Wajar dan Tidak Wajar Dalam Khitbah

6357822253875393421302486576_so closeTulisan ringan dan ringkas ini saya buat untuk menanggapi sebuah tanggapan untuk artikel saya tentang Akhwat PHP. Karena ada yang menganggap pandangan wanita menolak pria karena berbagai alasan adalah wajar, termasuk enggan memperjuangkan pernikahan di hadapan keluarga.

Maka bisa jadi begini: Bila memang pandangan wanita seperti di atas dianggap wajar, kaum muslimah juga harusnya menganggap wajar bila pria mencari calon istri yang lebih muda, lebih cantik, kaya sekalipun minim kesalehan. Karena umumnya lelaki akan senang bila memiliki istri seperti itu. Lelaki itu naturalnya adalah mahluk visual, mereka akan menilai apa saja terlebih dahulu dari pandangan, termasuk soal calon istrii.

Maka bisa jadi begini: Bila memang pandangan wanita seperti di atas dianggap wajar, kaum muslimah juga harusnya menganggap wajar bila pria mencari calon istri yang lebih muda, lebih cantik, kaya sekalipun minim kesalehan. Karena umumnya lelaki akan senang bila memiliki istri seperti itu. Lelaki itu naturalnya adalah mahluk visual, mereka akan menilai apa saja terlebih dahulu dari pandangan, termasuk soal calon istri.

Tapi apa yang terjadi ketika seorang ikhwan dai memilih calon istri yang cantik lebih muda, namun minim kesalehan, apalagi tidak menutup aurat? Pasti jadi bahan pertanyaan, khususnya di kalangan akhwat pengemban mabda. Kok, bisa sih milih yang seperti itu? Kenapa tidak kami-kami yang giat berdakwah? Mungkin kami tidak secantik calon istrinya, tapi kan lebih layak? Apalagi sebagian dari kami sudah berumur? Kok tega?

Justru inilah problem yang kemudian jadi bahan pembahasan dan diberi jalan keluar oleh Islam. Agama ini tidak membiarkan manusia berjalan sekedar mengikuti fitrahnya. Karena bila itu terjadi,  kehidupan ini akan mengalami chaos. Ambillah hukum wajibnya berjihad, Allah menyebutkan bahwa berjihad adalah perkara yang tidak disukai manusia. Memang fitrah manusia tidak suka berperang, dan tidak mau terluka apalagi mati. Apalagi meninggalkan istri dan anak-anak.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (TQS. al-Baqarah: 216)

 

Begitupula Allah mengingatkan manusia agar saat mencari pasangan wajib meletakkan keimanan sebagai syarat utama, bukan kecantikan dan ketampanan. FirmanNya:

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (TQS. al-Baqarah: 221)

 

Allah tahu bahwa kecantikan dan ketampanan itu “menarik hatimu”, tapi itu tidak boleh menjadi pembenaran sebuah pernikahan bagi kaum muslimin. Harus iman yang menjadi syarat asasi.

Maka, ketika seorang muslimah dilamar oleh seorang lelaki, mesti keimanan dan ketakwaan yang menjadi ukuran pertama penolakan atau penerimaan, bukan yang lain. Selebihnya silakan saja mempertimbangkan suku bangsa, status sosial, dsb.

Syariat Islam juga tetap memberikan hak pada seorang muslimah untuk menerima atau menolak sebuah lamaran. Ketika ia merasa tidak sreg dengan lelaki yang melamarnya maka sah dan halal baginya untuk melakukan penolakan.

Begitupula ketika seorang muslimah menerima lamaran seorang lelaki yang datang melamarnya, karena pertimbangan kecukupan harta, status sosial, suku bangsa, dll. selain ketakwaan, itupun sah dalam pandangan syariat. Pernikahannya sama sekali tidak batil maupun fasad. Hanya saja konsekuensi dari sabda Rasulullah saw. bisa jadi akan menimpanya dan keluarganya.

Sama halnya dengan seorang ikhwan yang memilih istri karena faktor kecantikan, kekayaan, dan faktor sosial lain – minus unsur takwa –, pernikahannya juga sah dalam pandangan syariat. Hanya saja berbagai fitnah yang disebutkan oleh Rasulullah SAW. bisa jadi akan menimpa dirinya dan keluarganya.

Maka, janganlah tabiat dasar manusia lantas dianggap sebagai sebuah kewajaran dan pembenaran. Tapi luruskan pribadi kita dengan tuntunan Islam, dan berjuanglah untuk tetap bisa berada dalam tuntunan Islam. Manakala orang-orang di sekitar kita tidak paham kebenaran Islam karena dianggap tidak wajar, maka berjuanglah agar Syariat Islam akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang benar dan wajar.

Memang tidak mudah untuk memperjuangkan sesuatu yang melawan mainstream, arus kuat yang sudah dianggap kewajaran. Tapi itulah gambaran Islam akhir zaman yang dikatakan oleh Nabi SAW. sebagai ‘ghuraba’, alias orang-orang yang terasing. Wallahualam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *