Dakwah Humanis Atau Ideologis

Public-SpeakingSiapa saja yang telah membaca al-Quran dan mempelajarinya dengan seksama pasti tidak meragukan bahwa Islam adalah ajaran hidup yang paripurna. Setiap jengkal kehidupan umat manusia memiliki aturan yang khas dalam Islam. Mulai dari soal akidah hingga akhlak. Mulai dari bahasan soal senyum hingga mengayunkan pedang di medan peperangan. Mulai dari masalah cinta hingga konflik politik, memiliki bahasan yang khas dan sempurna dalam ajaran Islam.

Kesempurnaan Islam ini mewajibkan setiap muslim untuk mengikatkan diri mereka dengan kaffah dalam bangunan Islam. Saat lisan sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka tak ada alasan untuk meninggalkan satu ayat pun dalam al-Quran meski itu sekedar “alif lam mim”. Tak ada satupun hukum dalam Islam yang boleh ditelantarkan sekalipun itu hanya batalnya wudlu karena kentut.

Dakwah Islam yang mesti disampaikan pun mesti berisi ajakan berIslam secara paripurna. Seorang muslim wajib menyampaikan Islam ‘apa adanya’. Tidak pantas ia menolak membahas persoalan politik dan hanya ingin fokus pada persoalan akhlak, sebagaimana tidak boleh ia mengkhususkan diri mengajarkan tahsin al-Quran lalu melupakan permasalahan muamalah.

Namun demikian, bisa saja seorang muslim melepaskan dirinya dari atribut Islam paripurna, dari Islam yang ideologis. Lalu ia hanya menampakkan Islam sekedar urusan ibadah, akhlak, atau percintaan dan keluarga belaka. Tapi itu pilihan yang sudah pasti akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Akhir kelak.

Saat ini banyak muslim yang tidak berkeinginan menampakkan Islam sebagai rahmatan lil ‘amalin, ideologi yang mendatangkan berkah, lalu mereka memilih berislam yang parsial, termasuk enggan menyampaikannya pada orang lain.

Ada tiga alasan yang membuat kita berlepas dari dakwah Islam ideologis, untuk kemudian menampakkan dakwah Islam yang humanis, dapat diterima semua kalangan dan pragmatis. Yaitu;

1.Dakwah Islam Humanis itu lebih dapat diterima semua kalangan ketimbang dakwah Islam ideologis. Tidak akan ada orang yang tersinggung, tersakiti, atau terancam ketika Anda menyampaikan dakwah Islam Humanis, karena dalam dakwah Islam Humanis Anda melulu beramar ma’ruf, mengajak orang berbuat baik.

Dalam ajakan kebaikan itu pun Anda akan menyampaikan kebaikan yang universal dapat diterima semua umat manusia dengan segala perbedaannya. Anda mengajak mereka berbakti pada orang tua, sayang istri dan anak-anak, tolong menolong dengan sesama rekan kerja dan menabur enerji positif.

Anda tidak akan menyinggung apalagi mengecam keyakinan orang atheis, orang Ahli Kitab, orang musyrik, karena itu bertentangan dengan ajaran humanisme. Singkat kata, dengan dakwah humanisme, Anda akan memandang semua orang dengan latar belakangnya – juga agama dan keyakinannya – adalah baik. Sehingga dakwah Anda akan lebih diterima banyak kalangan. Spektrum dakwah Anda lebih luas ketimbang Islam ideologis yang menslogankan satu-satunya kebenaran adalah Islam, bukan yang lain.

2. Dakwah Humanis disukai banyak orang karena menghibur, ketimbang dakwah Ideologis. Tabiat manusia tidak suka disalahkan, atau dipaksa untuk mengikuti satu aturan. Selain itu manusia lebih suka mencari keuntungan yang segera dapat dirasakan. Nah, dakwah humanis menawarkan semuanya. Dakwah humanis begitu ringan dan menghibur. Audiens tidak diminta untuk berpikir yang berat seperti persoalan konstelasi politik internasional, jeratan hutang internasional, atau bobroknya sistem demokrasi. Tidak. Mereka diminta hanya fokus berbuat baik pada sesama, tolong menolong, menebar kebaikan yang hasilnya akan mereka rasakan sebagai tabungan enerji positif.

Dalam dakwah humanis orang juga tidak akan diminta berkorban sesuatu yang berat seperti meninggalkan bisnisnya perbankan-nya, atau melepas rumah kesayangannya karena cicilannya mengandung unsur riba, menyuruh istri untuk memakai jilbab padahal ia seorang fotomodel pakaian dalam misalnya.

3. Dakwah Humanis itu menjanjikan keuntungan ketimbang dakwah ideologis. Of course! Dakwah ideologis itu beresiko, menentang budaya mainstream, dan membuat orang merasa tidak nyaman. Sedikit orang yang mau mendengarkan dan mau mengikuti ajakan seperti ini.

Sebaliknya, ajakan humanisme itu relatif kecil resikonya. Apalagi di zaman yang penuh dengan tekanan ekonomi dan sosial, orang membutuhkan solusi praktis  dan sesuatu yang menghibur. Maka dakwah yang berisi ajaran humanisme itu lebih diminati dan secara bisnis ini amat menjanjikan.

Televisi dan khalayak membutuhkan dakwah model seperti ini. Bukan dakwah yang membuat kening berkerut, hati tidak nyaman, dan beresiko tinggi. Jadi, dakwah humanis itu lebih menguntungkan dan menjanjikan.

 

Apakah itu berarti kita harus melepas dakwah ideologis dan berpaling ke dakwah humanis yang ringan, disukai banyak orang, menghibur dan profitable?

Ah, andaikan para nabi dan rasul mencontohkan yang demikian kita pasti pantas untuk mengikutinya. Tapi realitanya Nabi Nuh harus berhadapan dengan kebencian kaumnya termasuk istri dan anak lelakinya, selama ratusan tahun.

Nabi Ibrahim harus rela dibakar oleh Raja Namrudz, Nabi Isa diburu oleh kaum Bani Israil, dan Rasulullah SAW. tercinta berlumuran isi perut unta, dicekik, dilontari batu, dan berdarah-darah di medan Uhud.

Andaikan kita ditanya mana model dakwah yang harus dipilih; jawabannya adalah firman Allah yang turun kepada Rasulullah SAW. saat Beliau merasa galau dengan kondisi orang-orang Mekkah yang banyak menolak ajakan berislam.

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. (TQS. Al-An’am: 33-34).

Mari banyak beristighfar, meminta petunjuk dan pertolongan serta bersabar dalam menjalankan semua perintah Allah SWT., agar kita menjadi insan yang istiqomah di jalanNya.

Incoming search terms:

  • dakwah dan humanisme
  • ciri dakwah humanis
  • dakwah humanis
  • dakwah humanisme
  • muslim humanis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *