4 Langkah Melindungi Remaja Dari Bunuh Diri

 

Anak-anak muda tak akan lagi bisa mendengarkan lengkingan live dari seorang Chester Bennington, vokalis grup rock Linkin Park. Pada hari Kamis (20/7)  Chester ditemukan mati bunuh diri.  Selain mengalami depresi, ia dirundung adiksi narkoba dan minuman keras. Sudah berulangkali pula ia menyatakan mencoba bunuh diri. Kali ini benar-benar ia lakukan…dan berhasil.

Ada Chester, Ada Oka. Siapa Oka? Pria ini memang hanya dikenal di kalangan anak-anak muda pecandu medsos instagram. Oka salah satu dari sekian orang yang menjadi selebgram. Di dunia instagram pria bernama lengkap Oka Mahendra terkenal bersama kekasihnya, Awkarin. Mereka berdua kerap memajang foto keintiman yang kontroversial namun disukai oleh anak-anak muda. Oka juga diberitakan meninggal di tengah depresi terlilit hutang usaha. Awalnya diberitakan bunuh diri, tapi keluarga membantah. Meski tak memungkiri putra mereka memang tengah depresi berat.

Lain Chester, lain Oka. Chester Bennington mati justru bunuh diri di tengah kesuksesan karirnya. Beberapa album Chester bersama Linkin Park sukses terjual jutaan keping. Beberapa lagu mereka kerap dijadikan soundtrack film box office. Anak muda mana yang tak hafal lagu Crawlin, Numb, atau lagu What I’ve Done yang jadi soundtrack film Transformers 2?

Tapi ada yang sama dari keduanya; depresi dan bunuh diri di usia masih muda. Tragedi ini seharusnya jadi sinyal penting bagi orang tua, masyarakat dan negara, kalau bunuh diri akibat depresi sudah jadi epidemi. Jumlah remaja yang alami depresi di seluruh dunia rata-rata memang meningkat. Di AS, dalam satu dekade jumlah teenager yang alami depresi, khususnya remaja putri, naik menjadi 37 persen. Begitu laporan situs Time (http://time.com/4572593/increase-depression-teens-teenage-mental-health/).

Jumlah bunuh diri juga di usia muda juga meningkat. Menurut data WHO di tahun 2005, pelaku bunuh diri kebanyakan usia muda antara 15-24 tahun. Komnas Perlindungan Anak Indonesia juga mencatat Indonesia sudah masuk darurat bunuh diri anak. Tahun 2014 saja ada 89 anak meninggal akibat bunuh diri.

Meningkatnya depresi dan bunuh diri pada remaja adalah gambaran memburuknya kesehatan mental masyarakat. Selama ini, pembangunan selalu ditujukan untuk perbaikan materi dan gizi masyarakat, bukan pada kesehatan mental. Tidak heran karena memang begitulah paradigma masyarakat dengan sistem sekulerisme-kapitalisme.

Negara dan masyarakat bagaimanapun juga bertanggung jawab dalam mencegah depresi dan tindak bunuh diri di masyarakat, khususnya remaja. Budaya sekulerisme-kapitalisme harus dihentikan karena menjadi penyebab hancurnya mental remaja.

Sekulerisme-kapitalisme memiliki anak kandung, hedonisme. Budaya yang memuja kejayaan materi dan ketenaran. Dua hal yang paling diburu manusia yang hidup di dalamnya. Faktanya, dua hal itu tidak membawa kebahagiaan pada pemiliknya. Chester Bennington, Heath Ledger, Chris Cornell, Whitney Houston, dll., adalah ‘korban-korban’ kesuksesan hidup. Tenar dan kaya tapi tak bahagia.

Sayangnya, masyarakat apalagi remaja tertarik dengan hal itu. Oka dan Awkarin misalnya, dua sejoli yang merintis kesuksesan di dunia maya, khususnya instagram. Mereka kerap pajang foto-foto keintiman yang kontroversial, tapi selalu dinanti para followernya. Namun belitan masalah ternyata tak bisa ditanggung oleh Oka yang kemudian memilih bunuh diri.

Benar. Negara harus bertanggung jawab. Namun, orang tua adalah benteng pertama dalam melindungi remaja dari depresi dan tindak bunuh diri. Dalam kacamata Islam, kedua orang tua bertanggung jawab dalam menjaga kesehatan fisik dan juga mental anak. Orang tua wajib melindungi anak-anak mereka dari berbagai serangan budaya yang dapat menghancurkan mental sehingga mereka depresi.

Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk melindungi dan menjaga kesehatan mental remaja di rumah;

Pertama

Bangun komunikasi dengan dorongan kasih sayang. Hindari komunikasi bergaya koersif seperti menekan, mencurigai, memaksa, investigasi, kepada anak. Remaja akan menghindar dari orang tua ketika merasa dicurigai, diintimidasi, dan ditekan. Ini membuat mereka tak punya tempat curhat di rumah dan kemudian kemungkinan besar salah memilih teman bergaul.

 

 

Kedua

Batasi penggunaan media sosial dalam keluarga. Media sosial punya sisi negatif pada remaja. Sejumlah kasus depresi dan bunuh diri pada anak dan remaja dipicu bullying yang terjadi di dunia maya. Oleh karenanya orang tua perlu membuat aturan penggunaan juga terlibat dalam media sosial yang dipakai oleh remaja.

 

Ketiga

Menerima prestasi anak dengan bijak. Banyak remaja mengalami depresi menjelang ujian. Selain khawatir mendapat nilai buruk, mereka juga khawatir tidak dapat memenuhi keinginan orang tua. Tidak sedikit orang tua yang menekan anaknya untuk berprestasi, masuk sekolah atau PTN favorit, lalu bekerja di perusahaan bonafid. Keadaan ini membuat remaja semakin tertekan. Jepang dan Korea Selatan adalah contoh banyak remaja bunuh diri akibat tekanan pendidikan yang begitu tinggi. Jadi, ayah bunda, bijaklah dalam menyikapi prestasi anak. Cerdas itu tidak hanya dilihat dari prestasi akademik, tapi dari kemampuan berorganisasi, bersosialisasi, kreatifitas seni, dsb.

 

Keempat

Tanamkan sikap tawakal pada Allah SWT. Rata-rata mereka yang depresi dan berlanjut bunuh diri karena merasa hidup sudah tak punya harapan. Sikap itu datang karena tak paham konsep tawakal yang benar dalam agama. Seorang muslim wajib mengimani bahwa manusia itu memang lemah, dan Allah jualah satu-satunya yang Mahakuat, Maha Menentukan, dan tempat bersandar serta menaruh harapan.

Bila remaja punya pemahaman yang benar tentang makna tawakal, maka mereka akan paham bahwa dalam hidup tak cukup hanya percaya pada diri sendiri, tapi wajib meyakini adanya takdir/qodlo Allah SWT. Dengan tawakal, remaja tak akan berputus asa karena yakin bahwa kejadian dalam hidup ada yang telah ditentukan oleh Allah, maka mereka belajar untuk ikhlas menerima segala takdir Allah Ta’ala, bukan malah meratapi yang berujung pada depresi kemudian bunuh diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *