Khilafah Mengancam Wanita & Keluarga?

Amankah anak-anak, wanita dan keluarga bila nanti Khilafah kembali tegak?

Di tengah kian naiknya panggilan untuk kembali pada ajaran Islam dan tegaknya Khilafah Islamiyyah, pertanyaan di atas adalah satu dari sekian pertanyaan yang datang dari kegelisahan umat manusia, termasuk sebagian kaum muslimin. Ada kekhawatiran bahkan ketakutan bila keadaan umat manusia akan memburuk dalam naungan Khilafah Islamiyyah yang menerapkan syariat Islam. Terutama nasib wanita dan anak-anak, sebagai kelompok boleh dikatakan paling marjinal, paling lemah pertahanannya.

Gambaran buruk tentang nasib perempuan dan anak-anak memang lebih banyak dikonsumsi (atau tepatnya dicekoki) ke benak publik, ketimbang apa yang terbentang dalam kitab-kitab rujukan ajaran Islam – seperti tafsir, fikih, akhlak – juga dalam praktek sejarah kejayaan Islam. Sebagian muslim dan muslimah misalnya lebih akrab dengan kosa kata ‘sahaya perempuan’, ‘poligami’, ‘cerai’, dsb. Semuanya melahirkan imajinasi yang buruk tentang kehidupan perempuan dan anak-anak dalam Islam.

Sebagian keburukan itu tak dipungkiri berasal dari malpraktek ajaran Islam oleh sebagian muslim. Semisal ayah yang keras pada anak-anak dengan dalih mendisplinkan mereka. Suami yang kasar pada istri dengan alasan lelaki adalah pemimpin keluarga, juga praktek poligami yang berantakan. Menambah kecemasan publik; oh begini ajaran Islam itu?

Belum lagi opini yang dilemparkan kalangan liberal, feminis, yang memang giat menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits menurut pakem mereka, untuk memberi kesimpulan kalau agama itu berkontribusi terhadap buruknya nasib anak-anak, perempuan dan keluarga. Lalu umat ditawari ajaran Islam moderat atau sama sekali bukan Islam.

Kalangan anti syariat juga makin mendapat angin setelah muncul ‘khilafah’ ala ISIS yang ambyar, gagal total. Dimana kehidupan umat justru tercabik-cabik, kemanusiaan hilang, dan menyisakan derita para pengikutnya yang terlunta-lunta.

 

Pilih Channel Yang Benar

Hal pertama  yang harus diluruskan adalah soal rujukan ajaran Islam. Pertama, umat harus disadarkan bahwa keimanan berkonsekuensi menerima dan menjalankan aturan Islam. Berpedoman hidup pada halal-haram adalah kemestian, bukan pilihan. Memilih sesuatu yang bukan dari Islam membuat cacat keimanan.

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mukmin dan perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (TQS. Al-Ahzaab: 36)

Kedua, umat harus diajak melihat ajaran Islam itu dari sumber ajarannya; al-Qur’an, Sunnah, Ijma sahabat, dan qiyas. Andaipun melihat praktek maka lihatlah praktek ajaran Islam di masa para sahabat, dan para ulama salafus saleh.

Kehidupan umat Islam secara umum – apalagi hari ini —  sama sekali bukan dalil ‘gambaran’ kehidupan Islam. Tidak tepat umat melihat praktek poligami pada kasus misalnya ustadz atau kyai yang terkenal dengan reputasi kawin berkali-kali dan berganti istri. Atau praktek Islam bercampur adat di sejumlah negara dimana perempuan bisa dipaksa menikah oleh walinya, dan bisa dihukum fisik bila membangkang, dan setelah menikah diperlakukan layaknya budak belian.

Umat Muslim hari ini hidup dalam tatanan landasan hidup sekulerisme dengan aturan kapitalisme-liberalisme. Mereka masih muslim dan mempraktekkan sebagian ajaran Islam, namun tentu amat jauh dari ajaran yang utuh dan nyaris tak ada perlindungan dari negara yang sesuai syariat. Karenanya tak bisa dijadikan sebagai tolak ukur. Keliru bila kemudian dianggap bahwa kehidupan umat dan keluarga hari ini berada dalam buaian syariat. Justru jauh dari nilai-nilai agama.

 

Islam Melindungi Anak dan Perempuan

Wahai Abu ‘Umair ada apa dengan nughair?”
Kalimat itu sering dipakai sebagai pemikat hati banyak orangtua, tergambar betapa Rasulullah SAW. adalah sosok orang dewasa, utusan Allah, sekaligus pemimpin yang ramah pada anak. Pertanyaan itu ditujukan Nabi SAW. pada seorang anak lelaki kecil yang bernama kunyah Abu Umair. Dalam banyak riwayat Abu Umair adalah adik Anas bin Malik ra., putra Ummu Sulaim ra.

Kedekatan Nabi dengan anak-anak tercermin dalam banyak keterangan para sahabat. Misalnya Dalam salah satu lafazh riwayat Imam Bukhari, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu saat masih kanak-kanak menyebutkan,

إِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُخَالِطُنَا حَتَّى يَقُولَ لأَخٍ لِي صَغِيرٍ

“Sesungguhnya Nabi benar-benar biasa bergaul dengan kami, sampai pun pada saudara kecilku.”

Pergaulan Nabi bersama anak-anak adalah potret syariat Islam nan ramah pada mahluk-mahluk kecil itu. Nabi tidak pernah marah, membentak selain menegur dan menghukum anak sesuai porsi kekeliruan mereka. Misalnya dalam hadits shahih Imam Bukhari diriwayatkan Beliau menjewer telinga Abdullah bin Bisyr al-Mazini karena memakan anggur kiriman ibundanya untuk Nabi. Pada Abdullah, Baginda Nabi berkata, “Wahai ghudar.” Ghudar artinya tidak amanah.

Nabi juga mengklasifikan seseorang itu umat Beliau atau bukan di antaranya dari keramahan dan kasih sayang pada yang lebih muda. “Bukan golonganku,” kata Nabi sambil kemudian menyebutkan mereka yang tidak sayang pada yang muda/kecil.

Kepada al-Aqra bin Habis ra. yang tidak pernah mencium anak-anaknya – padahal anaknya sepuluh – Rasulullah menegurnya;

“Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmatNya dari hatimu? Barangsiapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”

Perhatian besar Islam pada anak juga tergambarkan dari banyaknya kitab pendidikan anak (tarbiyatul awlad) yang dikarang para ulama salaf hingga khalaf (kontemporer). Mulai dari kitab Ibnu Qayyim al-Jauziy sudah mengarang kitab Tuhfatul Maudud li Ahkamil Maulud sampai Muhammad Nur Abdul Hafiz Suwaid yang mengarang kitab Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah Lith Thifl.

Pengasuhan, pendidikan dan perlindungan pada anak bukan hanya kewajiban orangtua, tapi juga negara. Syariat Islam telah mewajibkan segenap kaum muslimin, termasuk para khalifah, untuk memberikan perlindungan pada anak dan keluarga. Mulai dari perlindungan terhadap kelahiran dan nasab sampai jaminan keamanan.

Di masa Khalifah Umar bin Khaththab ra. anak-anak mendapatkan insentif semenjak mereka lahir. Belum lagi jaminan pendidikan dan kesehatan yang gratis bagi setiap warga, termasuk anak-anak.

Kaum perempuan juga mendapatkan jaminan perlindungan yang luas dalam Islam. Ketika Barat meributkan soal batasan privat dan publik, Islam sudah punya aturan dan batasan dalam hal tersebut. Untuk soal jaminan hidup, keamanan dan kesehatan, meskipun dalam sektor domestik dan privat, Syariat Islam mewajibkan negara untuk terlibat di dalamnya. Semisal Islam melarang wali memaksa atau melarang pernikahan untuk anak perempuannya. Seorang perempuan diberikan hak untuk menentukan pernikahannya sendiri.

Hukum Islam juga akan memaksa para suami/ayah untuk menafkahi keluarga mereka secara maruf. Bahkan syariat Islam memberikan kesempatan pada istri untuk menggugat cerai suami manakala tidak mau menafkahinya. Bahkan istri punya hak melakukan khulu’ manakala ada alasan yang dibenarkan syariat untuk berpisah dari suaminya.

Meski sudah berumah tangga, seorang perempuan juga punya hak menuntut ilmu, silaturahim, bahkan bekerja pun boleh selama diizinkan suaminya. Nafkah yang mereka dapat juga merupakan harta milik mereka pribadi, bukan menjadi milik suami atau keluarga. Jadi, tidak masuk akal bila dikatakan perempuan itu terpenjara dalam hukum pernikahan Islam.

Mari kita lihat dalam sejarah, para ummahatul mukminin atau para istri Nabi SAW. adalah salah satu referensi para sahabat dan tabi’in dalam menuntut ilmu. Mereka menjadi guru besar bagi umat. Bahkan Aisyah adalah seorang wanita yang memiliki riwayat hadits yang banyak hingga mencapai 1660 hadits, di atas Abdullah bin Abbas ra. Para ulama hadits juga tidak mempersoalkan hadits Aisyah hanya karena dia seorang perempuan. Status Aisyah sama dengan para sahabat Nabi dari kalangan pria.

Bukti wanita bisa ‘berkarir’ dalam sektor publik adalah seorang hakim hisbah perempuan bernama asy-Syifa, yang bertugas mengawasi aktivitas perdagangan di pasar. Dalam Syariat Islam, perempuan bisa menjadi wakil umat di Majlis Ummah, bisa menjadi pegawai negara, kepala instansi, hakim, bahkan bisa ikut terlibat dalam peperangan sebagaimana dilakukan sebagian sahabiyah seperti Ummu Salamah dan Nusaibah binti Ka’ab.

Anak-anak, perempuan dan keluarga, adalah tiga elemen yang mendapat perhatian dan pengayoman besar dalam Islam. Berjilid-jilid kitab membahas aturan hidup bagi ketiganya, agar berada dalam kehidupan yang terbaik, jauh dari kemudlaratan.

 

Nasib Anak-anak Dan Perempuan Hari Ini

Bagaimana nasib umat Muslim dan umat manusia pasca keruntuhan Khilafah Islamiyyah di tanggal 3 Maret 1924? Ketika umat semakin jauh dari bimbingan hukum syara? Paling mudah kita lihat dari kemiskinan, keamanan di keluarga, dan tingkat pendidikan. Berikut sejumlah laporannya:

  • Setiap tahun ada sekitar 1,6 sampai 2,8 juta dan remaja lari dari rumah (National Runaway Safeline). Keluarga yang terlalu terlalu keras dan rutin memberikan hukuman dalam bentuk kekerasan terhadap anak menjadi alasan utama.
  • Berbagai laporan WHO di tahun 2018 menunjukkan setengah dari dua juta anak-anak di dunia, yang berusia antara 2-17 tahun, menjadi korban kekerasan fisik, seksual atau emosional atau penelantaran.
  • 1 dari 10 anak perempuan di dunia menurut laporan Badan PBB untuk Anak-anak, UNICEF tahun 2014. Sementara, 6 dari 10anak di seluruh dunia, yang total jumlahnya mencapai 1 miliar, mengalami kekerasan fisik antara usia 2-14 tahun.
  • UNICEF di tahun 2018 membeberkan fakta 1 dari 5 anak-anak di negara kaya hidup dalam rantai kemiskinan. Sementara itu, 1 diantara 8 anak juga disinyalir tidak mendapat gizi yang cukup. Amerika Serikat dan Selandia Baru adalah dua negara dimana anak-anak mengalami nasib paling buruk di dunia.
  • Di tahun 2017, UNESCO merilis laporan 260 juta anak di dunia mengalami putus sekolah, terbanyak di usia SMA.

Nasib perempuan dalam sistem hidup sekulerisme-liberalisme juga terpuruk. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan pada 2018 mencapai 406.178 kasus.

Jumlah perceraian di tanah air juga meningkat. Berdasarkan data yang dikutip detikcom dari website Mahkamah Agung (MA), Rabu (3/4/2019), sebanyak sebanyak 419.268 pasangan bercerai sepanjang 2018. Dari jumlah itu, inisiatif perceraian paling banyak dari pihak perempuan yaitu 307.778 perempuan. Sedangkan dari pihak laki-laki sebanyak 111.490 orang.

Inilah potret kehidupan anak-anak, perempuan dan keluarga saat Islam dan Khilafah Islamiyyah tak lagi memayungi mereka. Ketiganya jauh dari rasa aman, jaminan hidup dan kepastian hukum. Tudingan bahwa Islam menyesengsarakan anak-anak, wanita dan keluarga adalah imajinasi mereka. Sementara faktanya sistem selain Islam yang justru merusak tatanan kehidupan anak-anak, perempuan dan keluarga.

Maka apa lagi yang diragukan dari syariat Islam dan Khilafah Islamiyyah? Tak ada yang perlu ditakuti. Luruskan pandangan, kaji Islam dengan hati ikhlas dari sumber yang terpercaya, dan sama-sama berjuang untuk menegakkan lagi kehidupan mulia dan penuh ridlo Ilahi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.