada. Karena sepengetahuan saya para pembina rohis baik itu para ustadz atau alumni, dari kelompok Islam manapun seperti HTI atau PKS, atau yang lain, tidak pernah mengajarkan terorisme di sekolah-sekolah.

Saya sering membantu kegiatan rohis-rohis di sekolah. Mereka anak-anak yang manis, santun dan hormat pada orang tua. Banyak di antara mereka adalah pelajar yang cerdas-cerdas. Apa iya mereka itu radikal, intoleran, dan bibit teroris?

Apakah Pak Lukman tahu menjadi anggota rohis itu berat? Saya dan kawan-kawan juga adik-adik kami pernah mengalaminya. Ada saja guru yang suka menyalahkan kegiatan rohis kalau prestasi akademik kami nge-drop, tapi begitu ada anggota rohis yang excellent hampir-hampir jarang disebut itu anak rohis.

Kalau sekarang Pak Lukman juga bapak-bapak di Kementerian Agama terus-terusan curiga, saya mau bertanya;

Tahukah bapak berapa jumlah remaja/pelajar kita yang terpapar narkoba? Berapa jumlah remaja kita yang mati setiap tahun karena narkoba termasuk miras?

Tahukah bapak berapa jumlah pelajar di tanah air yang sudah pernah melakukan seks pranikah? Berapa persen yang kemudian menggugurkan kandungannya?

Tahukah bapak berapa jumlah remaja/pelajar kita yang terlibat tawuran? Jadi anggota geng motor? Mati konyol saat tawuran dan aksi kebut-kebutan di jalan?

Pernahkah Pak Menteri Agama dan staf bapak mendata berapa jumlah remaja/pelajar kita yang masih buta huruf al-Qur’an? Yang full shalat lima waktu? Yang full puasa Ramadhan?

Silakan sesekali Pak Lukman atau staf bapak datang ke sekolah-sekolah umum terutama yang grade B atau C (maaf kalau saya mungkin keliru pakai istilah ini), tes baca al-Qur’an mereka, tanya shalat berapa kali dalam sehari, tanya soal mandi junub, bisa jadi para bapak akan tercengang betapa banyak remaja/pelajar kita nyaris blank dari pemahaman agama, bahkan untuk yang mendasar sekalipun.

Maaf kalau saya lancang bertanya; kontribusi apa yang sudah Pak Lukman dan staf lakukan untuk menyelamatkan remaja-remaja kita yang seperti itu? Berapa banyak anak buah bapak yang disebar untuk membuat kegiatan seperti yang dibuat rohis-rohis di sekolah? Dengan tanpa pamrih?

Di lapangan, para pelajar yang ada di organisasi rohis itulah yang justru bergerak dengan ikhlas menolong sesama remaja. Mereka membantu para guru, termasuk guru agama, membantu orang tua siswa, agar sesama pelajar menjadi generasi yang soleh.

Saya bapak empat anak. Saya amat khawatir dengan kondisi dunia remaja dan pelajar hari ini. Di rumah mungkin saya dan istri bisa mengawasi dan membina mereka, tapi di sekolah? Pelajaran agama hanya dua jam perminggu dan itu lebih teori saja. Kami berharap ada kakak-kakak kelas mereka di organisasi rohis yang membina anak-anak kami. Saya percaya banyak orang tua siswa yang punya harapan sama dengan kami.

Kalau hari ini dan kemudian seterusnya rohis diawasi, dibatasi ruang geraknya, hanya boleh mengkaji masalah ibadah dan akhlak, tidak membahas persoalan keumatan yang juga dunia mereka, bagi saya itu kemunduran. Dan kemunduran itu akan berdampak pada makin suramnya masa depan remaja muslim di Indonesia. Artinya di masa depan, akan banyak pejabat yang barangkali rajin ibadah dan fasih membaca al-Qur’an, tapi moral mereka bobrok dan tak kenal halal haram. Bukankah profil koruptor hari ini seperti itu? Ibadah jalan, korupsi juga jalan.

Maka janganlah bapak percaya dengan bisikan kanan kiri yang percaya dengan teori Islam radikal dan terorisme. Karena para pembisik itu sendiri tidak punya solusi untuk masalah remaja, dan tidak pernah turun membina remaja/pelajar Indonesia, apalagi dengan tanpa pamrih.

Saya percaya Pak Lukman pastinya tidak menginginkan pelajar dan remaja muslim Indonesia akan seperti itu di masa depan. Betul, kan Pak?

 

Incoming search terms:

  • Gambar kegiatan anak Rohis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *