Cara Terbaik Lindungi Anak Dari Predator Adalah Preventif Bukan Kuratif

Lagi, kita diguncang dengan terbongkarnya jaringan predator anak, kaum pedofil tingkat internasional. Sindikat predator anak ini diperkirakan memiliki 7000 member. Ironinya, 3 orang admin media sosial yang digunakan untuk merekrut member dan mencari korban anak-anak muda usia belasan tahun.

Terbongkarnya kejahatan kaum pedofil di tanah air bukan kali yang pertama. Ada yang memang melakukannya perorangan, dan ada yang membentuk sindikat seperti yang terbongkar belakangan. Kita tidak tahu, berapa banyak lagi predator anak yang masih bergentayangan, dan berapa banyak anak-anak Indonesia jadi korbannya. Karena umumnya, korban yang masih anak-anak takut untuk melapor, dan acapkali masalah seperti ini diselesaikan secara tertutup karena keluarga korban merasa malu.

Dalam tulisan ini saya ingin bertanya pada pemerintah; apa saja yang telah pemerintah lakukan untuk melindungi anak-anak Indonesia? Sejauh ini solusi yang mengemuka hanyalah kuratif, pemberian sanksi seperti kebiri bagi pelaku. Itupun masih muncul kontroversi.

Tapi bangsa ini, khususnya pemerintah, seperti melupakan tindakan preventif untuk melindungi anak-anak. Mulai dari perlindungan terhadap keluarga. Banyak keluarga di Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan, tinggal di kampung kumuh, dan serta merta rawan tindak kejahatan mulai dari trafficking hingga pencabulan pada anak.

Dalam rumah pun tinggal berdesak-desakkan antar anggota keluarga; bapak-ibu dan anak-anak banyak yang tidur satu ruangan karena terhimpit kemiskinan. Keadaan rumah seperti ini rawan memunculkan perilaku menyimpang seperti incest, khususnya orang dewasa – seperti ayah atau kakak lelaki – pada anak perempuan atau adik perempuan.

Benar, pemerintah mengatakan jumlah pemilik rekening dengan nominal di atas dua miliar bertambah, tapi apakah itu serta merta mengentaskan kemiskinan? Tidak. Yang ada gap antara kalangan kaya dan proletar semakin curam dan dalam.

Berikutnya, apakah pemerintah sudah mendidik keluarga di Indonesia agar saling menjaga kerukunan, ketertiban, dan keamanan bersama? Termasuk agar mereka mewaspadai kejahatan pada anak? Rasanya belum. Beberapa kali saya berdialog dengan warga perkampungan mereka rata-rata bukan orang yang well-informed. Tidak paham situasi.  Mereka tidak tahu bahwa bisa jadi tetangga sebelahnya atau mungkin kerabatnya adalah predator anak.

Jangan tanyakan juga pada mereka apakah mewaspadai anak-anaknya ketika menggunakan media sosial. Orang tua di perkampungan dan pinggiran kota memang punya handphone canggih, tapi mayoritas bukan pengguna media sosial seperti generasi anak-anak mereka. Para orang tua itu tidak tahu dengan siapa anak-anaknya di media sosial berkawan, karena mereka memang tidak punya. Apakah pemerintah mengedukasi orang tua seperti ini untuk aware dengan lingkungan  media sosial?

Next, bagaimana dengan pornografi? Kita mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Kemeninfo dengan menutup ribuan situs porno, dan kita berharap agar kinerja ini terus ditingkatkan. Hanya saja kerja Kemeninfota tak ada artinya bila tidak didukung semua elemen. Bagaimana dengan Kemendiknas? Adakah edukasi pada para siswa akan bahaya pornografi? Bagaimana dengan Polri, razia film porno, dangdutan erotis, tari striptis, atau semi striptis di klab-klab malam, adakah?

Bangsa ini sudah masuk pada cengkraman porn-addict. Pornografi meruyak di mana-mana, juga pornoaksi. Lihat saja di pameran-pameran otomotif para SPG menggunakan busana erotis untuk merayu konsumen agar datang ke stand mereka dan membeli produk mereka.

Bagaimana juga pengawasan pada pergaulan remaja Indonesia? Jangan malah menyalahkan anak-anak rohis yang dituding sebagai bibit teroris, tapi lihat dengan dua mata banyak anak muda kita sudah akrab dengan film porno, alat kontrasepsi, dan pacaran bukan sekedar jalan-jalan tapi bisa sampai tingkat petting bahkan intercourse.

Orang tua di negeri ini sudah kebingungan bagaimana melindungi anak-anak mereka, karena yang punya power besar untuk melindungi rakyat adalah negara. Tapi ironinya kita melihat negara seperti powerless untuk melindungi rakyatnya sendiri. Bahkan ketika banyak orang meributkan LGBT, rakyat mendengar sendiri seorang menteri yang dekat dengan presiden justru mengajak masyarakat untuk memaklumi kehadiran LGBT. Apa nanti kita diminta juga memaklumi kaum pedofil, pak?

Saya percaya ini akibat sekulerisme dan liberalisme yang sudah berurat berakar di negeri ini. Itu yang harus dicabut dari akar. Dua virus itu membuat negara, pejabat dan rakyat cuek dengan bahaya yang ditimbulkannya. Persis seperti pecandu heroin yang keasyikan tenggelam dalam buaian mabuk candu, tidak sadar tubuhnya dan jiwanya digerogoti dan dihancurkan. Sekulerisme memisahkan agama dari kesadaran rakyat, liberalisme membuat orang menjadi liberal, dan demokrasi mengesahkan aturan apa saja untuk mendukung kebebasan dan tindakan menjauhkan agama dari otak kita. Herannya masih banyak orang, termasuk parpol Islam percaya kalau demokrasi adalah jalan keselamatan.

Selama ini masih berjalan, selama itu pula predator anak akan bergentayangan dan terus bertambah, dan anak-anak Indonesia terus jadi sasaran empuk kebejatan moral mereka. Ironinya kita seperti tak belajar bahwa preventif itu jauh lebih efektif ketimbang hanya kuratif. Mau sampai kapan kita terus begini?

Incoming search terms:

  • terbongkarnya jaringan predator anak

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *