Ibrahim dan Ismail

Monsoon Rains In Delhi NCRIedul Adha sudah lewat 3 hari ketika tulisan ini dibuat, tapi perkenankanlah saya untuk menulis setetes ibroh dari lautan hikmah yang Allah hamparkan pada peristiwa Qurban. Tepatnya saat Ibrahim as, seorang ayah yang diuji Rabbnya untuk mengurbankan putranya sendiri, Ismail. Saya percaya kisah ini telah Anda baca, Anda dengar dan mungkin Anda sampaikan ratusan kali di berbagai forum, utamanya saat khutbah Iedul Adha.

Sang Abul Anbiya dengan true story-nya sengaja Allah simpan dalam al-Quran. Inilah kisah heroik seorang ayah dalam memilah dua cinta; satu kepada Rabbnya, satu lagi kepada putra kesayangannya. Seperti firman Allah Ta’ala tiadalah mungkin ada dua ruang dalam satu hati (QS. al-Ahzab [33]: 4). Akan ada satu yang lebih unggul dibandingkan yang lain. Tapi ruang yang mana, itu adalah pilihan manusia sendiri.

Seperti kita tahu, Ibrahim as. memilih taat kepada Allah SWT. ia hempaskan cinta yang lain. Sekalipun ia begitu mencintai putranya, keturunan yang lama ia dambakan, yang pernah ia tinggalkan di gurun kering bersama istrinya semata. Belum surut perasaan galau Ibrahim saat meninggalkan Ismail di tengah sahara hanya ditemani ibunya, kini Allah memintanya untuk menyembelihnya. Tapi Ibrahim tahu, percaya dan yakin, bahwa perintah Allah tak akan pernah sia-sia. Ibrahim juga tak pernah meragukan setitikpun sifat Rahman dan Rahim Allah, manalah mungkin Allah menzalimi hamba-hambaNya.

True story Ibrahim dan Ismail – juga istrinya Hajar – bisa diambil ibrohnya dari berbagai angle. Beragam sudut pandang. Salah satunya sikap seorang ayah kepada anak. Ibrahim as., sang ayah, mengajarkan kita bahwa tak ada ikatan yang abadi antara anak dengan ayah selain ikatan iman dan takwa. Ikatan darah, genetis, nasab mudah punah kapan saja.

Di beberapa negara Kapitalisme, banyak kaum lansia yang ditelantarkan anak-anak mereka. Jepang, negara yang menjadi kiblat kemajuan sains dan teknologi, termasuk bangsa yang kini mengalami krisis kasih sayang kepada orang tua. Menurut sebuah laporan karena banyak lansia yang ditelantarkan keluarga dan negara, 70 persen dari mereka terpaksa mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di tanah air, tepatnya di Tangerang, seorang anak perempuan bersama suaminya menggugat ibunya yang sudah renta hingga 1 miliar rupiah, karena merasa tak mendapat jatah tanah waris. Entah bagaimana perasaan ibu yang sudah merawatnya dan mengantarkannya hingga berumah tangga tapi kemudian digugat hingga sebanyak itu. Air susu dibalas air tuba.

Karenanya tak ada ikatan begitu kuat mengikat ayah dan anak melebihi ikatan iman dan takwa. Orang tua yang beriman dan bertakwa akan mengasuh anak tanpa pamrih, semata mengharap ridlo Allah. Anak yang beriman dan bertakwa tak akan pernah lupa kacang pada kulit. Meski tak akan pernah sanggup, ia akan berusaha membalas kebaikan kedua orang tuanya sesulit apapun.

Karena begitu sayang dan memuliakan ibunya, Usamah bin Zaid selalu menyisihkan kurma terbaik di antara berbagai kurma dagangannya untuk sang bunda. Ia bergeming meski orang-orang keheranan melihat perbuatannya, karena harga kurma-kurma itu amat mahal.

Ikatan nasab dan genetis ayah dan anak tak akan pernah selamanya. Di dunia apalagi di akhirat. Di Hari Penghisaban anak-anak yang pernah dibanggakan kedua orang tua tak akan lagi ada gunanya di hadapan Allah.

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, (QS. asy-Syu’ara [26]: 88)

Hanya ayah dan anak yang bertakwa yang akan Allah himpunkan bersama di dalam jannahNya. Tak ada yang lain kecuali mereka.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.(QS. ath-Thur [52]: 21)

 

Saya percaya, kita pasti mau merasakan kebahagiaan itu kelak. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *