Belajar Dari Kegagalan Khitbah

Decewa, sedih, dan ada rasa malu saat proses khitbah tak berlanjut ke akad nikah. Rasa gembira dan banyak harapan yang semula berkembang mendadak pudar. Belum lagi rasa malu saat bertemu dengan kerabat dan teman-teman dekat; nggak jadi dik, rencana nikahnya?

Itu pertanyaan yang tidak gampang untuk dijawab, apalagi bila diminta menjelaskan kronologis kejadiannya.

Namun kegagalan sebuah rencana terkadang bukan maunya kita. Banyak faktor mengapa sebuah proses khitbah buyar di tengah perjalanan. Daripada meratapinya, lebih baik ambil pelajaran dari kegagalan itu lalu bersiap untuk move on. Harapan itu masih ada.

 

1. Belajar untuk menerima qodlo Allah SWT.

 

Man proposes, God disposes. Kita punya rencana, tapi Allah punya keputusan. Dialah al-Qadir wal Muqtadir. Kegagalan khitbah itu episode dalam hidup untuk belajar menerima keputusan Allah SWT. Banyak hal dalam hidup yang berada di luar kemampuan kita sebagai manusia. Bisa karena si dia secara sepihak membatalkan khitbah, atau pihak keluarga dia atau justru keluarga kita yang keberatan prosesi khitbah berlanjut, atau karena faktor lain yang diluar kalkulasi kita sebagai manusia, termasuk kematian yang memutuskan ikatan khitbah tersebut.

Menerima qodlo/takdir Allah adalah tanda keimanan kita, bahwa manusia adalah lemah dan hanya Allah yang Mahakuasa.

 

2. Belajar Menata Komitmen

Di antara sebab gagalnya khitbah karena persoalan komitmen yang tak jelas. Satu pihak menunggu kepastian berlangsungnya khitbah sampai ke akad nikah, sedangkan yang satu lagi tak kunjung memberi kepastian. Ditanya bagaimana tanggapan keluarga, belum memberikan jawaban. Ditanya rencana kapan akad akan dilangsungkan, malah menghindar. Ketika ditanya perkembangannya jawabannya; “Kalau akhi/ukhti merasa keberatan, ya kita udahan saja.” Ini jawaban yang menyebalkan juga menyakitkan.

Bila posisi akhi/ukhti merasa sebagai korban yang di-PHP-kan, saran saya sebaiknya ambil sikap tegas. Cukup sampai disini. Capek menunggu kabar yang tak jelas juntrungannya, sedangkan di pihak sana seperti tak peduli.

Tapi kalau posisi akhi/ukhti sebagai pihak yang memberi PHP, segeralah berubah. Tak ada orang yang senang diulur-ulur janjinya. Manusia itu diikat dengan komitmennya. Khitbah dan pernikahan itu membutuhkan komitmen kuat. Coba rasakan sendiri betapa capeknya menjadi korban PHP oleh orang lain.

 

3. Lebih giat lagi melobi keluarga

Tidak bisa dipungkiri pernikahan itu pastinya melibatkan keluarga, apalagi untuk akhwat. Dukungan dan persetujuan kedua orang tua menjadi sangat penting. Dan keluarga juga yang bisa menjadi penyebab gagalnya proses khitbah. Tidak cocok dengan calon mantu, tidak match dengan keluarganya, dengan status pendidikannya, sukunya, sampai rencana resepsi pernikahan yang syar’iy.

Kerasnya benturan dengan pihak keluarga menandakan selama ini hubungan kita dengan mereka baru sebatas hubungan ‘senang-senang’, belum sampai kesamaan visi dan misi dan pemahaman Islam. Ketika keluarga ‘menggagalkan’ proses khitbah kita, maka waktunya untuk lebih giat lagi mendekati keluarga dan menyamakan visi misi pernikahan.

 

4. Belajar positive thinking

Barangkali bagi yang baru sekali merasakan kegagalan cinta (jiaaaa…) bisa dengan cepat belajar berpikir positif, tapi buat yang sudah beberapa kali gagal, ini terasa berat. Namun, inilah ujian bagi kita untuk terus berpikir positif, berprasangka baik pada Allah SWT. Bahwa Allah tak akan pernah menzalimi hambaNya dengan membuatnya merana karena cinta, tapi kegagalan itu skenarioNya untuk membuat kita lebih bahagia di waktu yang lain dengan orang yang memang layak menerima cinta kita.

Bro en sis, lihatlah orang-orang yang lebih berat ujiannya ketimbang sekedar gagal berkhitbah. Ada yang bercerai berkali-kali, ditinggal mati pasangan, ditinggal mati anak, kehilangan pekerjaan, dsb. Banyak dari mereka tetap bisa tegap dan move on. Melangkah menuju babak baru kehidupan. Percayalah, kamu juga bisa.

 

5. Move on menuju Cinta Baru

Ketika Ummu Salamah ditinggal wafat suaminya, Abu Salamah ra., Rasulullah SAW. mengajarkan doa yang artinya; “Ya Allah jadikanlah pahala atas musibah yang menimpaku, dan gantilah ia dengan yang lebih baik.”

Rasulullah SAW. bukan saja mengajarkan ketabahan dan harapan pada Ummu Salamah ra., tapi juga mengajarkannya untuk siap menerima kehadiran cinta yang baru, calon suami yang lain, yang tak lain adalah Rasulullah SAW.

Pengajaran ini berlaku untuk Anda yang pernah gagal dalam khitbah. Selain kita diminta tetap optimis, juga selalu terbuka akan ada orang lain yang pantas untuk kita cintai. Lupakan si dia yang sudah gagal dalam proses khitbah yang lalu, persiapkan diri untuk menyambut kehadiran cinta yang lain. Insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *