Apa Yang Kalian Timpakan Pada Kami Hanya Membuat Kami Yakin Bahwa Langkah Kami Adalah Benar

 

Rabu, 19 Juli, pemerintah secara resmi mencabut ‘nyawa’ Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dengan mencabut status badan hukumnya. Rezim bergeming meski tindakannya bertentangan secara hukum. Bahkan Perppu Ormas yang telah dibuat untuk melemahkan hingga mematikan ormas, juga sudah dituding bermasalah dan inkonstitusional, menabrak perundang-undangan dan wewenang pengadilan. Tapi rezim Jokowi yang sepintas nampak bersahaja, lugu dan polos, ternyata berdarah dingin. Gilas terus.

Senjata paling mematikan yang dipakai untuk mencabut nyawa HTI adalah ideologi khilafah yang diperjuangkannya bertentangan secara diametral dengan Pancasila dan NKRI. Dalam sejarah bangsa, siapapun bila sudah dituding anti-Pancasila maka tamat riwayatnya di negeri ini. Sejak zaman Orde Lama, Orde Baru, dan terkini Orde Reformasi, hal itu selalu berulang. Tudingan anti-Pancasila, dan sekarang ditambah dengan Perppu, meminjam istilah orang sudah menjadi ‘senjata pemusnah massal’ siapa saja.

Para rezim, selalu berusaha keras membuat publik percaya bahwa tindakannya demi menyelamatkan keutuhan negara, demi kebaikan semua pihak, meski tindakan mereka sebenarnya inkonsitusional. Seperti dalam kasus pencabutan badan hukum HTI, tak ada peringatan, tak ada panggilan, tak ada pembinaan, langsung eksekusi.

Tapi sudahlah, berdebat masalah itu di ranah hukum buatan manusia memang melelahkan. Seperti kata Rhoma Irama; kau yang berjanji kau yang mengingkari. Semua rezim di negeri ini penuh dengan  janji palsu, tapi sejujurnya yang paling keterlaluan adalah rezim ini.

Kembali ke persoalan pembubaran HTI; bagi mereka yang selama ini terlibat dalam dakwah bersama HTI, 90 persen justru sudah bersiap dengan kondisi ini, bahkan mungkin yang lebih buruk sekalipun. Karena di lubuk mereka dakwah ini adalah proyek Allah, mereka hanya meneruskan apa yang sudah dilaksanakan para nabi dan rasul. Mereka pun melihat bahwa dakwah bukanlah piknik yang selalu membuai perasaan. Akan ada guncangan dalam perjalanan. Mereka bukan saja sadar, meski tak pernah berharap, tapi percaya hal itu suatu waktu bisa terjadi. Mereka pun bersiap.

Bahkan sebelum Perppu dan pembubaran itu terjadi, boleh percaya boleh tidak, tidak sedikit syabab Hizbut Tahrir yang ‘membubarkan’ kehidupan lamanya. Ada yang meninggalkan bisnisnya yang beromset ratusan juta hingga miliaran rupiah karena belepotan riba, dan di antara mereka ada yang malah mengambil profesi amat sederhana. Saya pernah temui seorang kader HTI yang melepaskan jabatan dan fasilitas mewah di perusahaannya dan memilih jadi supir pribadi, karena tak tahan praktek-praktek kotor dalam bisnis perusahaannya. Semua mereka lakukan Lillahi Ta’ala. Di antara mereka ada yang buruh cuci, tukang becak, pedagang makanan ringan, sampai kelas profesor dan pengusaha. Tapi jalan dakwah ini tak pernah mereka jadikan ladang penghidupan, malah mereka bekerja keras menghidupi dakwah. Yang membuat mereka mau begini adalah keyakinan; yakin akan janji Allah dan yakin bahwa yang diperjuangkan adalah kebenaran, bukan kemungkaran.

Alhamdulillah, selama perjalanan dakwah;

HTI tidak pernah membela Ahmadiyah

Tidak pernah membela Syiah Rafidlah

Tidak pernah membela kau Gay, Lesbian, dll.

Tidak pernah membela sekulerisme-pluralisme-liberalisme

Tidak pernah berkongkalikong dengan kaum imperialis Timur atau Barat untuk merampok SDA negeri ini

Tidak pernah korupsi harta negara, bahkan menolak donasi pemerintah dan swasta sepeserpun. Semua kegiatan dan fasilitas dakwah adalah sumbangsih kader-kader HTI

Tidak pernah anarkis, selalu taat aturan saat melakukan aksi dan kegiatan

Tidak pernah memfitnah sesama muslim

Tidak pernah menuduh sesat, bid’ah, pada sesama muslim

Tidak pernah keluar dari kajian kitab-kitab mu’tabar ahlussunnah wal jama’ah

HTI peduli pada nasib negeri mulai dari kenaikan BBM, tarif listrik, pendidikan, separatisme sampai Freeport.

Soal khilafah? Mari kita diskusikan dengan hati terbuka bagaimana pandangan ulama mu’tabar ahlussunnah wal jamaah tentang hukum kewajiban khilafah. HTI hanya meneruskan warisan para ulama, bukan mengarang-ngarang gagasan khilafah. Bila saat ini ide khilafah akan diberangus, sama saja anda para rezim, memberangus kajian ilmiah para ulama salaf yang telah berusia ribuan tahun.

Karenanya, apa yang kalian, wahai rezim, timpakan pada kami, hanya akan membuat kami semakin yakin bahwa kami sedang membela kebenaran. Kami melihat sebagaimana yang dilihat para sahabat radliallahu ‘anhum saat Perang Ahzab, ketika ribuan tentara koalisi lawan mengepung Madinah dan bersiap melumatnya. Ucapan para sahabat justru membenarkan janji Allah dan RasulNya:

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (TQS. al-Ahzab: 22).

Dan kami yakin bahwa akan ada satu titik ternadir dari Anda, wahai rezim, semua akan selesai seolah-olah kalian tak pernah ada di permukaan bumi.

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (TQS. 17: 16).

Soal rencana mengganti Pancasila?

Ah, saya teringat dengan pernyataan filsuf Yunani, Heraclitus, “The Only Thing That Is Constant Is Change”. Suka atau tidak suka, pernyataan Heraclitus perlu direnungi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *