5 Tips Mendidik Si ‘Pengadu’

“Bi, abang galak sama aku!”

“Umi, kakak nggak mau ajak aku main!”

“Bunda, aku nggak dibagi kue sama Mbak!”

Pernah ya mendengar anak mengadu seperti ini? Mungkin cukup sering. Di antara sifat anak-anak adalah suka mengadu pada ayahbundanya. Sekali atau dua kali barangkali ayahbunda bisa maklum, tapi kalau berkali-kali terjadi, semestinya orang tua segera memberikan penanganan atau ta’dib pada anak.

Jangan anggap sepele membiasakan anak menjadi ‘pengadu’. Keliru dalam menangani sikap anak pengadu bisa berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Ada sebagian orang tua terus menerus memberikan pembelaan padanya lalu menyalahkan saudara atau kawan yang diadukan. Padahal pola asuh seperti itu membuat anak akan menjadi manja, tidak mandiri, dan bergantung terus pada orang tua. Bahkan anak akan belajar bagaimana ‘memanipulasi’ orang tua untuk membela keinginannya. Sama seperti anak yang memanfaatkan tangisan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dalam lingkup pergaulan anak, sikap orang tua yang selalu menanggapi pengaduan anak dengan pembelaan dan menyalahkan saudara atau kawannya, justru membuat anak semakin dikucilkan saudara atau kawan-kawannya. Alih-alih mendamaikan, saudara kandung atau kawan bermainnya merasa tidak nyaman ketika harus ‘dipaksa’ mengalah atau bermain, ujungnya yang tertekan justru anak kita.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam menghilangkan tabiat pengadu pada anak:

Pertama, tempatkan konflik antar anak adalah hal yang biasa. Anak-anak mudah bertengkar, tapi juga mudah berbaikan dalam waktu singkat. Jadi jangan emosional dalam menghadapi pengaduan anak kemudian menyalahkan saudara kandung atau kawan yang diadukan.

Kedua, bujuk saudara kandung atau kawan bermainnya untuk berdamai dan main bersama. Ajarkan mereka juga untuk saling berbagi. Lebih mujarab lagi bila orang tua juga membawa mainan atau makanan yang bisa dimainkan atau dinikmati bersama oleh anak-anak, sehingga pertemanan di antara mereka segera cair kembali. Langkah ini sekaligus mengajarkan kebaikan berbagi dan main bersama di antara mereka.

Ketiga, pahami juga ‘teritori’ dan privasi saudara kandung atau kawan bermainnya. Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga memiliki naluri pertahanan diri seperti rasa memiliki. Perilaku ini tampak misalnya pada saat mereka punya mainan, buku bacaan baru atau makanan kesukaan mereka. Pada kondisi itu umumnya anak ingin menggunakannya secara privasi. Pada kondisi ini sikap terbaik orang tua adalah menjaga privasi mereka, dan ajarkan pada anak kita untuk memahami dan menghormati teritori saudara kandung atau kawannya. Misalnya ayahbunda bisa mengatakan, “Abang juga baru baca buku cerita itu, dik. Kalau abang sudah selesai nanti juga adik dipinjamkan.” Hal yang sama juga bisa dilakukan untuk mainan atau makanan kesukaan mereka. Dalam hal ini orang tua harus pandai-pandai membaca situasi anak-anak, kapan saatnya mengajak mereka untuk mengalah, dan kapan saatnya mengajarkan anak kita untuk tidak menyentuh teritori orang lain.

Keempat, cari tahu penyebab saudara atau kawannya melakukan penolakan. Kadangkala bukan semata saudara kandung atau kawan bermainnya merasa egois, tapi bisa jadi ada sikap anak kita yang membuat mereka merasa tidak nyaman bermain bersama. Misalnya anak ingin menguasai mainan atau bacaan sang kakak. Bisa jadi juga anak kita tidak mau ingroup dengan kawan-kawannya, tidak mau diatur dan mau main sendiri, sehingga membuat suasana bermain tidak nyaman. Akhirnya mereka merasa enggan mengajak bermain bersama. Andaikan ayahbunda sudah memahami penyebabnya maka ajarkan tips bermain bersama dengan kawan-kawan agar ia bisa menjadi teman yang menyenangkan.

Kelima, berikan alternatif. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, tidak selamanya memaksa saudara kandung atau kawan bermain untuk mengalah itu langkah yang tepat. Keceriaan permainan anak-anak malah bisa hilang. Suasana bermain menjadi tidak lagi menyenangkan. Nah, solusi terbaik adalah berikan alternatif untuk anak agar mereka bisa bermain sendiri. Karenanya, siapkanlah di rumah mainan, bacaan atau tontonan yang baik untuk mereka. Ayahbunda bisa siapkan mainan seperti bongkar pasang, puzzle, tentara-tentaraan untuk si buyung atau permainan alat memasak dan boneka untuk si upik, sepeda, juga alat mewarnai. Dengan begitu anak tetap merasa nyaman sekalipun harus bermain sendiri di rumah atau bersama ayahbunda.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.