Percaya Diri; Segalanyakah Bagi Anak?

Nak kamu harus percaya diri!

Yakin kalau kamu bisa!

Ungkapan ‘percaya diri’ seperti menjadi mantra sakti buat manusia. Para motivator sering memotivasi peserta training untuk jadi pribadi yang percaya diri. Orang tua juga memotivasi anaknya agar percaya diri menghadapi masalah hidup.

Tapi betulkah percaya diri itu segalanya? Sakti bagi anak untuk bertarung menghadapi berbagai masalah? Kalau Anda, orang tua, percaya begitu saja, simak dulu kisah tragis berikut;

Sebut saja namanya Dion, mahasiswa dari satu kampus PTN terkemuka di Jakarta, berprestasi sejak sekolah dasar, selalu juara kelas, dan IPK selalu di atas tiga selama kuliah. Tak dinyana ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Berkali-kali gagal mengajukan skripsi karena ditolak dosen diduga kuat menjadi pemicu bunuh dirinya. Selain itu ia juga baru putus cinta. Seuntai tali menjadi pemutus akhir hidup mahasiswa cerdas itu.

Cerita mahasiswa cerdas seperti Dion memang tragis. Bukan satu atau dua orang-orang cerdas berujung derita. Ternyata kecerdasan intelektual bukan menjadi garansi seseorang bisa tegar menghadapi persoalan hidup. Kurang apa Dion? Cerdas, berprestasi, tak ada yang kurang dari ‘kepercayaan dirinya’.

Kepercayaan diri bukan segalanya. Ada basic atau dasar dalam kehidupan setiap manusia. Kepercayaan diri biasanya dibangun karena power atau kapital yang melekat pada dirinya semisal kecerdasan, kekuatan fisik – juga ketampanan atau kecantikan –, harta, termasuk dukungan dari orang-orang sekitar.

Manusia bisa begitu percaya diri karena seabreg kapital itu. Namun bagaimana bila modal itu lenyap? Atau ia menghadapi persoalan yang berada di luar kemampuannya? Umumnya orang akan ambruk. Itulah ambang batas kepercayaan diri.

Karenanya meletakkan kepercayaan diri di atas kehidupan kita juga anak-anak sama saja membangun kehidupan yang rapuh. Manusia adalah mahluk lemah meski memiliki segala sumber daya dalam kehidupan. Anak-anak yang biasa bergantung pada orang tua, maka akan ambruk saat kedua orang tuanya tak ada. Anak-anak yang dibangun percaya diri karena harta, akan rapuh saat harta mereka tak ada. Anak-anak yang dibangun percaya diri karena kecerdasan akan frustrasi menghadapi persoalan yang tak bisa diatasi kecerdasan akalnya.

Asas yang benar yang semestinya jadi landasan kehidupan kita adalah percaya pada Allah. Itulah keimanan. Allah memiliki kekuasaan dan kekuataan yang tak terbatas yang sanggup mengatasi berbagai persoalan manusia karena memang semua persoalan hakikatnya adalah ujian dari Allah. Dia adalah al-Ghaniy dan al-Mughniy, yang Mahakaya dan Maha Membuat hambaNya menjadi kaya, tak akan pernah kehabisan kapital atau sumberdaya untuk membuat siapa saja menjadi kaya raya. Dia juga al-Qabidh yang Maha Menyempitkan rizki seseorang, yang bisa meludeskan kekayaan siapa saja yang Ia kehendaki.

Bangunlah kepercayaan diri pada anak dengan landasan iman kepada Allah. Sampaikan pada mereka bahwa hanya kepada Allah kita menggantungkan segala harapan dan kekuatan. Adapun jerih payah kita adalah sekedar upaya yang akan menjadi pahala di hadapanNya, tapi hasil akhir Dialah yang Maha Menentukan.

Begitupula pada saat anak-anak kita didera musibah, maka ingatkan mereka bahwa semua adalah kehendak Allah semata. Takdir yang telah Allah putuskan meski terasa pahit namun sungguh akan membawa hikmah bagi mereka yang ikhlas menerimanya. Ada seorang pianis cilik bernama Hee Ah Lee yang dikagumi banyak orang karena kepiawaiannya memainkan berbagai lagu padahal kedua tangannya cacat, ia hanya memiliki empat jari. Ketika ditanya seorang reporter, “Menurut Anda mengapa Tuhan memberikan Anda jari hanya empat?” Ia menjawab, “Melalui musik empat jari, Tuhan memberi saya sebuah misi pada orang-orang cacat. Saya selalu berterima kasih pada Tuhan bahwa ia melakukan ini untuk menggunakan saya dalam cara tertentu.”

Allah jua yang menolong Yusuf as. dari keterpurukan; dibuang ke sumur oleh saudara-saudarnaya, difitnah, dimasukkan ke dalam penjara, lalu kemudian menjadi bendahara di kerajaan Mesir. Allah juga yang memberikan kemenangan pada Nabi Daud as. atas raja Jalut, Allah juga yang menyelamatkan Musa saat dihanyutkan di Sungai Nil agar tak dibunuh hulubalang Fir’aun, dsb.

Anak-anak kita harus dilatih berbagai macam disiplin ilmu dan kemandirian, agar ia tak bergantung pada orang lain. Namun hanya sekedar percaya diri tak akan cukup menolong anak-anak kita mengarungi berbagai persoalan kehidupan. Orang yang amat percaya diri secara tak sadar sudah ‘menuhankan’ dirinya, bahwa cukup dia saja maka bisa menjaga dirinya. Dan ketika aneka persoalan menghadangnya, dan ia merasa tak ada jalan keluar, keputusasaan akan menjerat.

Tapi siapa yang bertawakal pada Allah, niscaya Allah cukupkan segala kebutuhan dan pertolongan untuknya.

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (TQS. ath-Thalaq: 3)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *