Ketika Anak-Anak Kita Buta Al-Qur’an

????????????????????????????????????

Anak Membaca Al-Qur’an

Apa perasaan orang tua bila melihat anak mereka menghina al-Qur’an? Orang tua yang sehat akalnya pasti akan marah dan berusaha mencegahnya. Soal pelecehan al-Qur’an oleh remaja terjadi di tanah air, di dua kota berbeda, Tulung Agung, Jawa Timur dan Pasaman Barat, Sumatera Barat. Seperti sebuah tren, dua kejadian itu terjadi dalam waktu yang berdekatan.  Ada dua adegan yang terjadi, bergaya menginjak al-Quran dan menjadikan al-Quran sebagai bantal. Kejadian itu mereka abadikan dengan kamera lalu diupload ke media sosial. Ironinya hal itu terjadi di bulan Ramadhan, bulan agung, bulan turunnya al-Qur’an.

Kita bertanya-tanya, bagaimana bisa orang beragama Islam tapi berani melakukan tindakan konyol terhadap kitab suci agamanya sendiri? Bukankah setiap muslim, termasuk anak-anak dan remaja, tahu kalau al-Quran adalah kitab suci? Memegangnya saja harus berwudlu, lalu bagaimana bisa ada remaja yang beramai-ramai melakukan pelecehan terhadap al-Qur’an, apalagi dengan bergaya menginjaknya?

Jawabannya simpel, hari ini banyak anak-anak kaum muslimin yang tumbuh dewasa dalam lingkup keluarga dan lingkungan yang jauh dari Islam. Di tengah keluarga, banyak orang tua yang tidak menanamkan keislaman, termasuk menumbuhkan rasa cinta anak pada al-Qur’an. Coba, berapa banyak orang tua yang tidak resah ketika anaknya belum lancar membaca al-Qur’an jelang baligh? Banyak. Tidak seresah hati mereka jika anak tidak bisa masuk sekolah favorit yang biayanya belasan hingga puluhan juta rupiah.

Itu baru persoalan membaca. Sementara al-Qur’an bukan sekedar bacaan, tapi juga penghayatan dan pengamalan. Kalau kita telusuri lagi berapa banyak orang tua yang mendidik anak-anaknya tanpa aturan al-Qur’an, maka jawabannya lebih banyak lagi. Anak mereka tidak diajarkan tata cara bersuci, dikenalkan pada halal dan haram, menjaga aurat, dsb.

Tapi anak-anak mereka begitu akrab dengan kecanggihan iptek, hiruk pikuk dunia selebriti dalam dan luar negeri, hafal lagu-lagu asing, dll. Tapi di antara mereka bahkan ada yang tidak tahu cara mandi junub.

Inilah kelengahan kita sebagai orang tua. Pada saat orang tua menikah dan berencana memiliki anak tapi tidak mempersiapkan diri menjadi orang tua yang salih, maka bagaimana bisa anak-anak mereka akan tumbuh dan berkembang sebagai generasi yang salih. Semua berawal dari motivasi pernikahan mereka sekedar cinta, bukan untuk meningkatkan nilai takwa di hadapan Allah SWT.

Saat Allah SWT. memerintahkan orang tua dengan firmanNya “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”(TQS. at-Tahrim: 6), bukankah itu berarti kedua orang tuanya harus terlebih dahulu paham apa saja yang dapat membuat seorang muslim dibakar api neraka? Bukankah kita bisa menjauhkan anak dari makanan beracun jika kita sudah tahu apa saja yang termasuk makanan beracun? Bila tidak, maka kemungkinan besar anak-anak akan terpapar makanan beracun.

Orang tua begitu teliti memilihkan makanan yang sehat dan bergizi untuk anak-anak. Saat mereka belum lahir sudah dipersiapkan kamar anak dan segala kebutuhan anak selengkap mungkin. Kalau bisa membeli yang baru dan terbaik, tapi jarang yang sudah membuat konsep pendidikan anak secara Islami di dalam rumah.

Bila sudah demikian, wajarlah bila bermunculan anak-anak kaum muslimin yang tidak paham agama mereka sendiri, tidak tahu kitab suci mereka, malah menganggap agama dan kitab suci adalah mainan yang bisa mereka jadikan joke sesuka mereka. Sungguh sedih menyaksikan peristiwa ini terjadi.

Meski begitu kesalahan tidak sepenuhnya berada di pundak orang tua. Terasingnya Islam dari dunia anak-anak kita bukanlah terjadi secara alami, tapi berjalan karena sebuah proses kesengajaan. Indonesia, negeri yang mayoritas muslim telah lama menjalankan kebijakan sekulerisasi di semua bidang, termasuk pendidikan.

Hasilnya pendidikan agama minim di semua jenjang pendidikan. Kontennya juga amat terbatas, dan tidak jarang tenaga pengajarnya pun minim kualitasnya. Ditambah lagi metode pengajarannya yang tidak down to earth, dapat diterima oleh dunia anak-anak dan remaja.

Pelajaran agama cenderung monoton, membosankan, akhirnya tidak dicintai oleh anak-anak dan pelajar. Bahkan tidak jarang dijadikan lelucon di antara para pelajar.

Ini adalah tugas besar bagi kita, orang tua dan para guru agama mengubah potret buram ini. Di dalam rumah, kedua orang tua harus bekerja keras menjadikan agama sebagai habit atau bi’ah, alias kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Tumbuhkan budaya shalat tepat waktu, berjamaah ke mesjid, membaca dan menghafal al-Qur’an, dan belajar memahami serta mengamalkan isi al-Qur’an. Untuk itu orang tua wajib untuk meningkatkan kualitas diri agar lebih dulu paham Islam sebelum anak-anak mereka.

Bila itu dilakukan, maka dalam hati anak-anak kaum muslimin akan tumbuh rasa cinta yang luar biasa kepada agama mereka. Jangankan melecehkan, mereka malah siap membela kemuliaan agama. Persis seperti riwayat dua orang remaja di medan Perang Badar, Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ Radhiyallahu ‘anhuma, yang sengaja berperang untuk menyingkirkan Abu Jahal. Hal itu menjadi obsesi mereka karena sering mendengar kisah kalau Abu Jahal sering menyakiti Rasulullah yang mereka cintai. Cita-cita mereka pun terkabul, keduanya bisa bertarung melawan Abu Jahal dan membuatnya terluka parah.

Untuk lingkungan masyarakat dan sekolah, harus ada sebuah perubahan masif untuk menghapuskan pola pikir dan budaya sekulerisme. Ini memang sebuah perjalanan yang bisa jadi panjang dan membutuhkan kerja keras dari setiap muslim. Tapi bila kita tidak memulainya dari sekarang, kapan negeri ini akan berubah?

Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk istiqomah di dalam melakukan perjuangan yang mulia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.