Bahaya Jumping To Conclusion

“Dikit-dikit khilafah.”

“Ujungnya pasti khilafah.”

“Apa-apa pasti khilafah.”

Sering mendengar atau membaca komen seperti di atas? Pasti itu bukan pujian, tapi lebih tepat kritikan dan sindiran. Ketika seseorang menyampaikan tulisan seputar persoalan umat, kemudian ‘tiba-tiba’ penulis atau penutur menyatakan ‘ini semua disebabkan karena ketiadaan sistem kehidupan Islam, Khilafah Islamiyyah’. Baik itu persoalannya tentang korupsi, peredaran narkoba, pembangunan infrastruktur, sampai urusan pendidikan anak, penulis atau penutur menutup atau memberikan kesimpulan semua akibat ketiadaan Khilafah Islamiyyah. Seolah, Khilafah Islamiyyah itu obat sejuta penyakit umat, mujarab sebagai solusi semua persoalan keumatan.

Dalam teknik (uslub) pikir, ada yang dikenal dengan ‘jumping to conclusion’, alias melompat pada kesimpulan. Orang yang menggunakan pola berpikir seperti ini mengambil kesimpulan secara prematur tanpa memaparkan bukti-bukti pendukung. Cara berpikir model ini akrab dengan kehidupan sehari-hari sehingga tanpa disadari sering digunakan dalam berbagai persoalan. Jumping to conclusion ini menandakan terjadinya distorsi kognitif pada seseorang.

Sedari dulu kita sering mendengar ungkapan “orang miskin itu karena dia pemalas”. Ini model jumping to conclusion yang menafikan fakta dan bukti bahwa miskin itu ada yang tercipta karena struktural, selain kultural. Di Indonesia yang kapitalis, banyak orang yang rajin dan pandai tapi tetap miskin karena tak punya akses permodalan dan informasi usaha, serta tak mendapat fasilitas pelatihan. Sementara segelintir orang-orang kaya karena dekat dengan elit penguasa, suka memberi upeti, memanjakan keluarga mereka, mudah mendapat semua akses untuk usaha mereka ditambah proteksi lewat UU yang digolkan legislatif. Ada benarnya sih rajin pangkal kaya, karena para pengusaha kapitalis itu rajin mendekati penguasa.

Jumping to conclusion memiliki sejumlah ‘bahaya’; pertama, kesimpulan yang didapat bisa jadi keliru bahkan salah karena tidak menyodorkan bukti-bukti. Contohnya slogan “stop salahkan rok mini sebagai pemicu pelecehan seksual”. Ini mengandung sejumlah kesalahan fatal. Slogan ini membuang fakta bahwa libido seksual manusia itu bisa terstimulan secara cepat secara visual. Khususnya lelaki, penampilan lekukan tubuh perempuan – apalagi aurat yang terbuka – memacu libido seksual mereka dengan cepat. Ini fakta ilmiah yang mereka ‘lompati’ untuk membenarkan opini kaum perempuan. Masih banyak lagi contoh-contoh pola pikir jumping to conclusion.

Kedua, pola pikir jumping to conclusion juga berbahaya karena mengesampingkan akurasi solusi yang diberikan. Misalnya, baru saja KPK mengatakan kalau maraknya korupsi yang dilakukan oleh kepala daerah itu disebabkan karena gaji mereka yang kecil. Nah, ini cara berpikir yang keliru, selain menafikan bukti-bukti, juga karena KPK gagal mengelaborasi kenyataan bahwa banyak korupsi oleh kepala daerah untuk menutupi biaya pilkada yang mahal, juga sebagai imbal balik pada cukong-cukong politik yang berpartisipasi pada pilkada. Jadi, gaji kecil kepala daerah bukan satu-satunya – malah bukan faktor utama – maraknya korupsi di daerah, tapi karena sistem demokrasi itu sendiri yang berbiaya mahal dan sarat mafia politik.

Dalam dakwah kerapkali kita disodori kalimat yang bernada jumping to conclusion. Misalnya, “Bila pemimpin baik, maka bawahan akan baik”, “Islam Adalah Solusi”, “Syariat Islam Bawa Kesejahteraan”, “Umat Terlindungi Dengan Khilafah”, dsb. Tepatkah slogan-slogan seperti itu? Tergantung. Bila pernyataan itu ditujukan sebagai propaganda (di’ayah) maka itu merupakan pernyataan efektif dan menunjukkan keyakinan.

Namun, dakwah itu lebih kompleks ketimbang berjualan obat flu. Para pengemban dakwah harus bisa menjabarkan setiap solusi untuk berbagai persoalan dengan detil dan jelas. Untuk kemudian diletakkan solusi yang tepat sesuai tuntutan syar’iy. Pertama; ada permasalahan yang solusinya tidak terkait dengan hukum syara’ namun persoalan teknis. Misalnya yang menyangkut keamanan data warga pengguna internet, diversifikasi dan intensifikasi pertanian agar menjadi negara swasembada pangan, sistem pengelolaan limbah, penataan sarana transportasi, jaringan listrik dan telekomunikasi, dsb. Ini semata persoalan teknis yang bisa diselesaikan dengan penerapan ilmu dan teknologi yang tepat. Sebagaimana pesan Nabi SAW.:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

Kamu lebih tahu urusan duniamu.”(HR. Muslim).

Karena persoalan seperti ini, negara-negara dengan ideologi kapitalisme sudah berhasil mengaplikasikannya. Harus diakui mereka cukup berhasil menciptakan misalnya penataan jaringan transportasi, teknologi internet, sanitasi dengan baik. Keliru kalau kemudian persoalan yang menyangkut aplikasi sains dan teknologi mesti diselesaikan dengan hukum syara’. Dakwah jangan terjebak dalam jumpling to conclusion semua mesti dengan syariat Islam apalagi mesti dengan Khilafah Islamiyyah.

Kedua, terhadap persoalan membutuhkan solusi hukum syara’ juga mesti dilihat apakah kewajibannya jatuh pada individu, jama’ah atau negara. Tidak melulu Khilafah bertanggung jawab pada setiap persoalan. Persoalan keharmonisan keluarga misalnya, lebih dahulu harus diselesaikan oleh individu muslim, tidak langsung melompat pada Daulah Khilafah. Sama seperti persoalan sanitasi lingkungan, protokol kesehatan di masa pandemi ada peran individu dan masyarakat, tidak langsung jumping pada Khilafah.

Oleh sebab itu menjadi sangat penting para pengemban dakwah bersikap teliti dan cermat dalam menyikapi persoalan, agar setiap persoalan yang dijelaskan memiliki pembahasan yang proporsional. Dengan begitu setiap kajian bisa terhindar dari pola pikir jumping to conclusion. Pola pikir yang ‘melompat’ akan mengaburkan persoalan dan solusi karena mengabaikan detil-detil yang mestinya diuraikan dengan jernih. Sehingga umat mendapatkan gambaran sistem kehidupan Islam yang komprehensif dan paripurna, bukan seperti obat batuk di iklan televisi yang sekali teguk sedetik kemudian divisualisasikan sembuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.