Ingin Punya Anak? Siapkan Dulu 5 Mindset Ini

Dear pasangan yang berbahagia dan dirahmati Allah SWT., di antara harapan dan impian orang yang menikah adalah ingin bersegera memomong bayi. Ya, anak itu adalah perhiasan dunia, begitulah firman Allah (QS. Al-Kahfi: ). Kehadiran anak itu bisa menambah keceriaan keluarga. Bukan saja Anda dan pasangan, tapi juga keluarga besar. Meski mungkin bukan cucu pertama bagi mertua atau orang tua Anda, tapi kehadiran bayi itu selalu membuat happy.

Tapi jangan salah, kehadiran bayi juga bisa membuat hubungan dengan pasangan kisruh. Tidak jarang pasangan terlibat konflik justru setelah kehadiran anak. Oleh karena itu, siapkan dulu mindset yang benar tentang punya anak, agar Anda dan pasangan benar-benar siap untuk menyambut kedatangan si kecil dan mengasuhnya hingga dewasa nanti.

1. Anak bukan hanya menyenangkan, tapi juga ujian (fitnah)

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (TQS. Al-Anfal: 28)

Siapkan kesabaran ekstra bila Anda ingin memiliki anak. Mulai sejak kehamilan, melahirkan hingga menyusui, dan seterusnya anak adalah ujian bagi orang tua. Jam tidur berkurang, enerji pun dialokasikan untuk mengasuh anak, dan emosi pun kadang jadi tak terkendali. Dengan sadar bahwa anak adalah ujian, maka kita bisa persiapkan mental untuk tetap tenang sebagai orang tua.

2. Kehadiran anak mengubah siklus hidup Anda dan pasangan

Siap-siaplah untuk menghadapi siklus kehidupan bersama pasangan saat buah hati lahir. Anda dan pasangan harus berbagi waktu dengan si kecil, bahkan semenjak ia berada dalam kandungan. Perhatian, kebersamaan, hingga keinginan sering bermesraan hingga hubungan badan pun siklusnya menjadi berubah. Jangan cemburu apalagi marah ketika istri menjadi kurang fokus dan perhatian pada suami, karena ia harus mengurus si kecil. Sebagai lelaki, pahami prioritas amal bagi istri. Ketika si kecil harus dimandikan, diganti popoknya, atau sedang sakit, mau tidak mau istri harus ‘berjibaku’ mendahulukan mengurusnya ketimbang memijati badan Anda, atau bahkan menyiapkan secangkir teh manis untuk Anda. Maklumi dan dukung serta ringankan bebannya dalam mengurus anak. Bukankah si kecil adalah buah hati bersama?

3. Ayah harus turun tangan mengasuh si kecil

Tahun lalu saya terdorong menulis buku Alhamdulillah Menjadi Ayah karena melihat masih banyak lelaki berpikir pengasuhan serta pendidikan anak itu domain perempuan, para istri. Padahal Allah SWT. Dan Rasulullah SAW. menetapkan bahwa para ayah juga punya kewajiban dalam hal ini. Simaklah dalam al-Qur’an, khususnya surat Luqman, bagaimana Allah merekam tausiyah seorang Luqman al-Hakim sebagai ayah kepada anaknya. Rasulullah SAW. juga sering mengasuh putra-putrinya juga cucu-cucunya. Para ulama juga menjelaskan bahwa para ayah tidak bisa lepas dari tanggung jawab pengasuhan anak.

Jadi, kerjakanlah dengan bangga ketika Anda, para ayah, memandikan anak, menceboki mereka, dan mengajak mereka bermain atau jalan-jalan.

4. Siapkan waktu cukup bagi anak

Dalam buku saya Alhamdulillah Menjadi Ayah, saya mengutip pendapat dua orang psikolog yang mengatakan bahwa mengasuh anak membutuhkan waktu. Mereka katakan, kalau orang tua tidak punya waktu untuk anak maka sebaiknya tidak usah punya anak. Mungkin terdengar ekstrim, tapi itu benar. Anak memang butuh baju yang bagus, makanan yang bergizi, atau mainan yang menyenangkan, tapi lebih membutuhkan waktu dan perhatian dari kedua orang tua. Anak membutuhkan pelukan, ciuman, bercakap-cakap dan bermain dengan kedua orang tua, khususnya ibu. Sudah banyak penelitian bahwa minimnya kehadiran ibu dan ayah dalam kehidupan anak berdampak negatif pada perkembangan kecerdasan dan sosial anak. Banyak anak tumbuh dengan mental antisosial akibat minimnya peran pengasuhan ayah dan ibunya sejak kecil.

5. Tak ada pendidikan terbaik melainkan pendidikan agama (Islam) sejak dini oleh kedua orang tuanya

Ayahbunda, bukan PAUD, sekolah, atau kampus yang dapat memberikan pendidikan agama terbaik untuk anak-anak, tapi pendidikan awal dari kedua orangtuanya. Benar, kemampuan kita mungkin terbatas dalam memberi pendidikan agama pada anak-anak. Kita mungkin bukan seorang hafidz/hafidzah, kita juga tidak hafal banyak hadits, tidak pandai membaca kitab berbahasa Arab, tapi kita bisa menanamkan kecintaan agama pada anak-anak dengan cara yang amat mudah. Semua orang tua bisa mengenalkan kehadiran Allah dalam kehidupan anak, mengenalkan Islam sebagai agama dan identitas anak, dan semua orang tua bisa menjelaskan siapa nabi kita dan membuat anak cinta padanya. Itu hal yang amat mudah dan bisa dilakukan orang tua muslim manapun.

 

Ingin menjadi orang tua? Siapkan sekurangnya lima mindset tersebut dalam kehidupan kita, agar kita menjadi orang tua terbaik. Bukan sekedar ‘pabrik’ anak dan ‘percetakan’ anak.

Incoming search terms:

  • mindset untuk punya anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *