Konten Useless Untuk Sensasi Ciri Peradaban Tak Manusiawi

Orang Indonesia kini makin akrab dengan istilah ‘prank’. Kalau tidak menjadi korban prank, pelaku prank/prankster, maka menjadi penonton prank. Menurut Oxford Dictionary online, prank bermakna: a trick that is played on someone as a joke.

Prank dalam istilah anak jadul itu artinya ngejailin orang. Malam-malam lewat kebon bambu ditakut-takuti temen yang pakai mukena, disuguhi banyak rambutan eh ternyata udah nggak ada isinya, bangku teman di kelas diolesin balsem biar pantatnya kepanasan, nempelin kertas pakai selotip di punggung teman dengan tulisan “belum waras”, dll.

Ngejailin orang itu tujuannya untuk kesenangan bersama, walau terkadang ada juga teman yang sampai nangis karena celananya diplorotin, terus pulang ke rumah dan bapaknya ngamuk-ngamuk. Lebih parah lagi ada yang sampai celaka karena kursinya ditarik pas mau duduk, tulang ekornya sampai luka. Ngeri.

Istilah prank jadi terkenal karena internet. Setelah internet masuk ke kampung-kampung lalu anak-anak muda nonton video prank. Seperti biasa, kejahilan itu paling mudah dicopy paste. Supaya keren, disebutlah prank sesuai apa yang mereka tonton.

Tapi tujuan jail dan prank sudah mulai berubah, ketika anak-anak milenial mulai kenal youtube dan instragram. Prank bukan lagi untuk kesenangan bersama, tapi untuk sensasi, eksistensi dan popularitas. Prank jadi cara untuk perbanyak subscriber, follower, termasuk penghasilan.

Nah, sebagian anak-anak milenial yang cekak otaknya, dan miskin moralnya, gunakan cara-cara kampungan untuk cari sensasi. Nge-prank supir ojol dengan order fiktif, nakut-nakuti pengguna lift dengan hantu-hantuan, nawarin warga batalkan puasa dengan iming-iming uang, sampai yang terakhir beri bingkisan sampah untuk waria dan anak jalanan.

Kalau kita mau ubek-ubek medsos, bakal ada ribuan konten-konten cari sensasi yang isinya useless, sama sekali nggak bermanfaat; pamer koleksi sepatu, pamer saldo atm, joget-joget, bahkan sampai yang asusila dan melecehkan agama. Semuanya demi satu harga mati: sensasi!

Di mata sebagian orang milenial, sensasi itu menunjukkan harkat dan martabat dan juga penghasilan. Semakin konten Anda viral, semakin Anda terkenal, semakin toplah Anda di mata teman-teman dan handai taulan. Inilah kejatuhan otak sebagian generasi milenial dari kepala ke dengkul.

Prank dan berbagai konten sampah yang membanjiri media sosial kita, adalah cerminan kegagalan pendidikan generasi muda. Mereka jadi hilang arah, hilang norma, dan salah mengukur harga diri. Orang yang hebat itu orang yang kaya dan punya sensasi. Semua itu difasilitasi di media sosial lewat youtube, instagram, dll.

Inilah tanggung jawab kita, orang tua, dan dunia pendidikan. Perlu istighfar yang banyak, karena tidak sedikit dari kita, orang tua, yang juga sering pamer kesuksesan materi di media sosial, lalu mengiming-imingi orang dengan kesuksesan materi. Itulah mengapa media sosial sering disebut sebagai biang penyakit jiwa dunia modern, karena tempat orang pamer kesuksesan, kemewahan, kesenangan diri, dan membuat orang berlomba-lomba ingin mengikutinya.

Tapi mau bagaimana lagi, inilah jaman kapitalisme-hedonisme. Kebahagiaan dan kesenangan itu diukur dari kekayaan dan ketenaran, bukan dari kerendahan hati, berbagi, dan pengorbanan untuk agama. Lagipula rasanya tidak mungkin orang memamerkan amal soleh mereka seperti itu di media sosial. Riya dan sum’ah namanya.

Konten-konten sampah, para prankster yang norak dan kampungan akan terus bermunculan dan bisa lebih banyak lagi selama peradabannya masih seperti hari ini. Kapitalisme-hedonisme akan memicu dan memacu manusia – terutama anak-anak muda – untuk mencari sensasi dan uang lewat konten-konten seperti itu.

Mau hilangkan generasi pencari sensasi, maka harus ubah peradaban. Saya tidak berlebihan karena peradaban sekarang memang memuja materi dan sensasi. Orang yang cerdas pun banyak beralih mencari materi dan sensasi ketimbang membantu mencerdaskan orang lain.

Peradaban terbaik memang hanya peradaban Islam. Orang akan didorong untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya pada orang lain, bukan dengan hiburan tapi dengan kemanfaatan ilmu dan harta bantuan. Mereka yang bisa melakukan itu pun tak akan capek-capek mencari sensasi karena tahu semua sudah ada balasannya di sisi Allah. Tak akan ada tempat untuk para prankster ataupun pembuat konten sampah dalam peradaban Islam.

Namun selain berusaha mengubah peradaban, tugas orangtua hari ini juga harus memberikan norma-norma bermedsos pada anak-anak, membatasi penggunaan medsos, dan senantiasa membimbing mereka.

Dan yang tak kalah penting, orang tuanya pun jangan ikut-ikutan mabuk medsos. Dikit-dikit upload, dikit-dikit upload. Makan enak, kerudung baru, jalan-jalan juga pengajian harus diupload ke medsos. Kalau begitu, apa bedanya kita dengan kaum alay yang haus sensasi?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.