Dalam dunia training motivasi sering kita diberi jurus sukses; do something with passion! Apapun yang kita kerjakan dengan passion pastinya akan lebih top markotop, lebih joss, lebih optimal karena dikerjakan dengan penuh gairah.
Apa sih passion itu? Menurut oxforddictionaries.com makna dari passion adalah sebagai berikut:
- 1 [mass noun] strong and barely controllable emotion:a man of impetuous passion
- [in singular] a state or outburst of strong emotion.
- intense sexual love:their all-consuming passion for each other [in singular].
- [in singular] an intense desire or enthusiasm for something
- [count noun] a thing arousing great enthusiasm.
Bolehlah kita katakan passion itu sebuah dorongan kuat yang muncul dari dalam diri sehingga membuat kita lebih bersemangat/bergairah dalam melakukan sesuatu.
Sebelum muncul istilah ‘passion’ para motivator sering mengatakan ‘do what you like and what you love’, kerjakan apa yang kamu sukai! Sekarang para motivator sering menggunakan istilah passion untuk menyemangati seseorang dalam bekerja.
Persoalannya, apakah passion itu muncul otomatis dari dalam diri kita, ataukah ada faktor x yang mendorong munculnya passion? Lalu bagaimana bila saat mengerjakan sesuatu tidak muncul passion, apakah pekerjaan itu harus ditinggalkan?
Saya memang awam dalam soal motivasi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pemikiran saya soal passion ini. Bila sebuah aktifitas amat ditentukan oleh passion, dan passion itu diserahkan pada like and dislike seseorang, bukankah banyak aktifitas yang bisa berantakan?
Misalnya apakah dibenarkan bila ada seorang perempuan merasa passion-nya lebih tinggi untuk terus berkarir di kantor, ketimbang resign lalu menjadi istri mengurus rumah tangganya. Atau seorang trainer yang merasa passion-nya lebih tinggi untuk menyampaikan pelatihan motivasi yang humanis dan universal akhirnya meninggalkan dakwah amar maruf nahiy mungkar.
Bila passion diserahkan kepada kecenderungan setiap insan, maka itu adalah hawa nafsu. Tabiat hawa nafsu adalah selalu memilih jalan yang lebih enak, lebih aman dan lebih menguntungkan menurut selera pribadi. Bagi perempuan tadi, passion-nya menjadi ibu rumah tangga kecil karena ia merasa kehilangan penghasilan bulanan beberapa juta rupiah, kehilangan status, kehilangan rasa hormat dari bawahannya.
Bagi trainer tadi alasan meninggalkan atau mengurangi dakwah amar maruf nahiy mungkar, adalah karena aktifitas itu beresiko, membuatnya bisa ditinggalkan customer-nya yang plural, dimusuhi kliennya yang masih suka maksiat, dan berujung berkurangnya penghasilan yang ia terima. Maka passionnya pada amar maruf nahiy mungkar jelas minim, bahkan nol.
Menurut saya passion itu harus datang dari pemahaman. Sebagaimana para sahabat — semoga Allah meridloi mereka – pernah merasa berat untuk berangkat jihad, tapi lalu Allah mengingatkan mereka.
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah: 216).
Atau sebagian sahabat Anshar pernah merasa Rasulullah saw. tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang, lalu kemudian Beliau menyadarkan mereka bahwa memiliki Allah dan RasulNya lebih baik daripada ‘sampah’ dunia. Mereka pun lalu menangis dan menyesali sikap mereka.
Jadi, munculkan passion dalam setiap aktifitas. Saat kita shalat, saat berpuasa, saat berhaji, saat berdakwah, saat berbakti pada orang tua, saat seorang istri melayani suami dan mengurus anak, saat seorang suami mencintai dan berbaik hati pada istrinya, dsb. Passion yang benar adalah karena dorongan pemahaman yang benar. Yaitu, perintah Allah dan laranganNya.
Dalam hal yang mubah boleh saja kita memilih. Misalnya memilih bekerja sebagai karyawan, menjadi trainer, atau menjadi enterpreuner. Itu adalah pilihan yang sama-sama mubah. Yang penting halal, ambillah yang menurut kita cocok bagi diri kita.

Leave a Reply