5 Kegagalan Negara Melindungi Kaum Ibu

ibunangisfoto-28122006015812Hari ini, negara ini memasuki peringatan Hari Ibu yang ke-77 tahun. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Bahkan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 22 Desember ini sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.

Ini berbeda dengan negara-negara lain. Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Tujuan peringatan Hari Ibu bisa dikatakan sama; agar masyarakat lebih mencintai, menghormati dan mengenang jasa-jasa para ibu. Lewat rahim ibu dan pengasuhannyalah setiap orang dapat tumbuh dan hidup di dunia. Seorang jendral atau panglima perang tergagah pun lahir dan tumbuh dari kelembutan seorang ibu.

Hanya saja, pesan yang dibawa pada hari Ibu sayangnya lebih mengarah pada hubungan ibu dengan anak. Tidak lebih dari itu. Padahal para ibu di seluruh dunia – termasuk di tanah air – membutuhkan jaminan kehidupan yang baik bukan saja dari keluarganya, tapi juga dari masyarakat dan negara. Sayangnya, keadaan inilah yang belum dirasakan banyak ibu di dunia, juga di Indonesia.

Demokrasi yang menopang ideologi kapitalisme-liberalisme, hingga hari ini tak kunjung memberikan kehidupan yang layak bagi banyak perempuan dan ibu di penjuru dunia. Kaum perempuan tetap saja masih tersubordinasi baik secara ekonomi, sosial, pendidikan juga politik. Padahal, banyak orang di seluruh dunia percaya kalau sistem ini akan memberikan kehidupan yang baik pada setiap manusia.

Berikut ini hanya sedikit bukti nasib para ibu masih mengenaskan di belahan dunia manapun.

 

pregnant111. Tingkat Kematian Ibu Melahirkan (Maternal Death Rate) Masih Tinggi

Di antara tugas mulia seorang ibu adalah melahirkan anak. Apa jadinya bila tugas mulia ini justru minim perlindungan dari masyarakat dan negara? Sampai hari ini angka kematian ibu melahirkan (AKI) di seluruh dunia, juga di tanah air masih tinggi.

Direktur Penelitian Women Research Institute, Edriana Noerdin, angka AKI sampai tahun 2015 masih akan berkisar pada 163/100.000 kelahiran hidup. Jauh tertinggal oleh negara tetangga seperti Malaysia atau Thailand yang angka AKI-nya bisa diturunkan hingga 24 dan 30 per 100.000.

Nasib para ibu di negara liberal seperti AS justru lebih tragis lagi. Induk demokrasi dan kapitalisme itu justru mengalami peningkatan angka kematian ibu. Meski AKI di AS ‘hanya’ 18 lebih per 100.000, tapi negara itu AKI-nya justru meningkat. Dalam hal ini AS sejajar dengan Afghanistan dan Sudan Selatan.

 

2. Jumlah Ibu Rumah Tangga Terpapar HIV/AIDS Meningkat

Kondisi kesehatan ibu dalam kehidupan liberal-demokrasi juga semakin terancam. Data dari Kemenkes 2015 menyebutkan jumlah ibu rumah tangga yang terpapar HIV/AIDS ini jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah sopir truk, pekerja seks komersial maupun sektor pekerja. Para ibu rumah tangga ini adalah korban dari suami mereka yang tertular HIV/AIDS akibat perilaku seks kotor; bergonta-ganti pasangan, mendatangi pelacuran, atau penggunaan narkoba dengan jarum suntik.

Pada tahun 2011 dari negeri jiran Malaysia dilaporkan jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV 4 kali lipat lebih banyak dibandingkan PSK. Data itu menyebutkan jumlah PSK yang terinfeksi HIV/AIDS mencapai 551 orang, sedangkan ibu rumah tangga yang menjadi korban mencapai 2,865 orang.

Kondisi yang sama juga terjadi di AS. Jumlah ibu yang melahirkan dalam kondisi terinfeksi HIV meningkat hampir 30% dari 6.000–7.000 dari 2000 hingga 8700 pada tahun 2006

 

Domestic violence3. KDRT Terhadap Para Ibu Terus Meningkat

Ibu-ibu yang menjadi korban KDRT di rumah tangga terus bertambah setiap tahun. Menurut Catatan Akhir Tahun 2014, terdapat 293.220 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2014. Sebanyak 68 persen dari kasus tersebut adalah kekerasan domestik dan rumah tangga (KDRT) dengan mayoritas korban ibu rumah tangga dan pelajar.

Kondisi ini rata di hampir semua negara. Di AS setiap 9 detik seorang perempuan mengalami kekerasan. 1 dari 3 perempuan di negeri itu juga menjadi korban kekerasan domestik.

 

poverty-and-women4. Kemiskinan Masih Mengancam Kaum Ibu

Sistem perekonomian kapitalisme-liberalisme bukan saja sukses mencetak orang-orang superkaya, tapi juga menciptakan jurang kemiskinan yang menganga. Di seluruh dunia diperkirakan ada 1,2 miliar orang yang berpenghasilan di bawah 1,25 dolar/hari. Mereka dikategorikan warga miskin.

Keadaan ini mendorong banyak perempuan akhirnya ikut bekerja atau malah menjadi tulang punggung keluarga. Bank Dunia menyebutkan bahwa 4 dari 10 pekerja global saat ini adalah perempuan, namun secara rata-rata setiap satu dolar yang dihasilkan laki-laki, perempuan hanya menghasilkan 80 sen.

Realita ini terlihat pada tenaga kerja wanita (TKW). Sekitar 4,2 juta perempuan Indonesia atau sekitar 70 persen dari total 6 juta tenaga kerja Indonesia (TKI) bekerja adalah TKW. Kesulitan ekonomi dan tidak adanya modal membuat banyak perempuan menyambung hidup keluarga menjadi TKW. Ironisnya, hanya segelintir dari mereka yang memiliki bekal pendidikan dan keterampilan memadai. Sementara itu, sejumlah besar lainnya tak punya banyak pilihan selain bekerja di sektor informal sebagai pembantu rumah tangga (PRT).

 

5. Degradasi Moral Juga Mengepung Para Ibu

Liberalisme bukan saja merusak sistem ekonomi, tapi juga merusak moral masyarakat termasuk kaum ibu. Kecanggihan teknologi informasi dengan boomingnya produksi smartphone dan mudahnya akses internet ternyata menjadi celah kerusakan rumah tangga.

Tidak sedikit para ibu rumah tangga yang melakukan perselingkuhan melalui fasilitas media sosial. Hubungan terlarang itu bisa terjadi dengan kawan lama (seperti kawan sekolah atau kuliah) atau dengan orang yang baru dikenal di jejaring sosial.

Berdasarkan survey American of Matrimonial Lawyers, 1 dari 5 perceraian di AS disebabkan oleh jejaring sosial FB. Dikutip dari The Frisky, 80% pengacara perceraian melaporkan lonjakan jumlah kasus situs jejaring FB menempati peringkat atas penyebab retaknya rumah tangga di AS. Sebagai sumber bukti kasus perceraian diambil dari FB (66%), MySpace (15%), Twitter (5%) dan lainnya (14%).  20% petisi perceraian di Inggris menyalahkan FB sebagai ajang perselingkuhan.

 

Pembaca yang dirahmati Allah, keadaan ini bukan semata kesalahan keluarga atau para ibu, melainkan keadaan yang terjadi secara sistemik. Ada nilai-nilai yang dipaksakan menjadi sistem kehidupan yang pada akhirnya mengancam kehidupan masyarakat, termasuk kaum ibu.

Karenanya peringatan Hari Ibu hanyalah seremonial untuk mengkamuflase keadaan. Untuk menipu publik, khususnya kaum muslimin, bahwa para ibu harus dimuliakan tapi keadaannya jauh dari kenyataan.

Para ibu bukan sekedar butuh rasa hormat dari anak-anak mereka, tapi juga sistem yang baik untuk melindungi mereka. Dan liberalisme-demokrasi-kapitalisme, tak kunjung mampu menciptakan keadaan tersebut. Kini sudah saatnya umat kembali kepada aturan kehidupan yang berasal dari Sang Maha Pencipta, yang telah menciptakan pria dan wanita dan tahu tabiat-tabiat mereka, yakni Syariat Islam. Hanya dalam Islam kaum wanita dan para ibu akan mendapat perlindungan dan kemuliaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *